16 Agustus 1945

OPA JAPPY

 

Tulisan sebelumnya, “Hari ini 15 Agustus 1945,” dengan dua alinea di bawah ini

…. mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang. Entah sampai jam berapa, dialog marah itu terjadi, dialog yang hampir-hampir memerdekakan RI, dialog antar para pemuda, yang kini, hari ini, di sini, kita sebut sebagai para National Building.

Agaknya, kehangatan kata dan kata-kata, malam itu, merambah juga ke diri – tubuh Bung Karno;  ia mengalami demam, panas, meriang. 15 Agustus 1945, diawali dengan tenang, sunyi, senyap; dilanjutkan dengan malam dialog yang panas, marah dan tanpa marah; dan kemudian teduh, semangat membara dan hangat; kehangatan yang tertampung pada tubuh Soekarno, sehingga ia menjadi demam.

Selanjutnya,

Ketika Bung Karno tertidur kelelahan dan akibat demam; para pemuda, mereka yang lebih yunior dari Bung Karno (sekedar segarkan ingatan, bahwa ketika itu, Soekarno – Hatta, dan mereka yang disebut golongan tua, berumur rata-rata di atas 40 tahun; cf, ketika Soekarno menjadi Presiden, ia berumur 42 tahu); menyusun rencana yang radikal dan dramatis.

Tepat 04:00 WIB, jam-H, 16 Agustus 1945, terpaksa Soekarno dan Hatta diambil dan diboyong ke wilayah pinggiran Jakarta, yaitu Rengasdengklok; Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda; Ibu Fat dan Guntur, juga termasuk yang diboyong. Semuanya sesuai dengan rencana. Rencana para pemuda pada saat itu, adalah jika terpaksa, maka di tempat itulah Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI.

Harapan para pemuda tersebut, ternyata salah; mereka salah menduga; justru Bung Karno sangat marah terhadap tindakan penculikan tersebut; ia bahkan kecewa karena para pemuda malah bertindak atas nama semangat patriotik, namun tak punya perhitungan serta tidak mau mendengar pertimbangan dari kelompok tua.

Sepanjang hari di Rengasdengklok, Soekarno benar-benar dalam tekanan para pemuda agar hari itu, hari ini, sekarang, dan di tempat itu, dan sekarang Soekarno dan Hatta melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang; tanpa pengaruh apa pun dari dan oleh Jepang. Agaknya, Soekarno – Hatta, keduanya mempunyai ketegaran hati dan keteguhan pendirian, sehingga, tidak mengiyakan permintaan serta tekanan para pemuda.

Mari kita merenungkan dialog patriotik antara para pemuda patriot dan Bung Karno. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas.

Seorang pemuda berkata kepada Bung Karno, “Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami  memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”

“Lalu apa?” teriak Bung Karno sambil  beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara. Waktu suasana tenang kembali.

Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara, “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17”

“Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau  tanggal 16?” tanya Sukarni.

“Saya seorang yang percaya pada mistik, … saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita.

Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,”

===

Agaknya, keteguhan dan ketegaran hati, kewibawaan serta kharisma Soekarno – Hatta, meluluhkan dan meneduhkan nyala api semangat yang bercampur ketidak perhitungan; para pemuda tidak gagal rencana dan tak mampu melawan Bung Karno, namun mereka plan besar yang ada pada hati Bung Karno.

Saat itu juga, banyak orang (termasuk Ibu Fat) baru tahu dan menyadari, bahwa Bung Karno, sudah mempunyai rencana bahwa Indonesia akan merdeka 17 Agustus 1945. Rencana yang tersimpan dalam hati, terpaksa keluar di hadapan para pemuda.

Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk  menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00.  Akhirnya, para pemuda penculik – para penculik Soekarno-Hatta itu, bersedia melepaskan Soekarno – Hatta agar kembali ke Jakarta.

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1. Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi  Kemerdekaan.

[Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu, maka  berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo. Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebi jakan  itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan].

Tentu saja, kata-kata tersebut merupaka halangan dan larangan, atau bahkan suatu bentuk pelarangan serta peringatan agar Soekarno-Hatta jangan macam-macam. Sehingga bagi Bung Karno, tak perlu lagi membahas proklamasi kemerdekaan dengan Sang Pelindung Asia; karena tak ada manfaatnya.

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda.

Di rumah Lakasmana Bala Tentara Jepang itu, teks proklamasi kemerdekaan, dirumuskan; dirumuskan oleh para pemuda pejuang dan patriot pada masa itu.  Secarik kertas bersejarah, yang berisi satu dua kalimat, namun disusun, dibahas, didiskusikan oleh banyak orang, antara lain, (Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah) menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi, […  tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu …] menanti dengan penuh harapan serta pengharapan, dan bahkan kepastian

Itu, … adalah sepenggal proses peristiwa yang telah terjadi, yang kini menjadi sejarah; sejarah yang tak pernah terulang ..

Proses patriotik, semangat, kebersamaan, kesatuan, menuju Indonesia yang merdeka dan bebas dari cengkeraman asing. Masih adakah kita, yang mengingatnya!?

OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

1,449 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa