90 Menit Bersama Pria Cantik

Ocha
Ini adalah pengalaman yang saya tulisan pada 11 Agustus 2012 17:20:51; ketika itu belum ada heboh tentang LGBT.
Ini pengalaman, ketika boarding, ada ibu-ibu manis; di depan ku, (dari tampilan punggung) terlihat sebagai perempuan muda dan cantik. Setelah boarding, ku menuju gate ruang tunggu; dan melupakan si punggung manis tadi.
Tak di sangka, ketika telah ada dalam cabin Boeing 747, ternyata saya bersebelahan persis dengan si manis tadi. Ia tampak, jaim, anggun, putih bersih, dan licin klimis. Ketika, sudah normal di udara, dan ketika sabuk pengaman dibuka, si manis perkenalkan diri sebagai Ocha.
Saat itu, suprise, ternyata Ocha adalah laki-laki; lulusan PT N di Jakarta. Wawasan luas, smart dan bersahabat. Setelah beberapa saat basa-basi breaking ice; Ocha dan diri ku masuk ke dalam percakapan yang menarik. Ku rekam semuanya dalam hati; dan memang menjadi kisah tersendiri; kisah yang hampir sama dengan cerita-cerita serta curhat (seperti yang pernah ku dapat dari Ocha-ocha yang lain) sebelumnya.

Ocha, menjadi dirinya sekarang, bukan karena bergaul – pengaruh – mode dan model, namun sejak terlahir; sejak ia menyadari diri bahwa sebetulnya terjebak dalam dalam tubuh yang salah, tubuh laki-laki. Ketika itu, ia ada di SMA

Tetapi, karena keras didikan papi, kata Ocha, ia hanya sembunyi-sembunyi memperlakukan diri sebagai feminim yang terjebak dalam daging – tulang – kulit laki-laki. Ia bisa mempecantik diri, jika di luar rumah; bisa tampil feminim, jika jauh dari jangkauan papinya; dan bisa banyak hal, jika semakin ada jarak dengan papi-mami-adik.

Sehingga, ketika kuliah, pindah dari Bandung, ke Jakarta; dan di situ pula, Ocha semakin menemukan dunia serta komunitasnya. Kuliah, membangun diri, meneruskan hobby, membangun pergaulan, dan lain sebagainya. Ku bertanya, tentang kekasihnya; tanpa malu, ia mengakui dengan bahas Inggris yang bagus, “… ya ada, ini mau ke sana”, sambil menyebut kota yang juga ku tuju.

Ku lanjutkan dengan percakapan mengenai spritualitasnya; Ocha mengaku lagi puasa, dan taat jalani yang seharusnya dilakukan oleh umat beragama yang taat. Ku menyinggung tentang jalan hidupnya, yang menurut banyak orang itu salah, dosa, neraka, dan lainnya. Ocha cuma menjawab, “… jika itu, Allah yang menilai, bukan manusia; … toh Ocha khan kaga pernah buat sakit hati orang lain; tak musuhi orang; tak iri, dan lainnya, … .”

Ocha juga bercerita tentang rindunya pada papi-mami-adiknya; sehingga kadang jika sendiri, ia harus menangis penuh rindu. Namun, apa daya, dirinya belum bisa diterima oleh mereka. Ia masih dianggap menyimpang dari yang seharusnya.

Ocha juga bercerita tentang hampir-hampir menjadi sasaran amukan orang, ketika mau ikut mendengar cerita Irshad Manji, beberapa waktu yang lalu. Dan sampai kini, Ocha masih tetap berada dalam uapaya membangun diri; serta obsesinya cuma sederhana yaitu, ketika pulang ke rumah, papi-mami-dan adiknya, menyambut dengan pelukan. Di sini, Ocha diam, dan airmatanya tertumpah. Dan terasa, pesawat telah landing; kami berpisah, dan berpisah.

Ketika ku berjalan menuju ruang kedatangan; tak terasa, ku mengingat bahwa baru saja, ku berada dalam suatu fragmen – fragmentasi kehidupan.
Fragmen, yang bisa menjadi kenangan, namun untuk bertemu dengan sikon seperti itu, hanya kecil kemungkinan.
Itulah hidup dan kehidupan Ocha; mungkin saja di sekitar kita ada Och-ocha yang lain; mereka ta’ salah diri; mereka pun tak mau menjadi seperti itu, bukan karena kemauan diri, namun garis nasib telah menggariskannya.
Sampai ketemu Ocha.

Entah, kamu ada di mana!?
Jika sempat membaca, maka ingalah, ketika kita dudk bersama di Kabin Garuda, dan turun di Polonia Medan
OPA JAPPY | +62818121642
556c86750423bdff798b4569

719 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa