Aanies Baswedan, “Tips Agar Anak Terhindar dari Kejahatan”

Peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan keji terhadap Yuyun, siswi SMP di Bengkulu, sekaligus menjadi pelajaran mahal bagi publik tentang keselamatan anak-anak di dalam maupun luar sekolah. Yuyun menjadi korban, bukan karena membiarkan dirinya “agar layak” diperkosa; ia juga tak dalam kondisi hura-hura, melainkan pulang sekolah dan dengan seragam sekolah. Para pelaku perkosaan terhadap Yuyun, memang masih terbilang remaja, tetapi perilaku mereka sudah melewati perilaku kejahatan yang dilakukan orang dewasa.

Kasus yang dialami Yuyun, hanya lah satu dari sekian banyal peristiwa sejenis; korbannya terutama perempuan. Catatan Komnas Perempuan. Setiap hari ada 35 kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama pada anak-anak atau perempuan di bawah umur.

Oleh sebab itu, Mendikbud Anies Baswedan mengajak setiap warga negara untuk terlibat dalam menjaga keamanan siswa dalam lintasan mereka berangkat dan pulang sekolah. Menurut Anies Bawesdan, 5 Mei 2016, di Jakarta,

“Orang dewasa harus ikut memperhatikan keselamatan dan keamanan anak-anak. Jika terlihat ada kondisi dan situasi membahayakan maka jangan diam dan mendiamkan. Sapalah anak-anak dan ajak mereka untuk berada dalam kondisi aman dan selamat.

Sekalipun keamanan secara konstitusional adalah tanggung jawab aparatur keamanan tetapi secara moral tanggung jawab kita bersama. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas orang dewasa untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak untuk menghindari kejahatan.

Kemendikbud membagikan panduan bagi orang tua dan guru tentang bagaimana mendidik anak menghindari kejahatan. “

Dalam kerangka itu pula, Kemendikbud memberi beberapa langkah strategis kepada semua pihak agar terhindar dari kejahatan. Langkah-langkah tersebut, antara lain:

Pastikan anak punya catatan tertulis identitas diri dan alamat rumah lengkap beserta nomor telepon darurat untuk dihubungi; (Bagaimaana dengan keluarga-keluarga di pedesaan dan dari keluarga sederhana, yang tak bisa beli HP !? Rekomendasi ini bagus, tapi hanya di kalangan tertentu; gitu lho Pak Menteri).

Ajari anak untuk berjalan dan bermain bersama teman, tidak sendirian. Biasakan mereka untuk peduli dan saling menjaga sesama teman.

Memperingatkan anak-anak untuk menghindari tempat berisiko, seperti bangunan dan jalan yang kosong atau ada gerombolan yang mencurigakan dan membuatnya tidak nyaman.

Pastikan anak menempuh jalur yang aman setiap pulang dan pergi ke sekolah. Berjalanlah bersama anak untuk memastikan rute yang aman dan titik-titik darurat tempat anak dapat mencari pertolongan bila merasa dalam bahaya atau ancaman. (Jika yang ini, di banyaa wilayah terpencil, jarak sekolah dengan rumah penduduk cukup jauh; dan sarana yang ada cuma jalan kaki, bahkan melewati jalan setapak yang sepi; di situ penjahat mengintai).

Ajak anak untuk waspada dan memperhatikan lingkungan sekitarnya serta memberitahu orang dewasa yang mereka percayai ketika melihat sesuatu yang ia rasa tidak beres atau membuatnya khawatir.

Ajari ia untuk waspada terhadap orang yang tidak ia kenal, berhati-hati terhadap pemberian hadiah dari orang tidak dikenal, serta tidak membiarkan orang tidak dikenal masuk ke rumah.

Ajari anak untuk bertanya dan meminta pertolongan pada polisi dan petugas keamanan ketika tersesat di jalan atau pusat keramaian.

Didik anak dengan contoh. Tunjukkan bahwa kita selalu waspada dan memastikan keamanan diri dan lingkungan kita, semisal dengan mengajak anak terbiasa mengunci seluruh pintu rumah di malam hari.

Bentuk kelompok pencegahan terorisme bersama antara guru, orangtua dan siswa di sekolah, serta bersama tetangga di lingkungan rumah. Diskusikan dan susun langkah-langkah menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman bagi semua anak.

Pastikan sekolah memiliki mekanisme pemeriksaan dan pelaporan kepada orang tua ketika siswa tidak sampai ke sekolah pada waktunya. (Komunikasi orang tua dan sekolah, bisa lancar di Perkotaan, namun di Luar Kota, kemungkinannya sangat kecil).

Pastikan komunikasi antara guru dan orang tua terjalin apabila ada tambahan kegiatan di sekolah dan di luar sekolah di luar waktu rutin

Biasakan memperhatikan tanda-tanda masalah dan kekerasan pada setiap anak, termasuk perubahan sikap seperti: tiba-tiba menjadi pendiam, kehilangan selera makan, enggan bersekolah, dll.

bagi orang tua, perhatikan juga tanda-tanda masalah dan kekerasan pada teman-teman anak kita. Laporkan dan berdiskusi dengan pihak pihak yang dapat membantu.

Ciptakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan untuk mengajar dan melatih anak agar waspada terhadap kejahatan, menjaga dirinya sendiri dan peduli serta saling menjaga antarteman.

Prioritaskan keselamatan setiap anak di lingkungan kita. Laporkan potensi masalah di lingkungan yang dapat menjadi risiko bagi anak-anak. Jangan diamkan potensi masalah.

Datangi dan bantu ketika melihat ada anak yang berada di tempat berisiko, tersesat, kebingungan atau terlihat sedang bermasalah.

Langkah-langkah dari Kemendikbud, yang disampaikan oleh Anies Baswedan, tersebut, agaknya “bisa” dilakukan oleh orang tua dan guru di kota-kota besar atau kota. Namun bagaimana dengan mereka di kampung dan pedesaan!?

Banyak kasus kekerasan terhadap anak, terutama perkosaan, terjadi di wilayah yang relatif jauh dari perhatian publik dan aparat pemerintah. jadi, harus “patroli desa;” Warga Desa membentuk satuan jaga lingkungan, dalam rangka jaga lingkungan dari penjahat.

Mungkin ada saran lain !?

Opa Jappy | JNC

389 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa