Ahok | DPRD | Toilet | Maling, Jangan Disebut Malaikat

Ahok | DPRD | Toilet | Maling, Jangan Disebut Malaikat

 

Secara deskriptif, etika itu sesuatu yang sifatnya mutlak/absolut, tidak berubah, universal, dan tidak terikat oleh waktu. Sedangkan etiket sifatnya lokal, situasional, relatif, dan kontekstual.

Ini adalah bentuk paling ringkas dan sederhana mengenai perbedaan-perbedaan fundamental antara etika dan etiket.

Prinsip fundamental di atas menjadi sangat penting untuk ditonjolkan untuk tanggapi ribut-ribut angketnya para anggota DPRD terhadap Ahok, cukup memprihatinkan bila ditempatkan dalam kerangka di atas.

Apa yang mereka sebut sebagai “etika”-nya Ahok, yang tidak beres adalah cara bertutur dan sikap temperamental. Dan ini bukan etika melainkan etiket!

Sikap temperamenta Ahok, itu lebih kepada tipikal personality yang memang mau tidak mau harus dilihat sebagai bagian dari dia-(he himself)-nya Ahok.

Menurut say, “Kita tidak dapat mengubah atau mengharapkan Ahok menjadi pribadi yang lain dari dirinya sendiri hanya supaya cocok dengan kemauan kita.” Cara bertutur itu sesuatu yang pemaknaan penafsirannya sangat ditentukan oleh banyak faktor di sekitar konteksnya.

Karena ini berkait erat dengan bidang pemaknaan linguistik, dan juga demi menjaga keringkasan tulisan ini, maka saya [hanya] akan memperlihatkan hal ini dengan mengacu kepada teori speech-act dari filsuf J.L. Austin.

Dalam teori speech-act (tindak tutur) yang digagas oleh Austin, dibedakan tiga unsur sikap tutur:
1. Lokusi (locutinary act): tuturan aktual atau apa yang dikatakan.
2. Ilokusi (illocutionary act): sikap ketika bertutur, mis. memerintah, marah, menuduh, mengancam, bersumpah, bertanya, dsb.
3. Perlokusi (perlocutionary act): dampak yang diharapkan bagi audiens, mis. menggelikan, menakutkan, menimbulkan keraguan, meyakinkan, menjengkelkan, tertipu, dsb.

Dari ketiga unsur speech-act di atas, yang sangat menentukan pemaknaan adalah ilokusi dan perlokusi.

Kembali ke “bahasa toilet”-nya Ahok. Contoh dari kata maling dan bangsat yang digunakan oleh Ahok.

Jelas bahwa ilokusi dari kedua kata ini adalah luapan kemarahan yang mengandung unsur cacian.

Tetapi bagaimana dengan perlokusi-nya?

Untuk membedah perlokusinya, pertama-tam, harus bertanya tentang apa yang diharapkan Ahok untuk ditangkap oleh audiens dengan menggunakan “bahasa toilet” tersebut?

Berapa hal berikut sesuai dengan konteks kisruh Ahok vs DPRD:

Kemarahan atas kejahatan korupsi (bedakan ini dari sebuah tuduhan!).

Ahok mengasumsikan bahwa korupsi itu sesuatu yang sangat jahat namun terjadi begitu luas di Negara ini dan itu membuatnya sangat geram.

Menanamkan semacam alarm “SOS” di benak audiens bahwa tidak lagi boleh bersikap biasa saja terhadap korupsi.

Ketawa-ketiwi terhadap para koruptor, bermanis-manis ria dengan mereka, dsb.

Para koruptor harus melihat kemarahan yang besar dari publik terhadap kejahatan luar biasa itu (extraordinary crime).

Anda bisa menambahkan poin lainnya, namun saya ingin menggarisbawahi bahwa “bahasa toilet” di atas terkombinasi dengan tipikal personality Ahok yang memang temperamental.

Pertanyaan berikut soal perlokusi adalah efek apa yang tertangkap di benak audiens atas penggunaan “bahasa toilet” tersebut?

Bervariasi!

Ada yang tersinggung; ada yang resistensif atas nama sopan santun; ada yang biasa saja; ada yang justru melihat itu memang harus begitu khususnya jika itu menyangkut para koruptor.

Secara pribadi, saya ada di golongan yang terakhir ini, entah bagaimana dengan Anda sendiri.

Poinnya adalah para anggota DPRD dengan jurus angketnya itu sebenarnya melakukan pereduksian tafsiran perlokusif seakan-akan “bahasa toilet”-nya Ahok itu bermakna univokal.
Dan mereka mengabsolutkan pemaknaan itu dan menerjemahkannya dalam bentuk hak angket.

Padahal pada wilayah etiket, pemaknaan akan cara bertutur dan sikap itu sesuatu yang variatif, bergantung atas: kultur lokal, personalitas, tingkat pendidikan, dsb.

Memaknai “bahasa toilet”-nya Ahok dengan melepaskan perlokusinya dari konteks keprihatian dan kegeramannya terhadap korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa, akan mendapati sebuah gambaran mengenai Ahok yang bukan Ahok.

Anda hanya mendapatkan “Ahok-ahokan”!

Meski begitu, di samping kritik terhadap para anggota DPRD, juga perlu mengingatkan Ahok, bahwa, “Perhatian yang sangat luar biasa baik terhadap bahaya korupsi tidak boleh meniadakan diri dari sensitivitas terhadap kultur lokal.”

Seorang pemimpin, sudah sepatutnya memiliki sensitivitas ini sehingga ia tidak menimbulkan gejolak perlawanan yang seharusnya tidak perlu ada.

Bangsa ini memiliki sensitivitas sopan santun yang sangat luar biasa sehingga bahkan harus sangat sopan terhadap kejahatan luar biasa bernama korupsi.

Sekali Anda tidak sopan terhadap korupsi, mereka akan melupakan korupsinya dan mengejar sopan santun Anda.

Ahok harus paha. Kita sekalian pun harus paham sensitivitas yang over di atas supaya bisa saling memahami.

Saatnya ku akhiri dengan, “Kalau Anda maling, mengapa saya harus bilang Anda Malaikat.”

Duo Neme Lote
Nararya | Opa Jappy

62,132 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa