Airmata Kesedihan di Ramadhan dan Mensyukuri Keindonesiaan pada 1 Syawal 1437 H

JAKARTA/JNC – Situs Al Arabiya mempublish artikel Has Ramadan 2016 been one of the bloodliest in moderen history? (Ramadhan 2016 salah satu yang paling berdarah dalam sejarah moderen?) oleh Sigurd Neubauer dari The Arab Gulf State Institute di Washington Amerika Serikat.

Melalui artikel Ramadhan 2016 Salah Satu yang Paling Berdarah dalam Sejarah Moderen? Simak penuturan Sigurd Neubauer.

Selama bulan Ramadhan justru terjadi serangan teroris di banyak negara; letusan senjata dan ledakan bom terus terjadi di negara-negara konflik, seperti di Irak dan Suriah.

Selain itu, ada sejumlah serangan Bom bunuh diri di berbagai tempat, antara lain,

4 Juni 2016, Serangan Bom di Perbatasan Jordania dengan Suriah, 7 anggota militer tewas.

12 Juni 2016, Serangan terhada Klab Malam Gay di Orlando, Amerika Serikat, 49 orang tewas.

14 Juni 2016, komandan polisi di Prancis dibunuh

27 Juni 2016, serangan bom bunuh diri di beberapa tempat di kota dengan penduduk mayoritas Kristen, Qaa, Lebanon, 5 orang tewas.

28 Juni 2016, Serangan bom di bandar udara Ataturk, Istanbul, Turki, 49 orang tewas.

1 Juli 2016, Serangan di Dhaka, Bangladesh, 28 orang tewas

Serangan di Baghdad, Irak, lebih dari 200 orang tewas.

4 Juli 2016, Serangan di Qatif, Madinah, Jeddah Arab Saudi, 3 orang pelaku tewas.

5 Juli 2016, Bom bunuh diri di Solo, 1 orang tewas.

Serangan-serangan dan BBD sangat jelas mencerminkan akar radikalisme sektarian atau muncul dari ajaran radikal dan fundamental, serta pemahaman teks Quran yang parsial.

Serangan-serangan itu sebagian diklaim oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NNIS atau ISIS) dan juga kelompok radikal setempat, serta yang lain belum jelas siapa pelakunya dan dari kelompok mana.

Dari semua serangan tersebut, yang paling membuat kaget dan tak terduga adalah sekitar 500 meter dari wilayah paling disucikan oleh umat Muslim, masjid Nabawi di Madinah.

Serangan dekat Masjid Nabawi juga menjadikan Mufti Besar Mesir, Shawki Ibrahim, bereaksi sangat keras. Menurutnya, “Pemimpin agama yang menganjurkan radikalisme sebagai tidak layak disebut sebagai ulama Islam. Sumber radikalisme justru pada lingkaran pemimpin agama.”

Sejumlah serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyatakan diri Islam, justru ditolak oleh para ulama Muslim di seluruh dunia. Para ulama kuga menolak “model Khilafah Islam” ala Abubakr Al Baghdadi; yang kini disebut sebagai pengambil keputusan hukuman mati nomer satu di planet Bumi.

Pernyataan Shawki Ibrahim mencerminkan bahwa masalah yang paling mendasar adalah masih banyak pemimpin agama menanamkan benih radikalisme di kalangan anak muda.

Penghasutan di Indonesia
Kasus di Indonesia, radikalisme dalam aksi yang mematikan, maupun aksi yang menyerang secara sosial dalam tindakan intoleransi pada kelompok penganut keyakinan lain, juga masih bersumber pada leluasanya para penghasut tersebut.

Sejauh ini, baik di beberapa negara maupun di Indonesia, masalah terorisme terus merundung keamanan masyarakat, karena pemerintah dan hukum belum menjangkau para penghasut ini.

Keleluasaan para penghasut ini yang membuat benih kebencian tumbuh menjadi tindakan intolerasi, dan kemudian menjadi ledakan tindakan yang mematikan. Namun tindakan hanya dilakukan ketika radikalisme diekspresikan dalam tindakan mematikan.

Hasutan yang diduga terkait serangan terpisah di berbagai negara diduga bersumber dari juru bicara ISIS, Abu Muhammad Al-Adnani, “Ramadhan sebagai bulan penaklukan dan jihad, dan menjadikannya bencana di mana-mana.”

Sungguh, suatu seruan hasutan yang penuh kebencian, serta menyebar serta tersebar ke mana-mana. Hasuatan itu, dengan mudah dibiarkan disampaikan dan ditanamkan oleh penghasut lokal. Para penghasut ini yang disebut-sebut gigih menyebarkan glorifikasi atas serangan mematikan yang justru dikutuk di seluruh dunia. Oleh karena itu, menjangkau dengan tegas para penghasut ini menjadi titik masuk penting melawan terorisme.

Mensyukuri Keindonesiaan.
Mencatat serangan-serangan mematikan di sejumlah negara, yang membuat bulan Ramadhan bersimbah darah, berlinang air mata dan kedukaan, situasi di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, patut disyukuri.

Ledakan di Solo, diharapkan tidak mengurangi rasa syukur pada bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tahun ini.

Satu bulan umat Muslim berpuasa, ibadah yang juga bermakna pengendalian diri, dan membangun relasi yang makin dekat dan makin baik dengan Allah, Sang Khalik. Juga membangun relasi dengan sesama yang ditandai antara lain dengan berzakat bagi yang kurang mampu. Spirit ini juga tercermin pada antusiasme mengunjungi keluarga, sekalipun di tempat yang jauh.

Situasi ini patut disyukuri karena keindonesiaan yang dilandasi tata kehidupan berbangsa dan bernegara yang equal dan didominasi sikap saling menghargai bagi seluruh warga. Landasan ini dan implementasinya merupakan titik perbedaan dibanding negara-negara yang dirundung konflik sektarian yang kronis dan mematikan.

Namun, di balik itu, sikon Ramadhan di Indonesia patut disyukuri, bahkan bukan hanya oleh umat Muslim, tetapi oleh seluruh warga bangsa.

Rabu, 6 Juli 2016 seluruh umat Muslim Indonesia akan mengikuti shalat Ied. Kita berharap situasi ini tidak dinodai oleh kekejian seperti sederetan serangan teror itu.

Ramadhan tahun ini, secara global mungkin bisa disebut paling berdarah dalam sejarah moderen, namun bagi bangsa Indonesia termasuk yang paling aman.

Maka hikmah terbesar dari Ramadhan adalah bagaimana menciptakan setiap momen religi menjadi rahmatan lil alamin.

Menanamkan perilaku saling menghargai dan saling menolong di antara warga bangsa, dengan tidak memberi ruang tumbuh benih kebencian dan radikalisme atas dasar keyakinan, ras dan golongan.

Selamat merayakan Idul Fitri 1437 Hijriah semoga meraih fitrah sebagai manusia yang mulia di hadapan Allah, Sang Khalik, dan mulia bagi sesama.

Satu Harapan
Editor: Opa Jappy – Jakarta News

854 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa