Akrobat Politik Murahan Demi Menjegal Ahok

Basuki Tjahaja Purnama (sumber: Teman Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama (sumber: Teman Ahok)

INI tentang kabar tak sedap dibaca dan tidak perlu. Di sebuah café yang menyediakan menu cukup mahal, bak para pembela kebenaran dalam film-film kartun, lima orang maju memasang dada di hadapan puluhan pewarta kelas nasional.

Tindakan itu konon dilakukan karena dorongan hati nurani demi kebenaran dan keadilan. Semata untuk membela kepentingan publik yang katanya telah dibohongi.

Lima sosok pahlawan kita adalah Richard Sukarno, Paulus Romindo, Khusnul Nurul, Dodi Hendaryadi, dan Dela Novianti. Bertempat di Kafe Dua Nyonya, Cikini, Jakarta, Rabu, 22 Juni 2016, mereka blak-blakan membuka keborokan Teman Ahok. Konon, Teman Ahok melakukan tindakan manipulatif, alias cara curang dalam mengumpulkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) maju pemilihan Gubernur DKI Jakarta via jalur perseorangan.

Sikap mulia itu bisa kita baca dari pernyataan Richard Sukarno, seorang pecatan Teman Ahok, dalam pernyataan pers. “Kami bukan sakit hati, tapi makin hari pembohongan makin muncul. Saya terpanggil karena masyarakat disuguhi politik kebohongan,” ujar Richard.

Pernyataan Richard dan teman-temannya seolah-olah murni untuk kepentingan publik. Andai kata-kata mereka bisa dikecap, pasti rasanya sepahit empedu. Apalagi pengakuan para mantan Teman Ahok ini konon kabarnya sudah “dijanjikan” seorang politisi ulung empat belas jam sebelumnya melalui sebuah acara televisi.

Tampaknya dan diyakini pengakuan eks Teman Ahok akan menjadi bom berdaya ledak nuklir yang bisa memorak-porandakan langkah Ahok menuju kursi DKI 1. Sebuah serangan maut dari sisi luar dan diyakini bakal menghancurkan Ahok sekaligus.

Jumpa pers bertajuk “Pengakuan Relawan Ahok” tampak lezat, terutama bagi pewarta dari media massa yang tak sejalan dengan Ahok. Pengakuan lugu itu bak durian runtuh lantaran bersambungan dengan informasi adanya aliran dana Rp 30 miliar dari pengembang ke Teman Ahok. Tak ayal langsung disambar dan diberitakan selagi hangat kepada khalayak.

Isu ini tentu sangat bergizi dan menyehatkan bagi Ahok haters. Apakah ada iktikad buruk di balik pemberitaan? Entahlah, karena isi hati lebih dalam dari lautan.

Dari pengakuan mereka sudah jelas bahwa tindakan manipulatif itu bermotif uang. Jika pernah melakukan manipulasi demi uang, maka jangan salahkan bila kita mencurigai kesaksian itu pun bermotif sama. Siapa percaya tak ada fulus dan kepentingan politik sempit di balik ini semua?

Terbukti. Tak berselang lama, ketahuan “durian runtuh” itu isinya busuk. Ini menyusul klarifikasi relawan Teman Ahok (asli) bahwa orang-orang yang ngakunya ‘insyaf’ itu sudah dipecat karena ketahuan melakukan manipulasi. Ada yang sudah dipecat sejak Februari 2016 karena ketahuan curang dan lainnya baru dipecat setelah melakukan jumpa pers.

Niatnya menghancurkan Ahok melalui Teman Ahok, ternyata kesaksian culun eks Teman Ahok justru mendiskreditkan diri sendiri. Ini seperti maling ngaku setelah dijanjikan iming-iming. Atau jangan-jangan malah sudah dapat sangu.

Para pecatan Teman Ahok mestinya berterima kasih kepada Teman Ahok (asli) yang rupanya masih memiliki rasa kasihan terhadap mereka. Seperti kata juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas, tiga dari lima orang yang menggelar konferensi pers soal dugaan manipulasi KTP itu sudah dipecat karena ketahuan melakukan manipulasi.

“Kalau kami jahat, KTP palsu itu bisa kami buka. Kalau mereka (warga) menuntut (PJ) gimana? Kasihan juga.”

Nah, bagi politisi atau siapapun yang berdiri di belakang eks Teman Ahok, saran saya, mulailah berpolitik secara elegan, bukan lempar batu sembunyi tangan seperti pengecut. Jika Anda mengaku diri politisi, tunjukkan bahwa Anda sejajar dengan Ahok. Jangan pakai akrobat politik murahan dengan mengabaikan prinsip-prinsip moral.

Berpolitiklah secara terhormat jika niat Anda berpolitik untuk membela hak-hak publik. Tetapi jika hari ini motif Anda sudah berubah – berpolitik untuk kepentingan kroni dan perut Anda sendiri – maka teruskan praktik busuk berpolitik ala maling. (*)

917 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button