Aksi Pembom Bunuh Diri, Gangguan Mental dan Cuci Otak


AKSI BOM BUNUH DIRI KAMPUNG MELAYU, GANGGUAN MENTAL, DAN CUCI OTAK

Kapolri Jendral Tito: Para pelaku teror bom bunuh diri Kampung Melayu, Rabu malam, 24 Mei 2017, mengalami problem psikologis. Sudah terkuak, dua pelakunya berasal dari dari jaringan radikalis takfiri Jemaah Ansharut Daulah atau JAD, yang berafiliasi dengan ISIS.

Masalah mengapa orang jadi teroris, bukan pendidikan dan pekerjaan (kategori kaya atau miskin, tidak menjadi faktor penentu; begitu juga tingkat pendidikan), tapi psikologi. Tegas Tito, “Psychology is a matter.”

Orang yang jiwanya tidak tegar, lemah, rapuh dan submisif, paling mudah direkrut jadi teroris. Sebaliknya, orang yang cerewet, terus kritis bertanya balik, penuh selidik, tidak mau tunduk pada kemauan si pencuci otak, ditinggalkan oleh si perekrut.

Baca lebih lanjut di
http://nasional.kompas.com/read/2017/05/27/08392221/kapolri.sebutkan.ciri-ciri.orang.yang.berpotensi.jadi.teroris.

Neurosaintis dari Universitas Oxford, Kathleen Taylor, sekian waktu lampau, telah menyatakan bahwa para ekstrimis religius yang beranekaragam jenis itu “dapat diperlakukan sebagai orang yang sedang mengalami gangguan mental.”

Lewat indoktrinasi intensif dan kegiatan cuci otak atau “brainwashing” yang menggunakan tekanan psikis dan tipu daya, serta janji-janji pembebasan dari penderitaan dan tirani dan kemiskinan, orang-orang yang rentan semacam itu mudah sekali direkrut jadi teroris dalam berbagai gerakan dan aksi.

Indoktrinasi yang masif dan intensif, yang dilakukan dengan segala cara yang tidak membuka peluang apapun untuk orang bertanya, meragukan dan menolak, akan mengubah total isi dan cara kerja otak para korban, selanjutnya juga bermuara pada perubahan drastis watak dan perilaku. Inilah yang dinamakan cuci otak atau “brainwashing”.

Para neurosaintis dan psikolog sosial sudah lama mempelajari cuci otak sebagai sebuah kegiatan propaganda yang berbahaya dan keji, yang merampas dan mematikan kebebasan dan hak setiap orang untuk menentukan jalan kehidupan dan isi pikiran mereka sendiri.

Kathleen Taylor dikenal khususnya lewat bukunya yang berjudul Brainwashing: The Science of Thought Control. Perhatikan pernyataannya berikut ini tentang brainwashing.

“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu.

Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia.

Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.”

Taylor lebih jauh menandaskan bahwa “kita semua mengubah dan mengganti kepercayaan-kepercayaan kita. Kita semua saling membujuk dan saling meyakinkan bahwa kita harus melakukan itu dan ini. Kita semua setiap hari menyaksikan dan mendengar iklan-iklan. Kita semua dididik dan mengalami berbagai pengalaman keagamaan. Cuci otak, jika anda tak berkeberatan, adalah tujuan ekstrim dari semua itu. Cuci otak adalah sejenis penyiksaan psikologis yang dijalankan dengan keras dan di bawah tekanan pemaksa. Otak kita bisa digunakan untuk, pada satu pihak, mengangkat dan memajukan harkat dan martabat kemanusiaan kita; tapi pada lain pihak, untuk keperluan yang sewenang-wenang dan berbahaya.”

Fenomena cuci otak pada mulanya terpantau dalam diri para tawanan perang, “Prisoners of Wars”, atau POWs, yang dalam jangka waktu cukup lama telah mendekam dalam ruang-ruang penyiksaan pihak negara penawan. Setelah terjadi gencatan senjata atau lewat jalur diplomasi yang melibatkan pihak ketiga, para POWs ini dikembalikan ke negara asal mereka.

Yang sangat mengagetkan adalah ketika ditemukan fakta bahwa POWs ini sudah berubah pikiran dengan drastis dan radikal: mereka didapati malah membela habis-habisan negara-negara yang telah menawan mereka dan ganti memegang mati-matian ideologi dan sistem nilai negara-negara musuh yang semula mereka perangi sebagai pasukan yang ditugaskan ke sana. Mereka malah memusuhi negeri mereka sendiri, yang kini sedang mereka diami kembali. Cuci otak selama masa ditawan, mengubah total diri dan isi otak para tawanan perang. Mengerikan, memang!

Lihat selanjutnya Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006), hlm. ix-x.

Baca juga
http://m.huffpost.com/us/news/Kathleen%20Taylor%20Religious%20Fundamentalism

Tapi saya mau tambahkan suatu temuan mutakhir neurosains yang juga membantu kita dalam memahami para pelaku teror.

Sebetulnya, kemiskinan parah yang berlarut-larut–yang membuat siapapun mengalami stres dan depresi, juga berubah watak menjadi sangat sensitif dan agresif, dan menanggung beban mental yang sangat berat–membuat bagian pemroses emosi (dan memori jangka panjang) dalam otak yang dinamakan sistem limbik (mencakup amygdala, thalamus, hippokampus, hypothalamus, basal ganglia, dan cingulate gyrus) “overloaded”, kelebihan muatan.

Akibatnya, sistim limbik ini meneruskan beban neural yang berlebihan ini ke bagian otak yang ada di depannya, yakni lobus prafrontalis yang menjadi semacam CPU bagi kecerdasan dan aktivitas bernalar rasional.

Penerusan beban stres mental ini dari sistim limbik membuat lobus prafrontalis tidak leluasa dan lentur lagi bekerja; kondisi neural inilah yang menyebabkan orang yang hidup dalam kemiskinan jangka panjang kurang atau tidak mampu lagi berpikir cerdas, rasional dan kritis. Mereka tidak semua dilahirkan bodoh, tetapi kemiskinan parah jangka panjang menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka kurang berakal dan tak mampu berargumentasi rasional.

Alhasil, mereka menjadi rentan dan submisif terhadap indoktrinasi, cuci otak, janji-janji kehidupan baka yang terbebas dari penderitaan dan tirani yang dibayang-bayangkan, saat sedang direkrut menjadi para teroris.

Selanjutnya baca
https://www.theatlantic.com/education/archive/2017/04/can-brain-science-pull-families-out-of-poverty/523479

Jadi faktor utama yang menciptakan para teroris memang indoktrinasi dan brainwashing, yang prosesnya jauh lebih mudah dijalankan dan hasilnya cepat didapat oleh para perekrut jika dijalankan pada orang-orang yang berjiwa rapuh dan submisif pada janji-janji pembebasan sekaligus agresif. Kerapuhan dan kerentanan psikologis ini, serta sifat submisif dan agresif, tidak sedikit juga timbul dari kemiskinan jangka panjang yang tidak mau diatasi khususnya oleh mereka sendiri. Ya karena aktivitas lobus prafrontalis dalam otak mereka sudah sangat lemah, seandainya belum padam.

Mereka, sekali lagi saya tekankan, tidak dilahirkan bodoh, tetapi lingkungan kehidupan mereka yang keras dan miskin menjadikan mereka lambat laun tidak mampu berpikir rasional untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah mereka sendiri yang rumit dan multidimensional.

Dengan demikian, pihak-pihak luar dengan mudah mengintervensi kehidupan dan isi pikiran mereka untuk mencapai tujuan-tujuan yang membahayakan masyarakat dan dunia.

Silakan share. Tidak boleh di-copypaste. Thanks.

Jakarta, 27 Mei 2017

Ioanes Rakhmat
The weeping silence

Jakarta News

Image: brainwashing
www.patrickwanis.com

75,636 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa