Aku Saksi Hidup yang Bisu

Aku adalah saksi hidup yang bisu. Aku bisu sebab aku hanyalah benda mati tanpa nyawa, tempat manusia bernyawa menjadi tak bernyawa.

Aku adalah saksi hidup yang bisu dari setiap kengerian yang dihindari banyak orang ketika kata dosa tertuduh pada dirinya. Ya, aku diam seribu bahasa sementara dia yang terhukum menggeliat antara takut, cemas, pasrah, luka, sesal, duka dan rasa bersalah.

Aku adalah saksi hidup yang bisu dari kisah kejahatan yang dibalas dengan kejahatan.

Ya, aku adalah saksi hidup yang bisu dari kisah kecantikan dan keagungan yang tidak selalu berkuasa memenangkan kemarahan.

***

Awalnya, aku mengamat-ngamati seorang lelaki gagah yang sombong, aku benci sekali kepadanya. Pikirku, jahat sekali dia, sengaja berencana memakai tubuhku untuk membunuh orang yang tak bersalah. Hanya karena Mordekhai tidak menunduk menghormatinya, harga dirinya terganggu. Kekuasaan telah membutakan rasa dan raganya, sehingga kehormatan menjadi yang paling utama bagi dirinya. Dia mereka-reka yang jahat bagi Mordekhai, menjadikanku saksi bisu yang turut bersalah menggantung orang yang tak bersalah.

Namun, nasib berbalik. Si laki-laki sombonglah yang sekarang tergantung di tubuhku. Dia tak lagi bernyawa. Apakah aku mensyukurinya sebab dia memang layak untuk mati? Entah mengapa ragaku dan batinku berteriak saat dia menggeliat di tangan para algojo yang membawanya ke dekatku. Saat dia meronta-ronta minta dilepaskan, suaranya habis karena berteriak minta ampunan dari Sang Ratu; entah mengapa tubuhku bergetar. Andai saja, aku bisa berbicara atau bergerak; aku akan menolak melakukan eksekusi atas dirinya.

Aku saksi hidup tanpa raga, tapi punya hati untuk berbelas kasihan.

Aku mencium bau ketakutan pada diri laki-laki sombong itu ketika Sang Ratu meminta raja untuk menghukumnya. Aku merasakan getar rasa bersalah dari tubuhnya ketika dia sujud berkali-kali di depan Sang Ratu. Aku melihat laki-laki yang tanpa daya itu merengek minta tebusan nyawanya dari Sang Ratu. Dia memang penjahat karena keangguhannya, tapi tak layakkah dia mendapat kasih dan ampunan dari seorang ratu cantik jelita, yang berasal dari keturunan bangsa pilihan Allah?

Aku adalah saksi hidup tanpa suara, tapi batinku tak bisa diam melihat kekejaman bermain di sekitarku. Mengapa hati Sang Ratu tak secantik parasnya? Dia membalas kedegilan si lelaki sombong tak kalah garangnya. Aku mendengar Sang Ratu mereka-reka yang jahat pula atas diri si laki-laki sombong itu. Dia mengundang dengan manis laki-laki sombong itu bersama dengan Sang Raja. Undangan ratu membuat hati lelaki sombong ini semakin melambung. Dia pikir, kehormatannya semakin tinggi di hadapan keluarga kerajaan. Ternyata, Sang Ratu menipunya. Sengaja dia dihadapkan di depan raja dan diadukannya kejahatan si laki-laki kepada raja. Begitu liciknya Sang Ratu, memakai titah raja mahasakti untuk mengalahkan si lelaki malang itu, saat raja tergila-gila pada Sang Ratu.

Ah mengapa hati Sang Ratu bergeming. Padahal laki-laki itu sujud sungkur di depan kakinya. Berulang kali dia mengucapkan maaf, memohon ampun untuk semua kekejamannya kepada Mordekhai dan bangsanya.

Duh, Ratu… mengapa hati Ratu cantik jelita lebih keras dari batu es di Gunung Hermon? Tubuh Si Lelaki itu sudah tak lagi bisa menunjukkan keangkuhannya, tapi mengapa giliran Ratu dirasuki roh keangkuhan? Mengapakah Ratu tidak berbelaskasihan sedikit pun? Duh… Ratu… Mengapa Ratu yang elok parasnya tak memberi pengampunan sedikit pun? Takutkah Ratu apabila Si Lelaki sombong diampuni, nanti dia tetap pada rencananya membunuh paman dan bangsamu? Atau tak bisa padamkah kemarahan ratu dan bangsa Israel melihat musuhmu telah tersungkur kalah meratapi nasibnya? Atau jangan-jangan Sang Ratu adalah wujud dari homo homini lupus: manusia yang rela menerkam sesamanya ketika dia terluka amat hebat?

Aku adalah saksi hidup yang bisu dari kekejaman yang diciptakan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebabnya dunia ini tidak pernah damai. Pengampunan tetap menjadi ”barang” yang langka dan kadang dimuseumkan, ketika kemarahan, keterhinaan, keangkuhan mendapat tempat utama dalam diri manusia. Aku mengerti sakitnya luka sebab aku pun terluka setiap kali tubuhku dipotong dan dikelupas untuk kepentingan manusia. Selama ini, aku belajar untuk memulihkan lukaku ketika Tuhan berbisik kepadaku, ”Ampunilah, mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Saat aku menangisi dagingku dikoyak untuk manusia, Tuhanlah yang selalu membelaiku sambil berkata, ”Jadilah kuat. Jangan kalah oleh kebencian dan luka-lukamu.”

Lalu, mengapa manusia yang katanya paling berakhlak, paling bermoral karena katanya paling disayang Tuhan, menjadi pembenci sesamanya? Pantas seorang bijak yang pernah bersandar di tubuhku berkata, “Pengampunan membebaskan jiwa; dia mengusir ketakutan. Inilah mengapa pengampunan menjadi senjata yang paling ampuh” (Nelson Mandela). Sang Bijak berkisah, kata-katanya ini lahir dari pengalamannya yang menderita akibat kejahatan orang lain. Dia bebas dan menang saat dia mengampuni dan menjadikan lawannya sebagai kawan karibnya.

Andai Sang Ratu mengubah kemarahannya dengan memaafkan Si Lelaki sombong; ah… andai saja Sang Ratu mengalahkan rasa takutnya dengan mengampuni sang lelaki jahat hatinya… Ah andai Sang Ratu yang jelita menampilkan hatinya yang bebas dari kebencian… Sang Patu pasti menjadi ratu paling bijak seantero jagat raya… Sang Ratu menjadi pemenang sesungguhnya dari permusuhan dengan si lelaki sombong.

Sayang seribu kali sayang… Sang Ratu sama kalahnya dengan si lelaki yang tak bernyawa di tiang gantunganku. Sang Ratu kalah oleh kebencian, keangkuhan, dan rasa takutnya.

Andai aku dapat bersuara, aku akan katakan kepada ratu: “Wahai Ratu Ester yang cantik jelita, kesayangan raja Ahasyweros, ragamu hidup, tapi jiwamu dan kasihmu telah mati bersama Haman, tergantung di tubuhku ini.”

***

Aku adalah saksi hidup yang bisu.

Linna Gunawan |Satu Harapan


Jakarta News 55 001 12

55,326 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan