Basuki Tj Purnama, Sosok Sang Fenomenal

Basuki Tjahaja Purnama (sumber: Teman Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama | sumber: JNC

SOLO/JNC. Bagaimana menyapa seorang Ahok? Saya tinggal di Solo walaupun Ahok gubernur Jakarta dan akan menjadi gubernur kembali, maka tidaklah terlalu salah kalau seorang Ahok saya sapa dengan mas, mas Ahok bukan bang Ahok. Panggilan mas terhadap Ahok tidak perlu dipersoalkan karena saya mempunyai prediksi (bisa asal bisa juga harapan) akan menjadi presiden negeri ini. Tentu orang akan memanggilnya kemudian pak Ahok atau lebih terhormat Mr. Presiden.

Mas Ahok, bukan hanya bagi saya tetapi hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengakui bahwa ia adalah sosok yang sangat fenomenal. Tentang hal ini ada yang mengakui secara terang-terangan, ada juga yang malu-malu. Ia menjadi pembicaraan di mana-mana sejak maju bersama Presiden Jokowi (sekarang) dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Awalnya yang dibicarakan tentang Ahok adalah bahwa ia, seorang putra daerah (orang Bangka Belitung) yang berani maju bersaing di kancah pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, lalu kecinaannya, lalu jadi pembicaraan juga tempramennya dan lebih kencang dibicarakan adalah kinerjanya.

Jika bicara daerahnya, siapa yang tidak kenal Belitung? Dulu dikenal melahirkan film laskar pelangi, disamping alamnya tidak perlu diragukan keindahannya. Sekarang daerah itu melahirkan seorang Ahok yang fenomenal. Dibicarakan di mana-mana, bukan hanya di Jakarta. Mas Ahok bukan hanya milik masyarakat Jakarta, banyak daerah yang pada akhirnya mengaku memiliki mas Ahok. Coba perhatikan komentar atau pembicaraan tentang Ahok, tidak hanya di Jakarta saja tetapi hampir di seluruh nusantara.  Ada ungkapan dari pengagum mas Ahok, “Kalau Jakarta tidak perlu Ahok kirim ke daerah kami, kami memerlukan seorang pemimpin seperti Ahok.”

Bicara kecinaannya. Dulu masih WNA. Haknya sangat sempit. Tetapi sekarang sudah bagian dari bangsa ini, yang lahir dan besar di bumi Indonesia. Sama saja dalam hak dan kewajiban dengan saya misalnya yang berasal dari suku Batak tetapi lahir dan besar di Bangka. Kalau kita masih memandang mas Ahok dari kecinaannya lalu tidak memberi ruang seluas-luasnya untuk berkarya di bumi Indonesia, di mana ia lahir dan besar, maka jangan pula kita menuntut hak yang sama hanya karena kita orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Papua, Bali, Timor dan lain-lain. Toh seorang mas Ahok adalah orang Bangka Belitung.

Bicara tempramennya, bagian ini menjadi sorotan kalangan penolak mas Ahok. Semua tentang mas Ahok mau dijatuhkan dari sudut tempramennya. Ketika kecinaannya dan agamanya sudah tidak laku dijual untuk pro dan kontra, walaupun masih ada saja pemikiran sempit yang kontra tentang dua hal ini, tetapi kebanyakkan orang yang mau netral tidak mau disebut fanatik, akan melihat dari sudut temperament seorang mas Ahok. Orangnya emosional, bicaranya kasar dan suaranya keras. Tetapi seorang yang lembut seperti figure seorang ibu yang kelihatan pendiam, akan menunjukkan emosinya jika berhadapan dengan orang-orang tegar tengkuk, kepala batu, keras kepala, orang-orang tidak bermoral, susah dikendalikan, susah dinasihati, mau-maunya sendiri. Justru ketika kita menjadi emosi melihat realita tidak baik ini maka kita adalah orang-orang yang masih mempunyai kepekaan yang tinggi untuk menata semua kembali baik. Kembali kepada yang seharusnya, yang baik, yang benar, dan yang adil. Kalau kita cuek, pura-pura tidak tahu, tidak mau tahu, membiarkan saja, maka kita harus ngeri terhadap diri kita yang sudah tidak peka lagi terhadap penegakkan kebenaran, keadilan dan kebaikan bagi semua lapisan masyarakat.

Tempramen mas Ahok yang keras dan kerap keterlaluan menurut saya memang seharusnya demikian. Persoalannya tidak banyak orang yang berani demikian untuk kebenaran, keadilan dan kebaikan. Banyak pemimpin bangsa ini yang masih menjaga image, padahal image lemah lembut itu menutupi perilaku sesungguhnya yang suka peyimpangan, dalam berbagai bentuk. Perilaku menyimpang yang dilahirkan dari kelemah lembutan justru pelaku kejahatan ganda. Menyimpang dengan perilakunya dan memanipulasi orang dengan cara yang lembut tetapi jahat. Mengingat pada suatu pepatah kuno, serigala berbulu domba. Semua kelihatan baik, benar dan adil tetapi sesungguhnya hasil nyatanya adalah ketidakbaikan, ketidakbenaran dan ketidakadilan. Seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, ada apa dengan kita? Mengapa tidak peka lagi terhadap hal-hal yang tidak baik, tidak benar dan tidak adil? Lalu ketika seorang Ahok berteriak untuk menyadarkan kita tentang semuanya ini, kita menjadi sangat tersinggung.

Jika bagi sebagian orang yang tidak menyukai sosok mas Ahok lalu menyoroti bagian ini, maka orang tersebut masih kerdil dalam berpikir tentang bangsa ini. Masyarakat tidak perlu dininabobokan dengan rayuan pulau kelapa tetapi sesungguhnya sedang diperdaya, di bawa kebibir jurang untuk dihancurkan. Terkadang kita perlu kata-kata keras untuk membangunkan tidur kita atau keterlenaan kita terhadap situasi bangsa ini. Kita perlu mendapat cambukan kata-kata yang membuat kita sadar bahwa hidup tidak dibangun dengan iming-iming yang baik, benar dan adil padahal yang member iming-iming itu sedang menabur bencana.

Bagi yang tidak suka mas Ahok, tempramen memang dapat dijadikan isu yang menarik untuk mengajak orang lain memandang seorang Ahok sangat tidak mempunyai perasaan. Tetapi siapa sesungguhnya yang tidak mempunyai perasaan atau siapa sesungguhnya perasaannya sudah mati? Perhatikan seorang pelaku tindakan kriminal, pelaku korupsi, pelaku kekerasan, pelaku pemerasan, pelaku penyelewengan, mereka melakukannya dengan wajah setengah malaikat. Sangat lembut dan tanpa rasa bersalah. Anehnya terkadang kita menganggap hal demikian tidak ada apa-apanya dibanding emosional yang sedang ditunjukkan seorang Ahok untuk membuka mata setiap orang dalam melihat kebenaran, keadilan dan kebaikan itu. Ahok yang kasar, Ahok tidak benar dan Ahok tidak adil, tidak berpihak kepada kaum marjinal. Banyak kita yang lahir dan dibesarkan dengan kondisi dan situasi amburadul lalu itu yang menjadi pembelajaran kita. Sehingga seorang koruptor misalnya adalah pahlawan. Kita tidak mau susah, hidup dengan cara mudah, bagaimana? Jadi koruptor, mulai kecil-kecilan, besar-besaran tersembunyi sampai besar-besaran yang terang-terangan. Bahkan koruptor di negara ini bisa tersenyum lebar ketika media massa menyoroti, melambaikan tangan seolah mau mengatakan: “Let’s join with us.”

Kinerja seorang Ahok. Jika sekarang mas Ahok menunjukkan bagaimana seharusnya. Ada di antara kita menganggap mas Ahok sok… sok tahu, sok baik, sok adil, sok benar, sok menolong, dan sok-sok lainnya. Malah ada yang berkomentar mas Ahok sedang pencitraan. Pencitraan bagaimana yang dimaksudkan? Bukankah kalau pencintraan itu mas Ahok bukan blak-blakkan tapi pura-pura. Pura-pura baik, ramah, santun, dan pura-pura lainnya.

Kinerja seorang Ahok sudah terbukti bagi Jakarta. Semua merasakannya. Mulai dari kalangan bawah sampai menengah. Saya belum tahu apakah kalangan atas merasa mendapatkan berkat menemukan Ahok sebagai pemimpin Jakarta? Semua merasakan kehadiran Ahok mulai dari pelajar, mahasiswa sampai kepada buruh dan pekerja. Semua merasakan sepak terjang mas Ahok mulai dari ibu rumah tangga sampai penjaja kaki lima.

Saya tidak kenal mas Ahok tetapi dari apa yang ia hasilkan saya jadi mengenal dia. Saya jadi mengingat apa yang saya pahami, memang kehadiran kita itu menjadi bermakna jika berarti bagi orang lain. Apa yang kita kerjakan sangat menentukan kualitas hidup kita bahkan bisa dikatakan kualitas keagamaan kita. Kualitas hidup yang kita tunjukkan juga membuktikan kualitas paham kita tentang Allah kita. Allah yang bagaimana yang kita sembah. Yang pasti kita semua sepakat bahwa Allah itu Maha besar, maha kuasa, maha baik, maha penyayang. Allah ingin semua ciptaannya baik, tertata baik dan teratur adanya.  Allah yang mau kita-kita manusia, masyarakat Indonesia secara keseluruhan yang ada, berdiam, hidup dan berkarya di bumi Indonesia ini penuh dengan kebaikan, kedamaian, tentram dan sejahtera. Maka Allah yang demikian itu yang harus kita saksikan. Mas Ahok sedang menyaksikan Allah yang demikian luar biasa dengan kepemimpinannya.

Orang seprti Ahok sudah sampai pada tahap aktualisasi diri. Hidup untuk masyarakat Indonesia yang ia cintai. Dia ada bukan untuk sekelompok elit saja, juga bukan hanya untuk sekelompok orang-orang kelas menengah atau pinggiran, tetapi dia ada untuk semua. Sama halnya dengan kita. Kita ada untuk semua, dalam bidang profesi yang berbeda-beda dan di berbagai-bagai tempat. Memang kita harus akui mas Ahok selangkah lebih berani bertindak untuk bangsa ini, sementara kita masih ragu-ragu bahkan takut-takut. Lucunya kita takut terhadap bangsa kita sendiri, takut apa yang kita mau lakukan dalam membangun bangsa ini akan ditolak oleh pihak-pihak tertentu yang masih mempunyai banyak kepentingan. Lalu kita mundur atau lebih baik diam. Aman.

Ketika seorang Ahok muncul dengan tipikalnya, kok kebanyakkan kita jadi kebakaran jenggot, merasa seorang Ahok sangat mengusik. Tetapi biasanya kita juga akan menjadi orang yang tidak kehabisan akal dengan menjadikan mas Ahok kambing hitam.

Bukan karena mas Ahok seorang Gubernur atau calon Gubernur selanjutnya bahkan calon Wakil Presiden Indonesia berikutnya maka saya menulis ini. Tetapi karena mas Ahok seorang yang berani tampil apa adanya untuk masyarakat Jakarta dan tentu untuk masyarakat Indonesia secara keseluruhan berikutnya. Karena saya kemudian berharap bahwa akan muncul yang seperti mas Ahok selanjutnya di setiap wilayah Indonesia, dari Timur ke Barat, dari Selatan ke Utara. Bukan hanya Jakarta yang memiliki mas Ahok tetapi juga Indonesia bagian Tengah dan Indonesia bagian Timur. Semoga Indonesia dipenuhi dengan kebaikan Allah.

Neil L Napitupulu – Jakartanews.co/Solo

4,322 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa