Basuki Tj Purnama Tidak Mengusung “Politik Kristen”

Sederhananya, politik (Indonesia), politic (Inggris) adalah padanan politeia atau warga kota (Yunani, polis atau kota, negara, negara kota); dan civitas (Latin) artinya kota atau negara; siyasah (Arab) artinya seni atau ilmu mengendalikan manusia, perorangan dan kelompok. Politik juga bisa berarti seni pemerintah memerintah; ilmu memerintah; cara pengusaha menguasai. Makna politiknya semakin dikembangkan sesuai perkembangan peradaban dan meluasnya wawasan berpikir; politik tidak lagi terbatas pada seni memerintah agar terciptanya keteraturan dan ketertiban dalam masyarakat polis; melainkan lebih dari itu.

Dengan demikian, politik adalah kegiatan (rencana, tindakan, kata-kata, perilaku, strategi) yang dilakukan oleh politisi untuk mempengaruhi, memerintah, dan menguasai orang lain ataupun kelompok, sehingga pada diri mereka (yang dikuasai) muncul atau terjadi ikatan, ketaatan dan loyalitas (walaupun, yang sering terjadi adalah ikatan semu; ketaatan semu; dan loyalitas semu).

Dalam/pada politik ada hubungan antar manusia yang memunculkan menguasai dan dikuasai; mempengaruhi dan dipengaruhi karena kesamaan kepentingan dan tujuan yang akan dicapai. Ada berbagai tujuan dan kepentingan pada dunia politik, dan sekaligus mempengaruhi perilaku politikus.

Dari hal-hal di atas, nyata bahwa dalam politik ada unsur “mempengaruhi, memerintah, dan menguasai orang lain ataupun kelompok, sehingga pada diri mereka (yang dikuasai) muncul atau terjadi ikatan, ketaatan dan loyalitas …;” sehingga mereka yang tampil sebagai politis di Parlemen atau pun Pemerintah, sama-sama melakukan banyak cara agar mencapai tujuan, tetap berkuasaan, atau mempunyai dan menarik keuntungan

Unsur “mempengaruhi, memerintah, dan menguasai orang lain ataupun kelompok” juga lah menjadikan banyak orang dan kelompok berpolitik praktis, termasuk tokoh atau pun institusi agama. Secara khusus, institusi agama dan politik walau sama-sama sarat peran dan kerja manusia, keduanya memiliki keterpisahan yang mutlak dan besar.

Sayangnya keterpisahan tersebut dijadikan flesksibel dan tipis sehingga memunculkan apa yang disebut “politik agama.” Di sini, yang terjadi adalah campurbaurnya agama dan politik; agama dipakai sebagai alat politik,  dan sebaliknya. Akibatnya muncul jargon-jargon politik agama, katakanlah “politik Islam,” “politik Kristen,” dan seterusnya; padahal, yang terjadi adalah orang (beragama) Kristen yang berpolitik, atau orang Islam yang berpolitik, dan seterusnya.

Gaya Politik Basuki Tj Purnama

Ahok, begitu ia disapa, muncul dari di Bliton melalui Parpol; sebagai Bupati di sana; kemudian tampil di Senayan sebagai anggota Parlemen. Tampilan Ahok sebagai Bupati dan model menyampaikan pendapat ketika masih di Parlemen, serta sebagai Gubernur DKI Jakarta, nyaris tak berubah.

Ucapan, pernyataan, dan bahasa tubuhnya bisa menusuk sumsum orang yang “merasa terkena sasaran tembak.”  Walau banyak kritik tajam terhadapnya, Ahok tak berubah. Dan, ketika sepak terjangnya membuat “sejumlah orang merasa dirugikan dan tak bergerak,” maka mereka mulai mencari-cari kesalahan Ahok. Barisan perlawanan terhadap Ahok hanya menemukan dua hal yang melekat pada dirinya yaitu Kristen dan Keturunan China. Kemudian, dua hal itulah yang menjadi sasaran serangan.

Lalu, muncul hal berikut, yaitu “Apakah Ahok mengusung politik Kristen!?” Atau. Ketika ia menjadi Bupati dan kemudian Gubernur, Ahok menggunakan Kekristenannya, sebagai alat politik atau ia menunjukkan diri sebagai politisi dengan politik Kristen!?

[Notes. Pada era lalu, para Kaisar Romawi dan Kerajaan-kerajaan di Eropa, memang menggunakan Kristen/Katolik sebagai alat kekuasaan. Akibatnya, Katolik, kemudian Prostestan, menjadi agama normatif serta merosot secara moral dan iman karena digunakan untuk mencapai kuasa dan kekuasaan politik. Kini, di Eropa atau berbagai belahan Bumi lainnya, nyaris tidak temukan “politik Kristen,” yang  menggunakan teks-teks Akitab sebagai dasar perundang-undang. Katolik dan Protestan benar-benar menjadikan Negara atau pun politik terpisah dengan Agama].

Kembali ke Ahok.

Adakah gaya memerintah dan berpolitik ia gunakan Kekristenannya sebagai alat untuk untu mencapai kuasa dan kekuasaan politik; atau katakanlah sebagai upaya untuk mempertahankan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ahok gunakan “politik Kristen;” sehingga ia merambah ke gereja-gereja dan organisasi Gereja di DKI Jakarta, sambil meminta dukungan. Ahok jauh dari tindakan konyol seperti itu.

Ia tidak gunakan mimbar gereja sebagai alat untuk menyampaikan pesan, “Pilihlah saya, karena saya adalah tokoh Kristen.” Tidak, ia sama sekali tak lakukan hal tersebut.

Berdasarkan beberapa kali bertemu dengan Ahok, dan pengamatan terhadap sejumlah video di Youtube, dan kesaksian pribadinya, ternyata tidak bisa disebut bahwa Ahok membawa atau mengusung “politik Kristen;” sama sekali tak nampak. Namun jika mau lebih dalam melakukan pengamatan, maka justru  yang terlihat, antara lain

  • Ahok tidak pernah menyebut satu pun ayat-ayat Alkitab dalam pidato, sambutan, diskusi, atau pernyataan. Salah satu video, ketika masih Wagub, menunjukan Ahok menyatakan, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik,” kalimat tersebut memang ada di Injil, namun Ahok tak menyatakan, “Menurut Surat 1 Korintus pasal 15, ayat’ …” Juga sejumlah sepihan-serpihan dalam pidato atau sambutannya, jika pendengarnya Kristen atau Katolik, maka pasti tahu dari mana kata-kata tersebut. Ahok menyampaikan pesan kepada siapapun tanpa harus menyatakan ini adalah ayat-ayat Alkitab atau menurut Injil serta sabda Yesus. Ia tampil beda; dibandingkan dengan para pemimpin daerahnya lainnya yang suka menyisip teks-teks Kitab Suci ketika berpidato atau menyampaikan pesan kepada publik.
  • Ahok tidak  secara khusus, karena ia Gubernur DKI Jakarta, membangun satu gereja pun di DKI Jakarat; semua proses izin pembangunan gedung gereja, berjalan apa adanya. Bahkan tak terdengar ada sejumlah dana dari dirinya untuk Gereja-gereja di DKI Jakarta
  • Tak sedikit kalangan Protestan dan Katolik, yang juga menolak Ahok; bahkan mernurut mereka Ahok justru tidak mencermin seorang pemimpin yang berkualitas Kristen karena kata-katanya yang tajam, menusuk, membuat sakit, hati, dan cenderung kasar. Hal seperti bukan ciri khas kepemimpinan Kristen.
  • Tak sedikit kalangan Kristen moderat melihat Ahok sebagai “Ahok” tak lebih dari itu; ia tak mengusung politik apa pun. Ia adalah tipikal pemimpin yang mau tampil apa adanya tanpa menunjukkan diri sebagai Kristen.\
  • Juga, Ahok, tidak ada karena mentang-mentang Gubernur atau berkuasa, maka mengeluarkan sejumlah Perda atau pun Peraturan Gubernur yang bersifat “keagamaan Kristen;” ataupun mengangkat sejumlah pejabat penting di DKI Jakarta dengan pertimbangan agama; agamanya sama dengan dirinya. Hal tersebut berbeda dengan sejumlah daerah di di Nusantara, Gubernur, Bupati atupun Walikota melakukan terobosan dengan membuat Perda-perda keagamaan, walau bertantangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.
  • Dan lain sebagainya

Ahok tambil beda dan berbeda dengan politisi yang gunakan agama sebagai alat untuk meraih kuasa dan kekuasaan; ia bukan politisi yang menggunakan agama sebagai alat untuk mencapai kedudukan serta kekuasaan. Dan ada juga bukan pemuka agama (organisasi keagamaan) yang memakai trik-trik politik untuk mencapai dan mempertahankan kepemimpinan terhadap umat. Politisi seperti itu, hanya mau menjadikan umat (beragama) sebagai sapi perah untuk kepentingan diri sendiri; ia tidak peduli terhadap pentingnya pelayanan dan kesaksian kepada umat; yang ada padanya hanya nama dan kehormatan sebagai seorang pemimpin serta pemuka agama.

Penggunaan agama sebagai alat untuk mencapai kedudukan serta kekuasaan politik, maka hal itu menunjukkan ketidakmampuan dan ketidaktrampilan berpolitiknya. Ia hanya mempunyai motivasi untuk mencari untung dari kedudukan serta kekuasaan politik, dalam rangka memperkaya diri sendiri sekaligus mencari nama. Politisi seperti itu, tidak mempunyai kepekaan terhadap permasalahan dan pergumulan umat manusia atau masyarakat luas. Jika ada yang ia perjuangkan, maka hanya akan memperhatikan atau demi kepentingan orang-orang tertentu seperti mereka yang seagama dengannya. Demikian juga jika pemuka agama (organisasi keagamaan) memakai trik-trik politik untuk mencapai dan mempertahankan kepemimpinan terhadap umat, maka ia sebetulnya tak layak disebut rohaniawan ataupun ulama. Ia mempunyai pengetahuan dan pemahaman keagamaan yang dangkal; serta tidak memiliki kharisma sebagai pemimpin umat.

Gaya politik “apa adanya’ itulah yang ada pada Basuki Tj Purnama; ia tidak menunjukkan sebagai politisi manis dan penurut; dan juga bukan politisi yang selalu muncul dengan bahasa serta ikon keagamaannya. Ia justru jauh dari seorang bapak Gubernur yang hanya senyum, ramah, serta melakukan pembiaran terhadap pelanggaran. Ia tampil dengan trade mark, jika kedapatan salah, maka reaksi pertamanya adalah marah-marah; dan setelah itu tunjukan solusi kemudian ramah.

Ternyata dengan model seperti itulah, Ahok menjadi pilihan rakyat; pilihan sejumlah besar rakyat DKI Jakarta yang telah muak dengan kinerja politisi manis, penurut, taat, tunduk  parpol. Mereka secara ramai-ramai mendukung Ahok menuju DKI 1

OPA JAPPY | JAKARTA NEWS

81,913 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa