Beda Sikap Terhadap Banjir di Jakarta dan Cisalak

JNC/Jakarta. Jakarta, era Jokowi-Ahok and Ahok-Heru, juga pernah banjir. Pada era Ahok-Heru, muncul banjir di Jakarta, namun tak bertahan lama; tidak ada yan tewas dan serta berhari-hari mengungsi.

Banjir di Jabar, tak dipublikasi media berulang-ulang; tak ada viral di Medsos; tak ada live di TV; tak ada kunjungan politisi nasional; tak ada umpatan, cacian, bully terhadap Gub dan Wagub.

Banjir di Jakarta, menjadi area dan arena para haters, pencaci, politisi busuk mencaci Ahok Heru. Bahkan, mereka yang menyebut diri “aktivis lingkungan,” berlomba-lomba turun dan “bermain-main” di genangan air, sambil diliput Media Pemberitaan.

Pernyatan Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitternya, @Sutopo_BNPB, Rabu 25 Mei 2016: Banjir bandang melanda wilayah Cisalak, Jawa Barat. 5 tewas, 7 luka, 388 jiwa mengungsi dan 16 rumah rusak berat.

Banjir bandang terjadi sejak Minggu (22/5), air bah bercampur kayu, batu, hingga lumpur bercampur dan menerjang permukiman warga.

Hal tersebut akibat hujan dan longsor di bagian hulu. Longsor tersebut kemudian menerjang bagian bawah perbukitan.

Banjir sejak Minggu, 22 Mei 2016, namun cuma segelintir orang yang memperhatikan, nyaris tak yang tahu. Media TV Nasional, tak menempatkannya sebagai bencana serta menjadi pokok “diskusi kegagalan Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar.”

Sebaliknya, “bencana kecil” di Jakarta, Media TV dari kalangan Oposisi, Pembenci, dan Haters Ahok, memblow up secara TSM. Tujuanya adalah membangun opini benci dan kebencian serta penolakan terhadap Ahok.

Luar Biasa.

4457e799-71e6-41ae-9a73-99ebec9a2cda_169

Sejumlah pengungsi yang menjadi korban bencana banjir bandang di Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Subang, Jawa Barat, mulai terserang berbagai penyakit, terutama masuk angin, gatal-gatal dan ISPA. Menurut Dandim 0605 Subang Letkol Inf Budi Mawardi Syam,
“Kondisi ini harus cepat ditangani. Untuk menangani gangguan kesehatan yang dialami pengungsi, dinas kesehatan (dinkes) tadi pagi membangun posko kesehatan (poskes). Pihaknya juga meminta agar segera didirikan fasilitas sanitasi atau sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus) untuk melayani keperluan pengungsi.

Pelayanan poskes ini harus dioptimalkan, termasuk secepatnya membuat MCK; juga ada sejumlah langkah prioritas lainnya, untuk penanganan pasca bencana; yaitu

  • Pertama, menyiapkan lokasi pengungsian yang layak, karena saat ini banyak pengungsi masih menumpang di rumah penduduk, tetangga, atau kerabat.
  • Kedua, mengantisipasi bencana susulan dengan menormalisasi aliran sungai yang sebagiannya masih terbendung material longsor tebing, dan membersihkan lumpur atau material sisa banjir yang menutup persawahan dan kolam ikan.
  • Ketiga, membenahi tata kelola penyaluran logistik bencana. Sebab, sementara ini distribusi logistik masih belum merata. Hasil monitor kami, penyaluran logistik belum merata, banyak pengungsi yang enggak kebagian. Beberapa bantuan ada yang tersalurkan ke daerah lain. Persoalan distribusi (logistik) ini harus cepat dibenahi,”

Berdasarkan data sementara Posko Satlak PBP Subang, jumlah korban terdampak bencana mencapai 401 orang, terdiri dari 13 korban tewas dan luka-luka, serta 388 orang pengungsi atau sekitar 103 kepala keluarga (KK).

OPA JAPPY / JNC

965 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa