Saya Berhutang US$ 997 ke Negara Asing | Rp 13,2 juta; kurs Rp 13.300

Saya Berhutang US$ 997 ke Negara Asing | Rp 13,2 juta; kurs Rp 13.300.

Perkembangan utang pemerintah pusat dan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak tahun 2000:

2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)

2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)

2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)

2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)

2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)

2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)

2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)

2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)

2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)

2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)

2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)

2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)

2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)

2013: Rp 2.371,39 triliun (28,7%)

2014: Rp 2.604,93 triliun (25,9%)

2015: Rp 3.098,64 triliun (26,8%)

2016: Rp 3.466,96 triliun (27,9%)

[Detik Finance]
😊😊😊

Sri Mulyani pada kuliah umum di ITB, Jumat, 24 Maret 2017,

“Utang pemerintah Indonesia sekarang mencapai Rp 3.589,12 triliun. Bila dibagi dengan jumlah masyarakat Indonesia yang sekarang, maka per orang harus menanggung utang sebanyak US$ 997 atau setara Rp 13,2 juta (kurs Rp 13.300).

*Setiap orang Indonesia menanggung utang US$ 997 per kepala.*

Secara kasat mata maka utang yang harus ditanggung memang terlihat besar. Akan tetapi bila dibandingkan dengan negara lain, maka sebenarnya utang tersebut masih kecil.

Lihat Jepang, bila dibagi per kepala, maka setiap orang Jepang harus menanggung utang US$ 5.365. Amerika Serikat (AS) bahkan lebih besar, utang yang ditanggung setiap orang adalah US$ 62.000; jadi, setiap kepala orang AS harus menanggung utang US$ 62.000. Jauh lebih besar dari kita.

Ini menujukan utang Indonesia masih lebih kecil, bahkan dibandingkan negara maju sekalipun. Namun tentunya utang tidak akan dibagi per orang, kemudian diminta untuk membayar kepada negara.

Utang, ketika ditarik oleh pemerintah disiapkan untuk menjalankan hal-hal produktif. Sehingga bisa mendorong ekonomi tetap tumbuh ke depan sampai akhirnya mampu untuk mengembalikan utang.

Rasio utang terhadap PDB Indonesia terjaga pada level sekitar 27%. Ini berkat kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3% terhadap PDB setiap tahunnya.

Defisit APBN kita selama satu dekade terakhir bisa terkendali. Kita bisa tumbuh cukup tinggi.”

😊😊

Jika memperhatikan “Perkembangan Hutang” dan Penngembangan Wilayah Tertinggal dan Pervbatasan RI dengan Luar Negeri, maka telihat beda yang sangat sognifikan.

Pada masa sebelumnya, HLN difungsikan untuk hal-hal yang “tak nampak” pada rakyat atau pun tak transparan; kini, sebaliknya.

Nah ……

Sumber: Detik Finance
Edit By Opa Jappy

200,749 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa