[Betulkah?] Ahok Melupakan Orang Miskin

Sedikit harta milik para yatim piatu dan janda, dirampas rentenir dan lintah darat sebagai sita jaminan.

Penguasa dan pengusaha menghalangi orang miskin mendapat haknya, sehingga mereka lari bersembunyi, tersembunyi dengan keadaannya yang tetap papa dalam kemiskinannya.

Si miskin bagaikan binatang liar yang mencari makan di daerah-daerah kumuh; dengan harapan di tempat-tempat itu ada makanan untuk anak-anaknya.

Karena kena tipu daya, si miskin dipaksa dan terpaksa meninggalkan tanah mereka dan harus bekerja dengan upah di bawah standar.

Ia tak punya selimut dan pakaian penghangat tubuh di waktu malam. Ia basah kuyub karena hujan lebat, lalu merapat serta terjerumus di kolong-kolong jembatan dan jalan layang, untuk berlindung.

Si miskin diperbudak oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan, kuasa, dan uang. Bahkan, bayi mereka dirampas untuk diperjualbelikan; ditukar dengan beberapa lembar uang, agar bisa bertahan hidup.

Si miskin, telanjang tanpa sehelai benang pun; ia kelaparan di samping kemewahan; ia berlindung di tembok pagar rumah mewah, merebahkan kepalanya di atas batu-batu jalan.

Ia kelaparan di depan pintu rumah makan; ia kehausan di teras pabrik minuman; ia telanjang di depan tokoh pakaian dan butik.

[The Book of Job; terjemahan aplikatip oleh penulis/Opa Jappy]

Kutipan dari Kitab Ayub di atas, saya pastikan pernah dibaca oleh Ahok alias Basuki Tj Purnama, namun belum tentu dibaca oleh banyak orang termasuk umat Kristen dan Kat9olik. Ya, pada masa lalu, Ayub tel “melihat masa depan” sebagai suatu realitas yang (akan) terjadi, dan terus menrus terulang. Di banyka tempat, kaum miskin menjadi bagian tak terelakan dari sis sikaya dan berpunya. Mereka ada di era dan sama, namun terdapat gap abstrak dan konkri yang membatasi.

Menelusuri sumber kemunculan kaum miskin merupakan sesuatu yang cukup kompleks; ada beberapa catatan yang bisa menjadi acuan tentang adanya kaum miskin dengan kemiskinannya (terutama di Indonesia), yaitu:

Pertama. Mereka ada karena angka kelahiran yang tinggi. Kelompok masyarakat yang tidak maju (ntuk sementara kita memakai kaca mata kemajuan) sering disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kaum miskin (plus kemiskinan) ini juga mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya (terutama karena angka kelahiran yang tingi). Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga (termasuk pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia) yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kaum miskin yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka (kaum miskin) hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak [anak-anak]; karena mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi.

Kedua. Mereka tetap miskin karena menutup diri dari pengaruh luar. Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat (di lokasi komunitas itu) merupakan warisan secara turun-temurun. Dan jika komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling meniru kemudian masing-masing mengembangkan hasil tiruan itu sesuai dengan sikonnya. Dengan itu, dapat dipahami bahwa hubungan sosial (antar manusia, dan antar masyarakat) bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas masyarakat (karena situasi tertentu) yang tidak mengembangkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti; (sekali lagi, dengan kaca mata kemajuan), mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan.

Ketiga. Mereka tercipta karena korban ketidakadilan para pengusaha. Kemajuan sebagian masyarakat global (ermasuk Indonesia) yang mencapai era teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya agar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, karena alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya.


Masih hangat dalam ingatan. Siang tadi, kemarin, dan hari-hari sebelum kemarin, sejumlah orang, yang menyebut diri aktivis, LSM, politikus, pemerhati, bahkan pembela orang-orang tertindas ramai-ramai berseru dengan nyaring bahwa “Apa yang dilakukan oleh Pemda DKI, dhi. Gubernur DKI, merupakan bentuk penyingkiran terhadap orang miskin.” Pada berbagai media pemberitaan dan berita online, juga menyatakan hal yang hampir sama, “Ahok melupakan orang kecil; pembangunan Jakarta untuk kaum kaya; dan tak ada tempat bagi kaum miskin di DKI Jakarta.”

Tudingan seperti itu, muncul akibat dari proses penggusuran, bahasa Pemda adalah penertiba, terhadap sejumlah lingkungan tang dikatgorikan kumuh. Kemudian, lingkungan tersebut ditata ulang, sedangkan orang-orangnya “di-pindah-paksakan” ke rumah susun.

Dengan demikian, langkah-langkah yang ditempuh oleh Pemda DKI tersbut, dituding sebagai penyingkiran terhadap kaum miskin; kaum miskin dicabut dari “tanah kelahirannya” dan harus membangun hidup serta kehiduapn baru di tempat lain.

Pagi para penolak “pengusuran atau penertiban,” apa yang dilakukan oleh Pemda DKI, dan Ahok sebagai pengerak utama, adalah suatu pelanggaran HAM. Pemda DKI telah melakukan penindasan HAM, demi keuntungan pengusaha dan penguasa. Jadi, Ahok harus dilawan, ditolak, bahkan dicaci.

WOuuuuu ……..

Tapi nanti dulu. Jika menyimak, pemikiran Ahok dalam Merubah Indonesia,  maka tudingan bahwa Ahok melupakan kaum atau orang miskin, adalah sesutau yang tiada benar dan tanpa dasar.  Ahok dibesarkan di lingkungan masyarakyang memiliki interaksi erat satu sama lain; keluarganya, bisa dkiatakan, sebagai orang-orang yang ringan tangan untuk menolong sesamanya.

Dengan latar itulah, ketika Ahok menjadi Bupati, dan kemudian, Gubernur DKI Jakarta, obsesinya untuk melepaskan stigma kemiskian pada orang orang miskin semakin mengemuka. Baginya, hal utama yang menjadikan adanya kemiskinan adalah tidak meratanya pembangunan dan pejabat yang korupsi.

Berulangkali, melalui pidato dan pernyataan keras dan pedas, Ahok menyatakan bagwa kroupsi menghancurkan bangsa, negara, dan tatanan masyarakat; korupsi adalah mencuri dan merampas hak orang lain, serta dampak lainnya adalah menciptakan kemiskinan.

Dengan demikian, langkah-langkah tepat harus diambil dalam rangka membebaskan orang miskin dari kemiskinannya; salah satu langkah awal adalah berikan mereka sarana dasar agar bisa hidup layak. Dan, itu dilakukan dengan cara hidup di lingkungan yang lebih baik, manusiawi, tertata, dan teratur. Misalnya, ada penyediaan 15 ribu Rusun untuk warga yang direlokasi.  Itu menunjukkan bahwa, Ahok menggusur dengan solusi, bukan asal mengusir seperti waktu-waktu yang lalu. Bahkan pada rusu yang disediakan Pemda, dilengkapi dengan berbagai sarana dalam rangkan peningkatan ekonomi keluarga. Yah minimal, mereka bisa berupada dalam rangka memenhui kebutuhan dasar hidup dan kehidupan.

Sumber: Opa Jappy | Kompasiana

KLIK untuk download buku Merobah Indonesia

80,552 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa