Bukalah Rumahmu untuk Rohingya

Kamar Sebelah, Depok–Beberapa hari lalu, pemerintah Myanmar memberi izin sejumlah wartawan asing melihat kondisi Maungdaw, di Rakhine, Myanmar. Kawasan ini adalah lokasi terjadi kekerasan antara kelompok militan Rohingya dan pasukan Myanmar.

Rombongan wartawan mendapat pengawalan ketat daru Aparat keamanan Myanmar. Jonathan Head
Wartawan BBC ikut serta dalam rombongan; laporanya sebagai berikut:

“Saya adalah bagian dari rombongan wartawan yang diundang oleh Pemerintah Myanmar untuk melihat keadaan di Maungdaw, di negara bagian Rakhine.

Syarat untuk mengikuti perjalanan ini adalah kami harus selalu berkelompok, tak boleh jalan sendirian.

Kami pun harus mengikuti agenda perjalanan ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Permintaan untuk mengunjungi tempat-tempat lain yang kami nilai menarik, bahkan lokasinya sebenarnya tak terlalu jauh, ditolak dengan alasan keamanan.

Dalam perjalanan kembali dari daerah Al Le Than Kyaw, di selatan Maungdaw, terlihat asap membumbung ke angkasa. Itu menandakan ada rumah-rumah yang baru saja dibakar. Polisi mengatakan, warga setempat sengaja membakar rumah-rumah tersebut, meski warga Rohingya yang tinggal di sana telah mengungsi.

Terlihat sekelompok anak muda di Rakhine membakar rumah-rumah di satu desa yang ditinggalkan oleh warganya yang mengungsi.

Kami bisa melihat setidaknya tiga titik asap yang membumbung dan mendengar tembakan sporadis.

Kami juga melihat asap tebal berwarna hitam dari desa di tepi sawah. Kami langsung memutuskan untuk melihat dari dekat dengan melewati persawahan. Kami melihat api masih menyala dari beberapa rumah.

Seluruh rumah di desa ini habis terbakar hanya dalam waktu sekitar 20-30 menit.

Saat kelompok wartawan berjalan memasuki desa, terlihat sekelompok anak muda berbadan kekar yang menenteng parang dan pedang.

Ketika kami berusaha mewawancarai, mereka menolak direkam dengan kamera. Namun rekan saya, seorang warga Myanmar, bisa berbicara dengan mereka.

Mereka mengaku warga Rakhine. Salah seorang di antaranya mengakui sebagai orang yang memulai membakar rumah-rumah di desa itu;aksi yang mereka lakukan dibantu oleh aparat kepolisian.

Kami masuk lebih jauh dan melihat madrasah yang atapnya juga terbakar. Api dengan cepat menyebar ke beberapa rumah di sekitarnya. Tidak ada orang di desa ini. Orang-orang yang baru saja kami temui adalah pelaku pembakaran.”

Di jalan desa, kami melihat peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, dan pakaian perempuan berserakan. Di tengah jalan rombongan wartawan menemukan jeriken bensin yang terserak.

Semua rumah di desa itu habis terbakar, yang terlihat hanya sisa-sisa puing berwarna hitam.”

Sumber: Kompas
http://internasional.kompas.com/read/2017/09/08/05352861/saya-melihat-desa-warga-rohingya-sengaja-dibakar

Apa-apa yang dilihat dan terlihat oleh rombongan wartawan tersebut, juga terpandang oleh orang Rohingya yang mengungsi dari Al Le Than Kyaw. Ketika wartawan mendekati mereka, salah seorang dari antara berkata lirih, penuh air mata ketakutan, “Mengapa mereka bakar rumah kami?”

Ya. Mengapa mereka membakar rumah warga yang mengungsi ke tempat aman? Dan, siapa mereka?

Bisa muncul 1001, bahkan jutaan pertanyaan di balik pembakaran rumah, ladang, atau pun harta milik orang-orang Rohingya. Juga ada jutaan jawaban untuk itu.

Pembakaran tersebut, bisa bertujuan, agar mereka yang melarikan diri, tak (akan) kembali. Atau, sebagai kampanye buruk bahwa aparat Myanmar sengaja lakukan hal tersebut. Juga, mungkin saja dilakukan oleh Ekstrimis Rohingya dalam rangka menarik perhatian Internasional. Mana yang pasti? Entahlah!

Saya masih yakin bahwa tak semua Warga Rohingya yang ikut ‘berseteru’ dengan warga asli Myanmar; namun mereka menjadi korban. Korban dari dua pihak, Ekstrimis Rohingya dan Asli Myanmar. Oleh sebab itu, menurut Aung Suu Kyi, Negara berupaya melindungi semua pihak yang bertikai, tak hanya kelompok tertentu.
Kekerasan Sosial

Kekerasan merupakan tindakan seseorang (gerombolan, kelompok), dengan menggunakan berbagai alat bantu (misalnya senjata tajam dan api, bom bunuh diri, dan lain-lain), kepada orang lain dan masyarakat, yang berdampak kehancuran dan kerusakan harta benda serta penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis bahkan kematian. Sedangkan, kerusuhanmerupakan suatu sikon kacau-balau, rusuh dan kekacauan, yang dilakukan (oleh pergerakan dan tindakan) oleh seseorang maupu kelompok massa berupa pembakaran serta pengrusakkan sarana-sarana umum, sosial, ekonomi, milik pribadi, bahkan fasilitas keagamaan.

Dengan demikian, kekerasan dan kerusuhan sosial, adalah rangkaian tindakan seseorang (dan kelompok massa) berupa pengrusakan dan pembakaran sarana dan fasilitas umum, sosial, ekonomi, hiburan, agama-agama, dan lain-lain.

Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat terjadi di wilayah desa maupun perkotaan. Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat dilakukan oleh masyarakat berpendidikan maupun yang tak pernah mengecap pendidikan; mereka yang beragama maupun tanpa agama.

Kekerasasan sosial atau tindak kekerasan kepada seseorang serta masyarakat (tertentu), bisa dan biasanya dilakukan terencana (terang-terangan maupun diam-diam) oleh pemerintah, umat beragama, kelompok suku dan sub-suku, maupun pribadi. Hal itu dilakukan dengan cara-cara bringas, brutal, dan tanpa prikemanusaan dan melanggar HAM. Misalnya, melalui genocide atau pembersihan etnis; pembasmian suku dan sub-suku; perang antar suku; tawuran antar desa; termasuk di dalamnya membunuh bayi laki-laki atau perempuan yang baru lahir, karena dianggap tidak berguna; melantarkan anak-anak cacad fisik dan mental.

Pada umumnya korban kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi trauma, telantar, tercabut secara sosial dan geografis, serta dipaksa dan terpaksa melarikan diri lingkungan hidup dan kehidupannya, lalu menjadi pengungsi ataupun mencari suaka di negara lain.

Bukalah Pintu Rumahmu untuk Rohingya

Menulusuri ‘penyebab utama’ Kasus Rohingya, masing-masing orang punya atau memiliki jawaban; entah jawaban itu benar atau tidak, sesuai data fakta atau pun hoaz. Masing-masing memiliki pembenaran dan ingin dibenarkan.

Oleh sebab itu, menurut saya, jika ingin membantu dan menolong Warga Rohingya, janganlah dengan orasi dan narasi, termasuk ‘pergi berperang’ di Myanmar.

Ada baiknya, para pembela Rohingya (dengan orasi, narasi, dan niat perang di Myanmar) membuka pintu rumah mereka untuk para pengungsi.

Para pengungsi sudah tak ada rumah; (untuk sementara) mereka tak bisa pulang. Sementara itu, para pembelanya memiliki rumah, jadi atas nama simpati, empati, kesetiakawanan sosial terhadap sesama manusia, maka bersedialah menampung Pengungsi.

Bukankah membantu dengan hal-hal yang nyata lebih bermartabat daripada orasi dan narasi?

Ok ….

Opa Jappy
Gerakan Damai Nusantara
Relawan Cinta Indonesia

JAKARTA NEWS | 70 005 11

70,238 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan