Dr. KH. Hasyim Muzadi | Membangun Toleransi Beragama di Indonesia dalam Perspektif Islam

O-P-A-26

Dengan latar belakang wilayah geografisnya, Indonesia telah berabad-abad lamanya dihuni banyak budaya unik—dengan beragam bahasa, tradisi, dan system keyakinan—di seluruh nusantara,yang dipisahkan oleh perairan di sekitar pulau-pulau. Tetapi, Indonesia terbuka bagi pengaruh-pengaruh yang datang dari kebudayaan besar seperti India, Cina, Persi, dan mulai dari abad 16 M pengaruh dari Eropa. Dengan demikian, Indonesia dewasa ini, ibarat mozaik dari budaya-budaya yang berbeda. Sistem keyakinan tradisional masyarakat Indonesia telah dipengaruhi dan dalam banyak kasus diserap oleh agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Karena itu, Indonesia dewasa ini merupakan aliansi dari peradaban dunia.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas.  Jarak wilayah paling Barat Indonesia dan wilayah paling Timur Indonesia sama dengan jarak antara negara Iran dan Irlandia. Jika ditempuh dengan pesawat terbang memakan waktu tempuh kurang lebih  6 jam.Tidak kurang dari 17.800 pulau membentang dari ujung Barat ke Timur wilayah Indonesia. Secara etnik Indonesia adalah negara yang paling banyak didiami oleh banyak suku yang berbeda-beda. Tidak kurang dari 656 suku besar dan kecil tinggal di negeri ini dengan beragam budaya dan tradisinya. Selain itu,Indonesia memiliki 746 bahasa lokal dan dialek yang berbeda-beda.

Indonesia tidak hanya  menjadi tempat bagi enam agama resmi (Islam,Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu)  tapi juga agama-agama lokal. Umat Islam berjumlah 87% dari total jumlah penduduk Indonesia. Sekalipun umat Islam merupakan mayoritas penduduk di Indonesia, Indonesia tidak pernah menjadi negara Islam dan tidak pernah Islam menjadi agama resmi negara. Undang-undang dasar negara 1945 juga tidak didasarkan atas shariah (hukum Islam).  Sejak merdeka, dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila dibuat atas dasar spirit nilai-nilai keagamaan semua agama yang ada di Indonesia. Dengan prinsip-prinsip ini Pancasila memberikan perlindungan penuh kepada semua agama yang ada di Indonesia dan menegaskan bahwa Indonesia bukanlah negara sekuler tapi juga bukan negara agama. Pancasila menyerap semua aspirasi dan nilai-nilai seluruh agama dan menerapkannya dalam kebijakan nasional untuk melindungi semua agama di Indonesia. Karena itu,Pancasila tidak hanya diterima oleh seluruh umat Islam tapi juga oleh non-muslim karena ia dapat mempersatukan keragaman budaya dan agama di Indonesia.

Atas dasar Pancasila, agama masih memiliki peran yang penting dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Sejalan dengan ini,setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia tidak boleh bertentangan dengan bertentangan nilai-nilai masing-masing agama di Indonesia. Tetapi penerapan nilai-nilai agama itu harus berada dalam koridor kebijakan nasional yang harus berada di dalam kerangka nasionalisme Indonesia yang memberikan perlindungan semua agama yang berbeda.

Tentu saja masalah tekstual agama secara formal belum tertampung di dalam rumusan Negara, karena yang ditampung baru nilai-nilainya. Untuk kepentingan ini diserahkan kepada agama masing –masing dalam konteks civil society bukan dalam nation state. Maka organisasi organisasi agama seperti NU dan Muhamadiyah , KWI, PGI, Aliran Kebatinan menjalankan kegiatan agama baik teologi, ritual maupun kemasyarakatan dalam ciri khas agama masing-masing, namun tetap dalam bingkai kepentingan nasional Indonesia.

Kenyataan kehidupan agama  di atas telah berjalan semenjak berdirinya republik Indonesia  dan bertahan sampai sekarang bahkan selanjutnya sekalipun  tentu ada tarik menarik kepentingan antar agama agama dan diselesaikan secara demokratis .

Kalau sekarang kita lihat ada beberapa kasus –kasus konflik intern agama atau lintas agama,sesungguhnya baru terjadi semenjak reformasi tahun 1999. Reformasi di Indonesia memang menganut kebebasan dan keterbukaan penuh sehingga terjadi rongga rongga yang karena belum kesiapan masyarakat di dalam menggunakan kebebasannya melahirkan konflik-konflik kasuistis.  Bersamaan dengan itu keterbukaan reformasi Indonesia mengakibatkan derasnya pengaruh internasional yang masuk ke Indonesia secara komprehensif baik bidang ideologi agama , politik , ekonomi, hukum pendidikan dan budaya.

Semestinya, esensi dan tujuan kehadiran agama di muka bumi adalah untuk memperkuat nilai-nilai-nila dan martabat kemanusian, kedamaian dan kemajuan peradaban dunia karena agama dimaksudkan untuk mencerahkan kemanusiaan bukan sebaliknya.Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa banyak persoalan-persoalan kemanusiaan di muka bumi ini muncul dari pemeluk agama, sekalipun persoalan-persoalan ini tidak berarti berasal dari ajaran agama mereka. Hal ini terjadi karena semata-mata kebenaran agama beserta ajarannya memiliki pengikut-pengikut yang tidak bisa sepenuhnya memahami secara utuh ajaran agama mereka.

Kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama terjadi ketika pemeluk agama memiliki pemahaman  yang parsial dan kurangnya pemahaman yang utuh terhadap hubungan antar agama. Kesalahan dalam pemahaman agama tak pelak menyebabkan kesalahan dalam menerapkan ajaran agama itu sendiri.  Misalnya, jika umat beragama salah dalam memahami ritual dan aspek teologi agama mereka, maka kesalahan itu hanya berimplikasi kepada pengikut agama itu sendiri. Akan tetapi, jika mereka salah dalam memahami aspek-aspek sosial suatu agama, maka kesalahan ini akan berimplikasi secara luas bukan hanya terhadap pengikut agama itu sendiri tapi juga masyarakat secara luas seperti dalam bentuk ketegangan bahkan konflik sosial.  Konflik sosial ini juga bisa terjadi dalam bentuk konflik antar negara di dunia.

Setiap agama memiliki identitas dan kepribadiannya masing-masing. Antara satu agama dengan agama yanglain memiliki kesamaan dan perbedaan masing-masing.  Kesamaan nilai-nilai agama diharapkan dapatmenciptakan harmonitas sosial, keadilan, kesejahteraan dan peningkatan standarkehidupan manusia. Kesamaan ini tidak boleh dibeda-bedakan.

Selain memiliki kesamaan, masing-masing agama memiliki perbedaan-perbedaan terutama dalam masalah teologi dan ritual. Dengan demikian, untuk mencapai harmonitas dan kerjasama yang baik dalam jangka waktu panjang, hal-hal yang berbeda ini tidak boleh dipaksakan untuk menjadi sama untuk semua agama. Dengan cara ini,pemeliharaan kerjasama antar agama dapat dipastikan sesuai dengan ajaran setiap keimanan masing-masing agama.

Selain faktor kesalahpahaman dalam memahami agama-agama, terdapat faktor lain yang menjadi alasan terjadinya konflik sosial dan konflik antar agama yang didasarkan pada kepentingan non-agama yang mendompleng ajaran agama dan menggunakan agama sebagai motif untuk tujuan-tujuan yang tidak ada kaitannya dengan agama seperti kepentingan politik, ekonomi dan budaya yang ‘diagamakan’. Kepentingan-kepentingan ini mungkin berasal dari kelompok-kelompok tertentu yang menyatakan motif-motif mereka atas nama agama dan bahkan menggunakan tema-tema agama.

Tugas kita selaku komunitas umat beragama adalah memberikan kebebasan kepada semua umat beragama untuk memahami ajaran agamanya secara benar dan mengurangi kesalahpahaman dalam memahami agama yang mengantarkan pada konflik sosial antar sesama manusia.Selain itu, kita harus secara bijaksana memisahkan antara persoalan-persoalan yang dikategorikan sebagai persoalan agama dengan persoalan-persoalan  yang disalahgunakan sebagai persoalan agama.

Seringkali, para otoritas politik menggunakan isu-isu yang diberi label agama, yang esensinya sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Dalam hal ini, kita harus mampu melakukan identifikasi agama diatas semua interest. Jika agama mampu diletakkan  diatas kepentingan-kepentingan itu, maka agama akan mampu menjadi penerang bagi generasi yang akan datang. Sebaliknya jika kepentingan agama diletakkan dibawa kepentingan-kepentingan non agama, maka yang terjadi adalah pertikaian dan konflik yang melibatkan semua penganut agama.

Selain itu yang dapat kita lakukan selaku umat beragama antara adalah  mendekatkan perilaku umat beragama terhadap tata nilai luhur agamanya. Karena tingkat pemahaman agama masing-masing pemeluk agama sangat beragam. Mungkin mereka yang tidak memahami ajaran agama secara sempurna akan melakukan tindakan-tindakan yang anarkis yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama mana pun.

Negara juga memiliki peran yang penting untuk menjaga harmonitas hubungan antar umat beragama di Indonesia. Misalnya, negara dapat menciptakan sebuah sistem kenegaraan  yang secara adil membagi kepentingan-kepentingan masing masing agama sekaligus memproteksi hubungan lintas agama agar tidak terjadi konflik melalui tata hukum dan kepemimpinan. Melalui aparatur negara,dapat juga dilakukan sebentuk program-program pemerintah yang dapat mewaspadai unsur-unsur yang langsung atau tidak langsung merusak toleransi lintas agama yang sesungguhnya toleransi tersebut ada secara proporsional di dalam semua agama.

 

 

ISLAM, TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA

Sesungguhnya kebebasan beragama itu dijamin secara penuh oleh Islam. Dalam al-Qur’an dijelaskan, La ikraaha fiddiin  (Tidak ada paksaan dalam agama) (QSAl-Baqarah:256). Ayat ini secara tegas melarang segala bentuk paksaan untuk memeluk agama Islam. Dengan kata lain, setiap paksaan untuk memeluk Islam tanpa didasari oleh kesadaran akan berakibat pada ketidak absahan keislaman seseorang. Dengan demikian jaminan kebebasan beragama ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Barang siapa ingin beriman maka hendaklah ia beriman,dan barangsiapa yang ingin kafir maka biarlah ia kafir (QS. Al-Kahfi: 29).  Praktik ini pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika memberikan pengakuan terhadap umat beragama lain sebagai satu kesatuan umat dengan umat Islam dalam Piagam Madinah.  Rasulullah bersabda: Barangsiapa menyakiti orang bukan Islam yang berada di bawah perlindungan Islam, maka ia telah menyakiti saya, dan barangsiapa yang menyakiti saya, maka ia telah menyakiti Tuhan”.(Riwayat Abu Daud)

Praktek kebebesan beragama ini juga dilakukan oleh Khalifah Umar yang memberikan kebebasan pada pengikut Kristen di Baitul Maqdis untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka di gereja-gereja yang ada di kota itu. Sedikitpun Khalifah Umar tidak memaksa para pengikut agama Kristen di kota ini untuk memeluk agama Islam.

Ayat-ayatdi atas sekaligus menolak tuduhan banyak kalangan  bahwa Islam disebarkan dengan pedang sebagaimana agama lain. Sebelum Nabi hijrah ke Madinah Islam tidak pernah memaksa kalangan kafir untuk memeluk agama Islam.Bahkan, ketika Islam kuat dan tersebar di luar jazirah Arab pun, umat Islam tidak pernah memaksakan agama mereka kepada penduduk setempat. Umat Islam saat itu melakukan peperangan dan jihad semata-mata untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.

Sejalan dengan prinsip tanpa paksaan dalam beragama, Islam pun menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama.  Toleransi yang dikehendaki Islam adalah toleransi yang seimbang dengan keimanan. Sebab,toleransi tanpa keimanan akan berujung pada liberalitas dan sikap serba boleh.Sebaliknya, keimanan tanpa toleransi akan berujung pada sikap ekstrimitas yang berlebihan.

Pada dasarnya ajaran toleransi dalam beragama ini merupakan bagian dari ajaran Islam. Karena itu,jika umat Islam tidak memiliki sikap toleransi beragama, maka sebenarnya mereka belum sepenuhnya mengamalkan ajaran Islam yang benar. Disinilah diperlukan sikap yang seimbang antara toleransi dan keimanan. Dengan keseimbangan ini umat Islam dapat bekerja sama dan hidup berdampingan dengan kelompok agama lain secara damai.

Sikap toleran Islam juga diperlihatkan ketika Islam berhadapan dengan budaya lokal masyarakat. Islam meyakini bahwa budaya merupakan hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia yang merupakan anugerah dari Tuhan. Hasil dari kebudayaan iniharus ditempatkan secara wajar oleh  umat Islam. Hanya saja sikap Islam terhadap budaya ini sangat selektif dan inovatif.Aspek-aspek budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama tetap dapat digunakan dan justeru harus dikembangkan untuk kepentingan agama dari manapun datangnya budaya itu. Aspek budaya yang seperti ini justeru dapat digunakan untuk tujuan dakwah agama. Sikap Islam moderat Indonesia mempunyai prinsip untuk senantiasa memelihara aspek-aspek budaya lama yang baik dan mengambil aspek budaya baru yang lebih baik untuk dimanfaatkan. Sikap ini tentu akan menghindarkan pemahaman Islam yang rigid dan kaku serta mengantarkan pada toleransi terhadap segala bentuk budaya yang positif dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Prinsip toleransi budaya  inilah yang dapat menjelaskan kenapa Islam dapat tersebar di wilayah nusantara dengan cara yang damai tanpa adanya pertumpahan dara. Islam datang tidak menghilangkan budaya luhur masyarakat yang sudah ada. Sebaliknya, Islam secara selektif dan inovatif memilih dan memilah budaya-budaya nusantara yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Untuk menjelaskan toleransi Islam terhadap budaya ini, kita misalnya dapat melihat bagaimana Candi Borobudur dan Prambanan sebagai warisan budaya Jawa Hindu dan Budha dapat berdiri tegak sampai sekarang sekalipun masyarakat sekitarnya memeluk agama Islam. Saat itu para pendakwa Islam tak sedikitpun berniat untuk menghancurkan warisan-warisan budaya adiluhung itu hanya demi dakwah Islam. Sebaliknya, mereka tetap memelihara warisan itu sebagai bagian dari budaya masyarakat. Inilah wujud toleransi yang pernah ditampilkan oleh para pendakwa Islam.

 

 

Wallahu a’lamubi al-shawab

 

=============
Dr. KH. Hasyim Muzadi
 
Pengasuh Pesantren MahasiswaAl-Hikam Depok dan Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS)

1,970 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa