Gubernur dan Wagub DKI Jakarta Mempermalukan Diri Sendiri

Share Button

Hari ini Najwa Shihab menunjukkan tatapan mata yang tajam dan melilit Anies dari berbagai sisi. Secara khusus saya ingin menekankan kepada pembahasan dalam becak dan rumah DP nol rupiah. Bahkan Najwa Shihab pun mempertanyakan pengetahuan Anies mengenai Perda dan Pergub.

Saya pun langsung menyadari adanya perbedaan perda dan pergub yang dibahas di dalamnya. Mengenai peraturan gubernur, itu benar seluruhnya merupakan wewenang Anies. Akhirnya Anies pun mengaku bahwa ia memiliki “kuasa” untuk mengubah pergub.

Ini adalah sebuah statement mutlak yang berhasil dipancing oleh Najwa. Namun bagaimanapun juga, itu adalah wewenang yang tidak bisa diganggu gugat.

Tetapi berbicara mengenai peraturan daerah, Najwa benar-benar tepat dalam menembak dan melilit Anies, sehingga satu tulang lagi dipatahkan. Eh.. Maksud saya, satu statement lagi dipatahkan. Peraturan daerah alias perda harus disepakati bersama oleh DPR-D. Hal ini tidak disadari oleh Anies, dan ia begitu mudahnya terjebak ke dalam permainan mata Najwa.

Kebijakan mengenai aturan becak, Anies cenderung berkelit dan tidak jelas. Akhirnya lilitan dari seorang Najwa terhadap Anies berhasil meretakkan beberapa pendirian Anies yang rapuh.

Kebijakan mengenai DP nol rupiah, topik ini paling ramai diperbincangkan khususnya dalam masa kampanye. Anies ditantang untuk menjelaskan secara konkrit.

Mekanisme pembiayaan warga Jakarta agar punya rumah. Menurut Anies, ia tidak ingin warga menyewa. Ia berkata sangat panjang lebar mengenai teori bagaimana warga yang ingin memiliki rumah, bukan sewa. Tujuan Anies adalah agar kekayaan warga meningkat.

Warga Jakarta bisa mendaftar dan mendapatkan tempat ini, yang hanya 705 unit, untuk memberikan warga Jakarta tempat tinggal. Penghasilan di bawah tujuh juta menjadi target pasar 705 unit ini. DPR-D pun mengkritik hal ini, karena kebijakan DP nol rupiah ini bukan kebijakan tunggal.

Menurut anggota DPR-D masih ada kebijakan yang harus dimatangkan dengan kerjasama. Anies juga tidak konsisten dengan janji kampanye. Yang dijanjikan adalah rumah tapak, bukan rumah susun.

Pertanyaan Najwa Shihab benar-benar membuat Anies Baswedan tertekan dan harus berkata “saya selesaikan dulu!”. Celetukan Najwa Shihab benar-benar membuat Anies Baswedan rupanya terpancing emosi. Akhirnya Anies harus membuka kertas mengenai detail rumah susun yang ada.

Perdebatan mengenai kampanye sebelumnya ketika bersama Ahok. Inkonsistensi Anies pun diperlihatkan secara gamblang. Anies diperhadapkan dengan sebuah rekaman statement yang dikatakan olehnya sendiri. Pada akhirnya Anies Baswedan ini harus melakukan klarifikasi tidak nyambung. Ini adalah sebuah blunder parah dari seorang Gubernur DKI Jakarta.

Anies pun mempermalukan dirinya dengan mengatakan bahwa rumah yang dibeli harus dipakai, bukan untuk dijual lagi. Ini adalah kebijakan yang paling tidak pantas dikeluarkan dari mulut Anies. Anies harus memaksa para pembeli rumah, untuk menjual ke BLUD. Namun syukurnya, Najwa tidak membahas hal ini.

Aturan Anies ditambah lagi dengan cara “sewa-beli”. Mereka dianggap menyewa terus, setelah 20 tahun agar bisa menjadi hak milik. Fakta mengenai tunggakan yang sudah ada di era Ahok, dijawab oleh Anies dengan caranya yang lucu. Ia malah ngeles dengan cara mengatakan “Kebijakan sensitif ini tidak bisa dibahas dalam debat sekian detik.” Ya jelas lah, Anies kan memang “begitu”. Hahaha.

Ditambah lagi kehadiran Sandiaga. Sandiaga Uno, rasanya menjadi sosok yang benar-benar tidak jelas dalam menjawab mengenai reklamasi. Sandi malah memulai hal ini dengan “celana Anies yang diperhatikan melonggar.”

Pengakuan Anies pun mengatakan bahwa Sandi sering mandi di kamar mandi gubernur. Ini adalah hal yang menggelikan yang saya dengar. Meskipun tidak sampai suudzon, saya cukup geli mendengarnya.

Sandiaga Uno dijadikan seorang top influencer, karena kutipan yang diambil. Mungkin apa yang dicatat dari statement Sandiaga Uno adalah “Bi Narti”, “Balutan”, dan hal-hal yang tidak penting. Respons Anies pun lucu. Ia mengatakan bahwa mereka bersyukur karena berbagi. Berbagi apa? Berbagai hal yang negatif? Emang hal tersebut bagus?

Benar-benar Anies Sandi mempermalukan partai pengusungnya Gerindra dan PKS dengan keberadaannya. Semoga saja Anies Sandi belajar dari pengalaman. Ketika diundang oleh Najwa Shihab, mereka harus siapkan popok. Saya yang nonton pun terkencing-kencing!

Betul kan yang saya katakan?

 

Hy Bastian | Jakarta News 001 9 55

Share Button

Related posts:

Opa Jappy

Rakyat Biasa