Hari Ini, 15 Agustus 1945, Indonesia Hampir Merdeka

OPA JAPPY

JAKARTA/JNC – 15 Agustus 1945, Soekarno – Hatta langsung berhadapan dengan gejolak semangat pemuda RI sambil menekan agar segera melakukan pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Soekarno, hanya tenang menjawab, “Atas nama apa melakukan itu!?” Pengambilan kekuasaan hanya bisa dilakukan oleh Negara, dan bukan kelompok. Oleh sebab itu, harus merdeka, sebelum melakukan yang lainnya.Ada beberapa peristiwa dunia, yang terjadi pada tanggal 15 Agustus, yaitu

  • 1914 – Kanal Panama mulai beroperasi sebagai pendukung sarana transportasi air 1920 – Polandia mengalahkan Tentara Merah pada Pertempuran Warsawa (Perang Polandia-Soviet)
  • 1944 – Pasukan sekutu mendarat di selatan Perancis (Operasi Anvil)
  • 1945 –  Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia
  • 1945 – Hari Kebebasan di Korea
  • 1947 – India merdeka dari Britania Raya
  • 1948 – Garis Paralel 38° ditetapkan sebagai pemisah antara Korea Selatan dan Utara 1960 – Republik Kongo merdeka dari Perancis
  • 1962 – Perjanjian New York: Irian Barat diserahkan oleh Belanda kepada UNTEA untuk kemudian menjadi wilayah Indonesia
  • 1973 – Perang Vietnam: Berakhirnya aksi pengeboman yang diluncurkan Amerika Serikat ke Kamboja
  • 1975 – Kudeta militer terjadi di Bangladesh 1998 – Ledakan bom terjadi di Omagh, Irlandia Utara. Sekitar 27 orang tewas dalam musibah tersebut 2005 – Konflik GAM-RI berakhir dengan penandatanganan nota kesepahaman di Helsinki, Finlandia,
  • 1769 – Napoleon Bonaparte, terlahir di Corsica (w. 1821).
  • 1945 – Begum Khaleda Zia, Perdana Menteri Bangladesh

Apa yang terjadi pada 15 Agustus 1945, sekitar jelang kemerdekaan RI!?

Ketika itu, Soekarno,ti berhadapan dengan para pemuda yang mendesaknya, agar bangsa Indonesia, jangan terlambat, tak menunggu, dan tidak boleh menanti Jepang menyerahkan kedaulatan Nusantara ke/pada Sekutu. Masuk akal.

Jika itu terjadi, maka Nusantara akan/kembali dijajah Sekutu (yang sebetulnya Belanda); sementara itu, Inggris yang masih sibuk dengan India yang memerdekakan diri, belum sempat mengatur siapa-siapa yang harus ke Nusantara. Jepang masih sebagai penguasa di Nusantara.

Ketika desakan gencar terus menerus menimpa Soekaano – Hatta, agar ambil alih Nusantara, maka Si Bung menjawab, hanya tenang menjawab, “Atas nama apa melakukan itu!?” Pengambilan kekuasaan hanya bisa dilakukan oleh Negara, dan bukan kelompok. Oleh sebab itu, harus merdeka, sebelum melakukan yang lainnya.”

Kata-kata itu, itu justru menghentak; semakin membuat para pemuda, bukannya berhenti dan menyerah, melainkan merapatkan barisan dan menyusun rencana; dari pagi sampai malam. Saat itu, bersamaan dengan Rhamadan; masing-masing di/dalam kesunyian ibadah, tak banyak yang ditinggalkan. Pada satu sisi, pemuda/i revolusiener menyusun rencana aksi; di sisi lain, Soekarno-Hatta menata rencana dialog.

Mereka berada pada dua kubu; dua kubu yang mempunyai satu tujuan yaitu Nusantara, harus merdeka; merdeka sebagai bangsa yang merdeka, tak di jajah oleh siapa pun.  Nanun dari mana memulainya!?

Setelah Taraweh 15 Agustus 1945, kediaman Soekarno Jl Pegangsaan Timur No. 56, mulai didatangani para pemuda. (menurut saya) Malam itu, 15 Agustus 1945, hampir-hampir menjadi Saat Proklamasi Kemerdekaan RI; hampir-hampir Indonesia merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945

Mari kita ingat kembali, dialog dramatis tersebut: “Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi!” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung  Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang “

Kita harus segera merebut kekuasaan!” Sukarni berapi-api.

“Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!” seru mereka bersahutan. Wikana berani mengancam Soekarno dengan pernyataan, “Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ” Ini batang  leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!”

Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang  akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya  katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?”

Namun, para pemuda terus mendesak; “apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya!” “Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaan? Mengapa bukan kita yang menyatakan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?”

Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri” Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding.

Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta.  Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Entah sampai jam berapa, dialog marah itu terjadi, dialog yang hampir-hampir memerdekakan RI, dialog antar para pemuda, yang kini, hari ini, di sini, kita sebut sebagai para National Building. Agaknya, kehangatan kata dan kata-kata, malam itu, merambah juga ke diri – tubuh Bung Karno;  ia mengalami demam, panas, meriang.

15 Agustus 1945, diawali dengan tenang, sunyi, senyap; dilanjutkan dengan malam dialog yang panas, marah dan tanpa marah; dan kemudian teduh, semangat membara dan hangat; kehangatan yang tertampung pada tubuh Soekarno, sehingga ia menjadi demam.

OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

685 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa