Ia Tidak Ada Di Sini, Ia Sudah Bangkit

JAKARTA | JNC – Pada masa lalu, di Palestina, ada semacam kebiasaan atau ritual bahwa perempuan-perempuan ditugaskan secara khusus untuk memberi rempah-rempah pada jenazah atau orang yang sudah mati dan kuburkan.

Perawatan itu dengan tujuan agar jenazah tidak cepat rusak -mungkin seperti mummi orang Mesir- sehingga dapat bertahan dalam kuburan beberapa waktu.

Ketika jenazah Yesus dimakamkan, proses memberi rempah-rempah tersebut tidak sempat dilakukan, karena adanya tekanan dari penguasa. Oleh sebab itu, para perempuan yang mau memberi rempah-rempah, datang ke kubur Yesus pada waktu subuh; dengan pertimbangan tentara Romawi yang menjaga kubur telah kelelahan, sehingga bisa memberi peluang untuk mereka merawat jenazah Yesus.

Namun, ketika perempuan-perempuan itu tiba, mereka tidak menemukan jenazah Yesus.

Mereka tidak menemukan apa-apa, selain Batu Pintu Kubur yang telah bergeser; kubur yang terbuka; yang tersisa hanya Pembaringan tanpa jenazah serta kafan bekas jenazah Yesus.

Kenyataan itu menjadikan mereka diam, membisu seiring keheningan dan kedinginan subuh; ketika Matahari pun belum memanaskan Taman yang penuh Kuburan-kuburan serta liang-liang lahat kosong.

Tiba-tiba, Suara Malaikat menyentak memecah kehenigan dan kedinginan subuh, “Jangan mencari Yang Hidup dari antara Yang Mati; Ia tidak ada di sini, IA telah bangkit.”

Ada semangat baru pada perempuan-perempun tersebut, walau sesaat yang lalu mereka merasa kehilangan; kini melangkah dengan kepastian, karena kesedihan dan kehilangan terobati, walau masih menyimpan tanya dalam hati, kemana IA pergi setelah bangkit?

Coba kita indentifikasikan diri “sama” dengan perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus; tapi kita tidak membawa rempah-remah melainkan dompet, hp, dan lain-lain.

Kita adalah laki-laki dan perempuan-perempuan masa kini, yang bukan berjalan ke kuburan, melainkan ke tengah keramaian kota, mall, shoping centre.

Kemarin kita melihat di pinggir jalan, di bawah jembatan, di sudut tembok, dan di celah parkiran, di dekat tempat sampah, ada nyawa yang tertidur, duduk, berbicara, mengoyang-goyang kaleng rombeng, bahkan banyak yang kotor, jorok, kumuh, penuh borok dan luka, serta meminta-minta.

Dan ketika, ‘hari ini’ kita ada dan melewati tempat mereka, ternyata “mereka masih ada di situ, mereka belum bangkit.”

Mereka belum berubah, walaupun sekelilingnya telah berganti seiring dengan perubahan waktu.

Ia tetap di situ,
ia masih mati
Ia tetap di sana,
ia tetap mati

Ia tetap di sini,
biarkan ia tetap mati
Ia tetap di situ, di sini, di sana,

Ia belum bangkit ia masih mati

Kita bisa merayakan PASKAH [= lewat / melewati], tapi hanya melewati segala sesuatu?

Atau membiarkan nyawa-nyawa dalam tubuh papa tetap di situ, belum bangkit; belum berubah, atau bahkan terlupakan.

PASKAH Yesus Kristus, ada karena cinta kasih, dan perhatian serta pengorbanan demi manusia dan kemanusiaannya.

Sayangnya, kita, hanya melewati dan membiarkan;

PASKAH masa kini, IA tidak ada di sini, IA telah BANGKIT

Telah berubah menjadi
Ia tetap di situ,
ia masih mati
Ia tetap di sana,
ia tetap mati
Ia tetap di sini, biarkan ia tetap mati
ia tetap di situ, di sini, di sana,
ia belum bangkit ia masih mati

Selamat Merayakan Paskah Jesus Kristus

Opa Jappy

100,586 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa