Iblis Terbahak-bahak

 

πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜Šβ˜ΊπŸ˜πŸ˜„πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜‚
Pada suatu hari datanglah malaikat-malaikat menghadap Tuhan, karena mereka mau meeting penting.

Komendan para Iblis yang biasa bertugas di Nusantara, yang tak diundang, tapi ia menerobos masuk ruang meeting.

Agar Iblis keluar, Tuhan bertanya kepadanya, ”Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: β€œDari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi, dan melihat Nusantara dari udara”.

Lalu Tuhan bertanya kepada Iblis: β€œApakah engkau memperhatikan hamba-hamba dan umat ku di sana!?

Mereka semuanya beragama, dan percaya pada-Ku; namun sekarang engkau keluar;”

Iblis pun bergegas keluar ruang meeting. Tetapi, sebelum Iblis keluar, ia mengatakan,” Kami sudah malas bertugas di Nusantara;”

β€œMengapa?” tanya Tuhan kepada Iblis.

Iblis menjawab dengan tenang dan meyakinkan, β€œKarena umat beragama di sana, di Nusantara, sudah tak perlu kami goda, sebab mereka sudah saling menggoda dan menjatuhkan; bahkan tindakan-tindakan yang biasa kami kerjakan, telah di ambil alih oleh umat beragama,”

Setelah itu Iblis pun keluar, dan menuju ke tempat lain, untuk menggoda manusia.

😎😎😎
Kisah di di atas adalah tafsiran ataupun aplikasi seenaknya dari/terhadap Kisah (Nabi) Ayub dalam/pada Kitab Ayub pasal 1 dan 2.
😎😎

Menurut hematku, walau diriku bukan temannya Si Iblis atau anak buahnya, kini ia (Si Iblis dan teman-temannya) sementara tersenyum lebar, bahkan tertawa terbahak-bahak.

Penyebabnya sederhana, karena begitu mudah membuat anak-anak negeri, saudara sebangsa – setanah air di Nusantara saling bertengkar karena beda pendapat, bahkan saling memaki dan menghina.

Bayangkan, hanya karena tak memilih Calon Gubernur yang Se Agama, maka menuding. menuduh, menista orang lain.

Itulah, rata-rata orang Indonesia; lebih suka mencaci karena ketidaktahuannnya, daripada “masuk dan menemukan bukti serta belajar mengenal dan mengetahui.”

Nah …. kira-kira seperti itulah sikon kita.

Tak sedikit orang-orang di Negeri yang lebih suka membangun tembok-tempok perbedaan dan pemisahan; dan perbedaan dan pemisahan kadang di bawa masuk ke dalam hubungan sosial sehari-hari.

Mudah dan gampanganya orang Indonesia “terpecah” karena hal-hal kecil dan sederhana itu, maka bisa jadi Indonesia menjadi mudah untuk dikalahkan.

Cara mengalahkannya tak perlu senjata canggih atau pun nuklir, cukup dengan “opini dan kegiatan” dari luar, nuh jauh dari Indonesia.

Ya, kalahkan dan runtuhkan Indonesia “hanya” dengan membangun opini (di luar sana) dan melakukan kegiataan yang bisa dinilai sebagai “akibat sentimen perbedaan SARA,” kemudian terus menerus disiarkan ke Indonesia.

Secara pelan atau pun cepat, hal tersebut akan memicu “perbedaan pendapat di Indonesia.”

Dan, perbedaan itu, bisa menjurus ke saling meruntuhkan dan menghancurkan.

Lihat kasus-kasus, misalnya Hamas, Palestina, Yahudi, Valentine, Natal, dan Charlie Hebdo, ISIS, Boko Haram, Al-Qaeda, OPM, RMS, bahkan tentang rekening gendut, Pilkada, dan lain sebagainya telah menjadikan banyak orang beda pendapat; kemudian mereka saling mencaci satu sama lain.

Itulah sikon kita; dan mungkin saja masih banyak yang lain.

Dan bisa, semuanya itu, menjadikan “Iblis tertawa terbahak-bahak melihat kita bertengkar hanya soal yang tak penting; yang tak berhubungan langsung dengan diri sendiri.”

Ku jadi ingat pesan-pesan hikmat dalam The Galatians:

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Sebab seluruh hukum tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Kamar Sebelah Collection

100,381 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa