Keberanian untuk Menghargai Minoritas

Bukankah minoritas selalu kalah? Menghargai minoritas tidak butuh keberanian. Minoritas itu tidak punya kekuatan, maka power sedikit saja cukup untuk menguasai mereka . Lihat saja contoh-contoh berikut.

Anak kecil adalah minoritas. Sebab mereka masih kecil dan belum berakal bulus, maka mudah diperdaya orang dewasa. Mereka sangat takut pada orangtuanya , gurunya atau kakak kelasnya yang otoriter. Mereka bahkan dapat dirundung atau disiksa selama bertahun-tahun, bahkan ada yang dibunuh, oleh orangtuanya. Mereka, atau orang dewasa lainnya tak bisa berbuat apa-apa.

Perempuan adalah minoritas di mata banyak budaya di muka bumi ini. Sebab secara fisik perempuan biasanya lebih lemah. Namun, sebaliknyalah yang sering terjadi, perempuan dirundung bahkan sampai mengalami kekerasan fisik, tanpa mereka bisa berbuat apa-apa.

Bawahan di kantor adalah minoritas. Jika bawahan menggantungkan nasib asap dapurnya pada pendapatan kantor, tentu atasan harus diperlakukan hati-hati agar tak ada ancaman demosi atau sanksi bagi bawahan akibat ketidakpatuhan pada atasan .

Mereka yang miskin sering menjadi minoritas di lingkungannya. Kuasa harta memang luar biasa besarnya sehingga bisa “membeli” yang miskin demi keuntungan Sang Kaya. Ketika orang sudah dibeli, utang budi bahkan dapat dibayar nyawa. Orang-orang miskin bisa dikuasai yang kaya karena mereka memiliki power harta, kekuasaan, dan kekuasaan.

Suku bangsa asli sering menjadi minoritas di tanah airnya sendiri. Tengoklah! Indian di Amerika, Aborigin di Australia yang keberadaannya terdesak oleh pendatang yang lebih cerdik dan terdidik, mereka akhirnya menjadi golongan terpinggirkan.

Agama juga sering menimbulkan akibat yang satu merasa mayoritas terhadap lainnya. Contoh yang terjadi di dunia cukup banyak, termasuk di Indonesia, India, Myanmar, dan banyak tempat lain.

Tidak perlu keberanian untuk menekan minoritas. Cukup dengan menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh maka minoritas akan tunduk dan patuh.

Berani menghadapi yang lemah tidak butuh keberanian . Dukungan pasti akan diperoleh dari sesama mayoritas yang menginginkan agar minoritas tak mengganggu kenyamanan mayoritas .

Namun, coba ditelaah nilai moral apa yang terlihat dalam situasi-situasi itu.

Sesungguhnya, mereka yang menekan minoritas adalah para pengecut; mereka hanya berani melawan yang lemah. Mereka adalah para pengecut , seperti
– orang tua yang menyiksa anaknya
– para suami yang memperlakukan istrinya dengan kekerasan
– atasan yang menggunakan kekuasaannya untuk menekan bawahannya
– orang kaya yang memperlakukan orang kelas bawah dengan semena-mena
– suku bangsa mayoritas yang semakin meminggirkan suku bangsa asli
– pengikut agama mayoritas yang tidak memungkinkan agama minoritas beribadah

Mereka sesungguhnya semata-mata ingin bertahan di zona nyaman. Mereka takut kehilangan kenyamanan jika para minoritas mendapat posisi mayoritas dan ganti akan mengalami penekanan.

Sekalipun demikian, harapan masih ada jika punya kesiapan membuka diri, melihat dari sisi berbeda.Memang tidak mudah karena untuk menghargai minoritas diperlukan keberanian: keberanian untuk menghadapi kemungkinan bengkok balik oleh mereka yang minoritas, keberanian untuk dicerca oleh sesama mayoritas karena tidak memperlakukan minoritas sesuai posisinya.

Keberanian untuk menjadi berbeda dari orang lain sesama mayoritas. Keberanian untuk mempertanggunjawabkan sikap bertentangan dengan sebagian besar mayoritas. Keberanian untuk kehilangan respek di mata mayoritas.

Seberapa pentingnyakah semua itu? Benjamin Franklin, presiden AS di abad ke 18, juga salah satu pendiri negara Paman Sam, berpandangan bahwa bahkan orang yang berhati paling buruk sekalipun ,masih memiliki rasa hormat terhadap kebenaran . Jika penghormatan dari Yang Empunya kehidupan dinilai lebih penting ketimbang penghormatan dari manusia , maka hampir pasti sikap yang dipilih adalah keberanian untuk membela kebenaran, bukan mencari zona nyaman.

Pada akhir April lalu keberanian seperti itu juga ditunjukkan anggota Pemuda Ansor saat mengusung peti jenazah Mgr Hilarius, Uskup Pinang. Bagi pemuda Ansor, respek kepada sesama tidak harus membedakan status sosial maupun agama. Mereka tak khawatir kehilangan kehormatan. Sama seperti Mahatma Gandhi, mereka meyakini bahwa sesungguhnya tidak pernah ada seorang pun yang kehilangan penghormatan atas dirinya kecuali ia sendiri memberikannya. Mereka memiliki keyakinan diri tanpa menyombongkannya, mereka menghargai kelebihan orang lain tanpa ada ketakutan bahwa kelebihan orang lain akan dimanfaatkan untuk melemahkan mereka.

Menghormati minoritas membutuhkan keberanian untuk rendah hati tanpa menjadi rendah diri.

Endang Hoyaranda-Satu Harapan
Edit: Opa Jappy

1,013 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa