Kebodohan, Kelucuan, dan Kebohongan dalam Kampanye SARA Melawan Ahok

Serangan-Sara-kepada-Ahok-620x330

Satu tahun menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, kampanye SARA anti-Ahok terus berlangsung dengan gencar. Madina Online, misalnya, sudah memberitakan tentang media yang, tanpa bukti, menuduh para pengusaha Tionghoa di Jakarta memaksa para karyawan untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (baca: Berita tentang Pemaksaan Karyawan untuk Mendukung Ahok dan Peran Kivlan Zein). Media itu dibina oleh Kivlan Zein, mantan petinggi militer yang sudah sejak lama menyerang Jokowi dan Ahok. Namun di luar Kivlan, ada banyak tokoh lain yang menjalankan modus serupa.

Bagi sejumlah kelompok Islam, Ahok tampaknya sudah dianggap sebagai musuh yang harus dilawan bersama. Pada akhir Februari lalu, misalnya, diluncurkan apa yang disebut sebagai Konvensi Gubernur Muslim Jakarta di Aula Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tujuannya adalah menentukan satu pasangan calon Gubernur DKI yang beragama Islam di Pilkada 2017.

Kampanye agama dan ras untuk menjatuhkan Ahok ini tidak hanya melibatkan mereka yang disebut tokoh agama, namun juga para politisi, seniman yang berpolitik, dosen yang berpolitik atau bahkan presenter TVRI. Mereka bersama-sama menghantami Ahok dengan tuduhan serupa: Ahok adalah ancaman bagi  Islam.

Berikut adalah sejumlah orang terkenal yang terlibat dalam kampanye SARA tersebut.

Rizieq Shihab

Dari kalangan tokoh Islam, salah seorang yang paling keras meneriakkan kampanye SARA anti-Ahok adalah ketua Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab. Dia memang membenci Ahok sejak awal kepemimpinan sang Gubernur. Begitu Ahok diangkat menjadi Gubernur di akhir 2014, Rizieq sudah menggalang Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) tolak Ahok. Pada masa itu, GMJ bahkan sudah mendeklarasikan Fahrurrozi Ishaq sebagai Gubernur DKI tandingan.

Di acara Konvensi Cagub Muslim DKI pada Februari lalu, Rizieq melarang umat Islam yang tinggal di Jakarta untuk memberikan fotokopi KTP sebagai bukti dukungan bagi Ahok. Dia juga meminta umat Islam agar tidak golput pada pemilihan Gubernur nanti dan wajib memilih kandidat beragama Islam.

Pada Januari 2016, Rizieq kembali bersuara. Ia mengeritik pandangan yang menyatakan: “Lebih baik memilih pemimpin kafir yang bersih daripada pemimpin muslim yang korup.” Dalam pandangan Rizieq, pernyataan itu mengandung ‘pendangkalan akidah.”

Lebih jauh lagi, menurut Rizieq, pandangan semacam itu pada gilirannya akan membuat para perempuan berpandangan, “lebih baik punya suami kafir tapi setia daripada punya suami muslim tidak setia.”

Argumen Rizieq itu terdengar aneh dan menggelikan namun nyatanya pernyataan itu disebarluaskan.

Didin Hafidhuddin

Pemimpin Islam lain yang juga bicara soal Ahok dengan sentimen SARA adalah KH. Didin Hafidhuddin. Pada awal Maret, tokoh yang sempat menjadi calon presiden dari PKS ini menyatakan bahwa yang menjadi pemimpin umat Islam adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan selalu berjamaah.

Walau tidak menyebut secara spesifik nama Ahok, jelas Didin hendak mempengaruhi publik untuk tidak memilih Ahok atas alasan agama. Ia bahkan menyatakan: “Akan terjadi penyesalan luar biasa di akhirat nanti apabila secara sadar dan sengaja kita memilih pemimpin orang yang tidak beriman.”

Fahira Idris

Dari kalangan politisi ada Fahira Idris. Wakil Ketua Komite III DPD RI, pada 18 Maret, mengeluarkan pernyataan keras dalam twitmob (twit yang dilakukan beberapa orang dalam waktu bersamaan) yang berbunyi: “Target Liberal untuk membolehkan orang kafir memimpin di wilayah mayoritas umat Muslim. #PropagandaLiberal.”

Twitmob-nya yang lain berbunyi: “Karena hanya Islam yang suci dan ulama mulia yang boleh masuk ke dalam politik agar tidak dikotori para politisi durjana. #PropagandaLiberal.”

Dua hari kemudian, Fahira memang sudah mengeluarkan twit berisi permintaan maaf atas twitmob tersebut. Namun, twit itu sudah menyebar dan sangat mungkin menumbuhkan kebencian terhadap kaum politisi non-Islam yang digambarkan Fahira sebagai ‘politisi durjana’.

Nazaruddin Sjamsuddin 

Dari kalangan ilmuwan muncul nama Nazaruddin Sjamsuddin. Mantan Ketua KPU yang pernah masuk penjara karena kasus korupsi ini menyerang Ahok dengan menuduh sang Gubernur dengan sengaja menerapkan pajak tinggi di Jakarta sehingga masyarakat ‘pribumi’ tidak akan mampu membayar pajak dan terpaksa pindah dari Jakarta. Sebagaimana dikutip media online VOW Indonesia (24/02/2016), menurut Nazaruddin, Ahok dengan sengara membuat pribumi tidak betah tinggal di Jakarta sehingga etnis Cina akan menguasai Jakarta.

Mantan dosen Universitas Indonesia ini berpandangan, peluang Ahok akan semakin besar bila ia bergabung dengan kekuatan bisnis Tionghoa lainnya, seperti Hary Tanoesoedibjo. “Belum lagi etnis Cina yang menguasai media cetak maupun elektronik,” ujarnya.

Argumen Nazaruddin ini jelas tidak logis. Pengenaan pajak progresif adalah hal lazim di banyak negara. Logikanya, semakin tinggi nilai ekonomi tanah Anda, semakin tinggi pula pajak yang Anda harus bayar ke negara. Lagipula, mengapa pula Nazaruddin menganggap hanya kalangan Tionghoa yang sanggup membayar pajak tinggi? Ini semua tak logis. Tapi bisa jadi logika memang tidak penting bahkan bagi seorang ilmuwan terkenal ketika tujuan utamanya adalah untuk menjatuhkan lawan politik.

Kenan Nabil (Penyiar TVRI)

Secara mengejutkan, muncul pula serangan dari seorang pembawa berita TVRI, Kenan Nabil. Di akun Facebook miliknya, ia secara terang-terangan mengunggah foto dirinya membawa tulisan, “Saya Muslim, Gak Mungkin Pilih Ahok”.

Di status FB-nya, ia menjelaskan bahwa sikap demonstratif itu ia lakukan untuk membalas tim kampanye Ahok yang sebelumnya berbohong dengan menampilkan foto dua wanita non-muslim yang membawa tulisan, “Saya muslim dan saya pilih Ahok”.

Tulis Kenan: “Jangan bilang kita yang mulai bawa agama duluan ya… Mereka yang mulai duluan. Asal kalian tahu ini bentuk propaganda busuk.”

Kenan tampaknya merujuk pada tuduhan yang beredar di media sosial tentang ‘kebohongan’ para pendukung Ahok. Seorang netizen bernama Harris Calister, misalnya, menyatakan bahwa dia mengenal salah seorang perempuan pendukung Ahok di gambar tersebut dan dia adalah non-muslim.

Benarkah tuduhan Kenan? Ternyata tidak. Begitu kontroversi mencuat, dua perempuan yang muncul di foto itu –Kanita Hardiyanti dan Uswatun Hasanah– mengklarifikasi bahwa mereka adalah muslim dan mereka adalah pendukung Ahok. Tidak jelas, apa reaksi Kenan setelah terbukti salah.

Ahmad Dhani

Dari kalangan selebritis dunia hiburan hadir pula Ahmad Dhani. Musisi kontroversial yang sudah disebut-sebut bakal menjadi kandidat Gubernur DKI ini bahkan menyelenggarakan konferensi pers untuk menyerang Ahok pada 21 Maret.

Sebelum konferensi pers, Dhani sudah mengunggah cuitan Twitter berbunyi: “Apakah QS. An-Nisa 144 bisa ditafsirkan berbeda dari teks Quran oleh Ulama untuk memutuskan jalan Ahok jadi Gubernur DKI?”

Di konferensi pers itu sendiri, Dhani bahkan menggambarkan para kandidat Gubernur DKI yang akan melawan Ahok sebagai warga negara “yang tidak ingin tanah Nusantara dikuasai asing”.

Dhani menyatakan, masyarakat Indonesia adalah keturunan Majapahit dan Mataram, sementara Ahok bukan. “Indonesia ini tanah warisan Nusantara,” katanya.” Lanjutnya: “(Indonesia) adalah warisan leluhur nenek moyang kita, bukan nenek moyang Ahok.”

Sepanjang konferensi pers itu, Dhani memang terkesan banyak meracau. Dhani, misalnya, mengakui sulit untuk bisa mengalahkan Ahok, namun ia percaya bahwa akan ada ‘kekuatan kosmis’ untuk mendukungnya. Ia mencontohkan bahwa saat Belanda dan Jepang menjajah Indonesia, tidak ada pihak yang menyangka kedua negara itu akan angkat kaki. Tapi ternyata gara-gara Belanda diduduki Jerman dan Jepang dibom atom, Indonesia bisa merdeka. Karena itu Dhani percaya akan ada ‘kekuatan kosmis yang akan mengalahkan Ahok’.

Suryo Prabowo

Tokoh militer yang menyerang Ahok dengan semangat SARA adalah Suryo Prabowo. Ia bahkan memperingatkan (atau bahkan ‘mengancam’) bahwa bila Ahok sampai menang dalam Pilkada DKI 2017, kerusuhan anti-Tionghoa bisa kembali berulang.

Pada pertengahan Maret, di akun Facebook miliknya ia menurunkan dua tulisan tentang Ahok dan kaum etnis Tionghoa. Di tulisan pertama ia memperingatkan agar jangan ada etnis Tionghoa yang sok jago ketika berkuasa. “Kalau sayang dengan teman-teman atau sahabat dari etnis Tionghoa, tolong diingatkan agar jangan ada etnis Tionghoa yang sok jago ketika berkuasa atau dekat dengan penguasa,” tulis Suryo (15/3).

Ia kemudian menggambarkan sejarah kelam kaum etnis Tionghoa yang berulangkali menjadi korban pembantaian sejak abad 18.

Di satu sisi, Suryo memang terkesan sekadar memberi peringatan agar jangan sampai kerusuhan rasial terulang. Namun yang mengherankan, ia justru menuduh bahwa para pendukung Ahok sebagai pihak yang dengan arogan melakukan kampanye SARA.

Ini menjadi semakin jelas dalam tulisan keduanya. Di situ Suryo menulis bahwa sangat mungkin bila Ahok terpilih menjadi Gubernur DKI 2017, maka Ahok akan menjadi semakin sok jago. Tulis Suryo: “Bagaimana tidak? Lha wong baru jadi gubernur karena dapat ‘muntahan’ dari Pak Jokowi yang jadi presiden saja, dia sudah sok jago seperti sekarang.”

Karena itulah, Suryo kemudian menyajikan skenario kerusuhan massa bila Ahok menang dalam Pilkada 2017. Menurutnya, kemenangan dan sikap sok jago Ahok ini akan membuat kelompok pribumi dan muslim marah. Ditambah pula dengan gelombang buruh dan modal dari Cina, kemarahan ini akan memicu terjadinya AMUK MASSA terhadap etnis Cina di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Skenario kerusuhan tersebut tidak berhenti di situ. Suryo membayangkan bila penyerangan terhadap kaum Tionghoa ini terjadi, maka Amerika Serikat dan Cina pun akan melakukan operasi militer di Indonesia, dengan dalih ‘intervensi kemanusiaan’.

Tulisan Suryo memang memiliki nada berbeda dengan para tokoh sebelumnya yang secara jelas melakukan kampanye SARA melawan Ahok. Suryo memang terkesan seperti mengingatkan ancaman kerusuhan rasial dan agama. Bagaimana pun, peringatan ini adalah semacam upaya menakut-nakuti publik untuk tidak memilih Ahok karena alasan yang terkait SARA.

Jadi, setahun sebelum Pilkada DKI berlangsung, kampanye SARA ini sudah sedemikian intensif dilakukan. Sebagian terkesan lucu atau bodoh, namun juga menakutkan.[]

Ade-ArmandoOleh Ade Armando

Pemimpin Redaksi Madina Online dan Dosen Komunikasi di FISIP Universitas Indonesia.

Dr. Ade Armando, MSc. adalah seorang ahli komunikasi, pengajar dan jurnalis Indonesia. Ia mengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indones

2,721 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa