Kehamilan yang Tak Diinginkan dan Aborsi

Seks merupakan energi psikis yang menghantar manusia melakukan tindakan yang bersifat seksual dalam bentuk persetubuhan/coitus, baik dengan tujuan reproduksi maupun tidak, serta disertai dengan suatu penghayatan yang menyenangkan.

Atas dasar itu, maka setiap individu (manusia) laki-laki dan perempuan yang telah dewasa dan normal berusaha untuk mendapat pengalaman yang menyenangkan tersebut melalui perkawinan atau pernikahan.

Kenikmatan Seks-seksual (biasanya didapat) melalui perkawinan/pernikahan, itu bisa terjadi pada manusia (laki-laki dan perempuan) yang menikah; namun bisa juga didapat dengan cara tidak biasa.”

Artinya, orang bisa melakukan itu sebagai sex pra-nikah (yang melakukan ml sebelum menikah, pada usia remaja sampai dewasa); dan sex di luar nikah (orang yang sudah menikah, namun ml dengan laki-laki atau pun perempuan yang yang bukan isteri/suaminya). Sex pra-nikah, (di sini, perkawinan tak berfungsi dalam dunia sex ini) telah telah terjadi dan merambah kesegenap lapisan usia; setiap laki-laki dan perempuan setelah akil balig, bisa melakukannya.

Ada banyak peluang (dan sangat gampang didapat) untuk itu. Akibatnya, tak sedikit kehamilan pada usia remaja, kematian akibat gagal aborsi, dan tak terhitung anak yang terlahir sebelum menikah.

Sex pra-nikah, bisa terjadi pada mereka (pasangan) yang masih pacaran, mereka (pasangan) sudah bertunangan, atau pun laki-laki dan perempuan usia dewasa yang belum menikah (namun butuh penyaluran energi seksnya).

SPN (SEKS PRA-NIKAH), bisa dilakukan dengan pacar, tunangan, ttm, atau pun dengan laki-laki dan perempuan yang berprofesi sebagai pekerja sex komersial.

Sex di luar nikah, orang yang sudah menikah, namun ml dengan laki-laki atau pun perempuan yang yang bukan isteri/suaminya.

Sex di luar nikah, juga tidak membutuhkan perkawinan; pada kegiatan ini, lembaga perkawinan tidak dibutuhkan – tidak berfungsi.

SDLN (seks di luar nikah), bisa dilakukan oleh banyak orang yang berstatus suami dan isteri; bisa dengan teman kantor, kekasih, selingkuhan, gigolo, perempuan psk, atasan, bawahan, atau bahkan dilakukan dalam arena pesta seks yang berganti-ganti pasangan, dan seterusnya.

Hal-hal di atas sedikit membantu kita, ketika ingin mengetahui sikon terjadinya hamil atau pun kehamilan; hamil atau pun kehamilan (selanjutnya hanya disebut kehamilan) bisa terjadi pada (perempuan) usia remaja hingga dewasa akhir, tergantung masa kesuburan atau kemampuan reproduksinya, pada usia dewasa akhir.

Kehamilan bisa terjadi akibat seks pra-nikah maupun seks di luar nikah; dua-duanyanya mempunyai potensi yang hampir sama.

Kehamilan pada akibat seks pra-nikah dan di luar nikah inilah, yang saya sebut sebagai Kehamilan Yang Tak Diinginkan atau KYTD, (selanjutnya saya gunakan KYTD).

Pada mereka yang melakukan hubungan seks di luar nikah, katakanlah isteri yang selingkuh, jika terjadi KYTD, maka hal itu “relatif aman.”

Aman, karena suami Si Isteri yang selingkuh, yang akan menjadi ayah si bayi. Si Isteri yang selingkuh tak perlu risau dan takut menanggung malu; malu akibat hamil dengan selingkuhan atau hamil karena seks bebas.

KYTD juga bisa terjadi pada mereka yang berstatus janda (terutama janda muda yang genit), tentu akibat hasil karya bersama kekasihnya (lajang atau suami orang lain).

Bagaimana dengan KYTD, akibat seks pra-nikah!? Katakanlah pada gadis usia remaja, masih berstatus pelajar SMP dan Siswi SMA/K.

Berdasar Riskesdas 2010. lihat image, dengan tingkat usia pertama kali melakukan hubungan seks, maka tidak menutup kemungkinan, angka KYTD pada rentang usia tersebut cukup tinggi.

Di samping itu, KYTD juga terjadi akibat perkosaan, diperkosa, atau pun incest (yang bukan diperkosa, tapi sama-sama mau).

Perkosaan atau diperkosa merupakan hubungan seks yang diawali dengan ancaman, paksaan, serta salah satu pihak tidak menghendaki hubungan tersebut. KYTD akibat perkosaan (hanya satu kali), mungkin kecil angkanya, namun bisa terjadi, apalagi sering diperkosa oleh orang yang sama.

Jelas, KYTD bisa muncul dari seks pra-nikah, seks di luar nikah, dan akibat diperkosa; dan yang paling menjadi atau membuat “masalah baru” adalah dua yang pertama.

Jika terjadi KYTD, maka solusi yang terbaik untuk yang bersangkutan, yang datang datang dari keluarganya!?

Misalnyal, KYTD pada remaja atau gadis usia SMP/SMK, dan juga mahasiswi; sementara keluarga tidak bisa menerima hal tersebut, dan mau terjadi pernikahan dini. Ya, daripada menanggung malu, maka yang terjadi adalah melakukan aborsi.

Kemana mereka pergi! Betul, klinik aborsi ilegal atau dukun. Akibatnya, pendarahan hebat atau pun kematian, (untuk kehamilan akibat salah aborsi, seorang teman infokan bahwa di Indonesia bisa mencapai ratusan per tahun).

Mengapa seperti itu!? Jelas, aborsi yang tak sehat, bisa berdampak pada kematian.

Selain itu, ada juga info bahwa, akibat, gagal aborsi, maka yang terjadi adalah kelahiran dengan cacat tertentu pada sang bayi, (benar tidaknya, tentu pada dokter yang tahu hal tersebut).

Dengan demikian, jika KYTD akibat perkosaan, juga ditolak, dengan berbagai alasan, apa solusinya!?

Agaknya, ada alasan-alasan yang sangat mendasar tentang KYTD, sehingga, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 ini tentang Kesehatan Reproduksi; pada PP tersebut, ada semacam izin atau membolehkan tindakan aborsi.

Aborsi dilakukan karena alasan dan indikasi darurat medis, atau kehamilan akibat perkosaan.

Aborsi akibat perkosaan tersebut hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Cukup di situ, Negara izinkan aborsi.

Sayangnya, masih banyak kalangan menolak aborsi karena KYTD akibat perkosaan; bagi mereka apa pun alasannya, aborsi harus ditolak alias diharamkan.

Lucunya, penolakan itu dengan alasan yang nyaris sama yaitu, alasan “BISA JADI”

Misalnya, ada yang menyebut bahwa, ” … bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai contoh ada remaja yang hamil di luar nikah. Yang menghamili juga masih remaja yang belum berpenghasilan, bahkan mungkin masih bersekolah. Padahal mereka melakukan hubungan seksual atas dasar suka sama suka. Namun, setelah remaja perempuan hamil, karena janin yang dikandungnya tidak diinginkan akhirnya melakukan tindakan aborsi,….. ”

Dan masih banyak pendapat lain, yang di awali dengan “Bisa jadi ……” Bisa jadi bla bla bla ….”

Selain itu, lantangnya penolakan aborsi akibat perkosa, menurutku, mungkin saja datang dari orang-orang yang belum mengenal, mengetahui, atau pernah berhubungan dengan anak yang lahir akibat perkosaan dan perempuan korban perkosaan.

Catatan kecil, bersumber dari info yang sangat terbatas. Perempuan korban perkosaan umumnya mengalami trauma psikologis yang sanagt berat, dan tak pernah hilang dari dalam dirinya. Kejadian itu, menjadi luka-luka batin yang tak tersembuhkan. Luka-luka batin itu, ada yang kemudian membawa dirinya pada ujung kehidupan melalui bunuh diri.

Bagaimana dengan anak yang lahir akibat ibunya diperkosa!!? Ada kasus, sekali lagi ini info dari yang pernah menangani kasus tersebut, selama kehamilan, jika tidak aborsi, Si Ibu akibat trauma dan gangguan psikisnya, sempat tidak mau maka, memukul-mukul perutnya, histeris, dan sebagainya.

Bagaimana jika anaknya dilahirkan!? Tidak kalah seru, walau ASInya melimpah, namun tak menyusui anaknya.

Ketika bertumbuh sebagai anak yang lahir akibat perkosaan, beban sosiologis yang ada pada dirinya juga tak ringan; apalagi jika ia tahu (dari gunjingan maupun percakapan sosial) bahwa dirinya adalah hal perkosaan.

Berdasar hal itu, saya katakan, perempuan yang diperkosa atau pernah mengalami pemerkosaan dan anak yang lahir akibat diperksosa, sepanjang hidup dan kehidupannya mengalami trauma psikis, luka-luka batin, serta tekanan sosial dan kejiwaan.

Dan semuanya itu, bisa nampak dengan jelas serta terlihat, maupun tidak. Sikap kita terhadap aborsi pada KYTD akibat perkosaan.

Untuk yang satu ini, saya (dan juga suami) termasuk yang bisa menerimanya; sebab, ada pertimbangan masa depan di dalamnya; masa depan yang diperkosa dan anak hasil pemerkosaan, (jika tidak diaborsi).

 

Cerita kecil.

♦Seorang teman begitu ngotot menolak aborsi dengan alasan moral, etika, dan agama. Begitu mendengar kata-katanya, suami saya memberi contoh yang ekstrim, “Bagaimana jika mereka, para penolak aborsi akibat perkosaan, mengalami kasus yang sama;!? seandainya anak perempuan bapak dan ibu yang diperkosa, kemudian hamil, apa yang kalian lakukan, …!?”

Jawab mereka, “Amit, amit, amit-amit jabang bayi, jangan sampai terjadi pada anakku, keluargaku, .,.”

Suami saya menjawab, “Ya, bagaiaman jika terjadi, jika diperkosa, kemudian hamil, …!? Mereka cuma diam, dan tak ada solusi.

Hal yang sama, saya sampaikan kepada mereka, yang sekarang menolak aborsi karena KYTD akibat perkosaan, misalnya para moralis, politisi, tokoh agama dan seterusnya, “Bisakah anda menerima anak perempuan atau saudara perempuan anda yang diperkosa kemudian hamil!?”

Mungkin, anda saat katakan atau menjawab, “Ya, saya bisa;” Itu karena belum terjadi atau belum mengalami, serta pernah berhubungan (dan membimbing, membantu) korban perkosaan dan anak hasil perkosaan.

Namun, saya pastikan, jika benar-benar terjadi pada diri anda, maka jawabanmu pun sangat berbeda.

Jadi, marilah kita bisa menerima hal-hal tertentu dengan alasan yang jelas, bukan hanya dengan argumen “Bisa jadi ini, bisa jadi itu, bisa jadi karena, bla bla bla …”,

Semua hal atau Undang-undang di Negeri ini bisa ditolak, hanya karena alasan, “Bisa jadi, bisa jadi, bisa jadi karena ini dan itu ….. ”

Lebih dari semuanya itu, mari kita menjaga anak laki-laki dan perempuan kita sehingga mereka tidak melakukan seks pra-nikah (dan di luar nikah) sehingga terjadi KYTD.

Semoga

MAR – Jakarta Selatan.

 

 

55,600 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa