Keram Betis atau Restless Legs Syndrome

    KERAM BETIS

I. Pengantar

Kejang otot atau kram (cramp) pada tungkai bawah (dari paha, betis sampai ke kaki), adalah sensasi yang banyak dialami orang saat tidur malam. Hal ini dirasakan seperti ketegangan otot atau rasa otot “tertarik” atau kerutan otot yang sering, di mana otot mengeras secara tiba-tiba.

Kejang otot betis adalah jenis kram otot yang paling sering dirasakan orang. Kuatnya kerutan otot-otot tersebut mulai dari ringan sampai kejang otot (spasme) yang menyakitkan.

Gejala ini biasanya terjadi setelah orang tersebut mulai tertidur di malam hari (dapat membangunkan orang dari tidurnya), atau dialami sesaat sebelum membuka mata di pagi hari. Namun, rasa sakit yang diderita bisa sangat intens, dapat berlangsung hingga beberapa menit sampai satu jam.

Saat nyeri telah berkurang atau reda, otot-otot tetap terasa tegang dan sensitif terhadap sentuhan maupun gerakan mendadak. Jadi jika terjadi gerakan mendadak otot tersebut setelah serangan kram sebelumnya mereda, maka kram ototnya akan terulang lagi.

Suatu keadaan lain yang disebut Restless Legs Syndrome (RLS) adalah gangguan pada bagian sistem saraf yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri pada tungkai bawah, yang menyebabkan dorongan kuat untuk menggerakkan tungkai bawah. Sindrom ini harus dibedakan dari kram otot yang sedang dibahas ini. Karena biasanya mengganggu tidur, RLS juga dianggap sebagai penyakit gangguan tidur, yang mirip dengan kram otot.

Orang dengan sindrom ini mengalami rasa tidak nyaman di tungkai bawah mereka (kadang-kadang pada lengan atau bagian tubuh lainnya) dan dorongan yang tak tertahankan untuk menggerakkan kakinya, guna mengurangi rasa tak nyaman tersebut. Sensasi yang terjadi ialah rasa panas, nyeri seperti ditusuk-tusuk, terasai “gatal”, atau seperti ada cacing yang merayap di kaki.

Sensasi ini biasanya memberat saat beristirahat, terutama saat berbaring atau duduk, dan berkurang saat tungkai bawah digerakkan. Tingkat keparahan gejala RLS berkisar bervariasi dari ringan hingga hebat. Gejala RLS bisa hilang dan timbul di suatu malam (ada episode serangan).

Namun, kram kaki dan RLS, tidak sama. Orang dengan kram kaki akan mengalami rasa sakit yang meningkat jika ia menggerakkan kakinya, saat serangan kerutan ototnya terjadi; sedangkan pada kasus restless leg syndrome, nyeri akan berkurang dan penderitanya merasa lebih nyaman saat menggerakkan kakinya.

Penyebab kram kaki sering kurang diketahui, namun beberapa ilmuwan berpendapat bahwa kondisi dan aktivitas tertentu dapat menyebabkan gangguan ini.

II. Beberapa penyebab yang mungkin dari kram otot:

a) Kehamilan
b) Dehidrasi
c) Kekurangan elektrolit maupun mineral seperti: kalium, kalsium atau magnesium
d) Beberapa waktu pasca cedera otot, misalnya cedera saat berolahraga atau setelah kecelakaan lalu-lintas, maupun setelah operasi tungkai bawah.
e) Penyakit ginjal kronik
f) Aktivitas fisik atau olahraga yang berlebihan, apalagi tanpa pemanasan (warming up) sebelum olahraga, dan relaksasi (cooling down) sesudah olahraga.
g) Penumpukan asam laktat di tungkai bawah setelah olahraga lari yang lama maupun setelah berjalan jauh atau menempuh jalan yang menanjak / menurun.
h) Obesitas (karena otot tungkai bawah menyangga kelebihan beban berat badan)
i) Sirkulasi darah yang buruk (pada yang jarang berolahraga dengan baik dan rutin, serta banyak mengkonsumsi lemak jenuh, dan juga pada penderita diabetes), serta pada penyakit pembuluh nadi tungkai bawah
j) Hipertiroidi (kelebihan hormon tiroid alias “gondok dalam” atau “gondok beracun”)
k) Paparan berkepanjangan pada suhu rendah, misalnya pemakaian AC dengan suhu kurang dari 20 derajat Celcius dalam waktu lama, terutama bila disertai setelan blower/kipas yang kuat, dan berenang di air dingin pada malam hari.
l) Infeksi virus tertentu
m) Berdiri pada permukaan yang keras untuk waktu yang lama, duduk terlalu lama (kurang gerak), atau meletakkan kaki dalam posisi tertekan saat tidur.
n) Reaksi akibat penggunaan beberapa obat tertentu (yang umumnya tidak terjadi pada semua orang yang memakai obat-obatan ini), misalnya:

  • Obat diuretik seperti: furosemid dan hidroklorotiazid, yang mengeluarkan cairan dan elektrolit dari tubuh
  • Donepezil, obat yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer
  • Nifedipin, obat tekanan darah tinggi
  • Raloxifen, obat osteoporosis
  • Terbutalin, albuterol, yaitu obat-obat asma
  • Tolcapone, obat yang membantu terapi penyakit Parkinson
  • Obat penurun kolesterol, yaitu golongan Statin, seperti atorvastatin, fluvastatin, lovastatin, pravastatin, rosuvastatin, atau simvastatin
  • Obat anti psikotik (gangguan jiwa berat), pil pencegah kehamilan tertentu, dan obat golongan steroid

III. Pencegahan kram otot tungkai bawah:

1) Mengatur aktivitas fisik

Untuk mengendurkan otot dan mencegah kram, sebaiknya hindari lama berdiri. Mulailah menggerak-gerakkan tungkai bawah dan berjalan beberapa saat lamanya setiap hari, terutama setelah anda berdiri beberapa jam. Para ibu yang hamil harus memperhatikan hal ini dan berusaha untuk berjalan-jalan setiap hari.

Lakukan pemanasan dan pendinginan yang baik dan cukup, sebelum dan setelah berolahraga. Tentunya kita semua perlu berolahraga secara baik dan rutin, sesuai umur, keadaan fisik dan kesehatan kita.

2) Latihan peregangan otot

Mulailah peregangan otot tungkai bawah yang mudah kram (kaki, betis, paha), gosok perlahan disertai pijatan ringan di tempat itu.

3) Perbanyak minum air putih dengan elektrolit yang mencukupi

4) Pijat atau Akupunktur

Pijat dan akupunktur oleh fisioterapis dan akupunkturis, cukup efektif untuk melemaskan otot

5) Cukupkan asupan Magnesium dan Kalsium

Anda harus mengoptimalkan kadar magnesium dalam tubuh, karena nutrisi penting ini akan membantu anda mencegah kejang otot.Oleh sebab itu, usahakan untuk mengkonsumsi lebih banyak biji dan kacang-kacangan, yang kaya akan magnesium.

6) Rendam kaki pada larutan garam kasar (garam “bata”)

Garam sangat membantu dalam kasus kram otot, dan merendam kaki dalam larutan ini, terutama larutan garam bersuhu hangat, akan menenangkan otot dan membantu menambah kadar mineral dalam tubuh.

7) Hati-hati dalam meminum obat-obatan tertentu (tepat guna, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara pakai)

8) Pastikan aliran udara yang baik di kamar tidur, suhu AC tidak terlalu dingin, mandi air hangat (ganti baju langsung di kamar mandi), gunakan selimut, seprai, dan pakaian yang tidak terlalu tipis

9) Hindari dan carilah pengobatan untuk hal-hal maupun penyakit lain yang memudahkan terjadinya kram otot, seperti yang tertulis di poin II.

IV) Cara mengatasi kram otot, jika sudah terjadi:

a) Jika terasa sangat nyeri dan hebat, segeralah mintalah bantuan orang lain untuk mengkerutkan otot anda searah dengan sumbu kerutan otot, seperti yang biasa dilakukan pada atlet maupun pemain sepakbola. Bisa diberikan kompres batu es dalam kantong, lalu antara kantong dengan kulit dialasi kain tipis, sampai rasa nyeri berkurang. Kompres hangat diberikan jika nyeri sudah mereda atau jika nyeri awalnya tidak terlalu hebat. Siap sedia dengan es batu dan kompres hangat, jika anda sudah sering mengalami gangguan kram otot.

b) Cobalah untuk menggerakkan kaki jika kejang dan nyeri sudah berkurang, secara perlahan, guna meningkatkan sirkulasi darah.

c) Panaskan otot dengan menggosok/memijat otot secara perlahan untuk beberapa saat, agar otot mengembang kembali, tidak mengkerut. Pemanasan juga bisa dilakukan dengan menggosokkan kedua telapak tangan anda, lalu meletakkan telapak tangan yang hangat di daerah otot yang kram. Kompres dengan botol air hangat yang digulirkan juga dapat membantu, alasi kulit dengan kain tipis, agar kulit tidak meradang.

d) Jika nyeri tidak terlalu hebat, duduklah di lantai, angkat betis dan lenturkan kaki di pergelangan kaki (dengan gerakan seperti “wiper” mobil, maupun gerakan “menekan pedal gas” mobil). Tarik punggung kaki dengan ke arah yang berlawanan dengan sumbu kerutan untuk menurunkan ketegangan otot otot.

e) Obat-obat anti radang seperti Parasetamol atau Ibuprofen, dapat mengurangi rasa nyeri. Obat pelemas otot hanya digunakan dalam pengawasan dokter. Obat luar seperti obat gosok, krim maupun balsem yang mengandung anti radang seperti metil salisilat, minyak kamfer dan minyak pepermin dapat digunakan, oleskan tipis dan merata, lakukan 3-4 kali perhari.

f) Jika nyeri tidak membaik bahkan semakin hebat, anda dapat ke Rumah Sakit untuk pertolongan medis dari dokter Instalasi Gawat Darurat, untuk pertolongan awal; selanjutnya bisa dikonsultasikan pada dokter spesialis kedokteran olah raga atau spesialis rehabilitasi fisik/medik (fisioterapi)

V. Penutup

Meskipun kelihatannya “remeh”, tetapi dari pengalaman di tempat praktik, gangguan kram otot banyak ditemukan. Hal ini sangat mengganggu tidur malam penderita dan mungkin akan menghalangi aktivitasnya, menurunkan produktivitas pekerjaan, bahkan memudahkan terjadinya berbagai penyakit lain. Terimakasih sudah mau membaca ini. Salam hormat dan tabik!

 

Mangatas SM Manalu
Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan & Klinik AIC, Kuningan City Mall – Jakarta

Daftar Bacaan:
Kerkar P, June 9, 2017. Treatment for Muscle Cramps, its Recovery Period & Prevention, (daring), 5 Oktober 2017

WebMD, 2015. Muscle Cramps – Topic Overview, (daring): , 6 Oktober 2017

JAKARTA NEWS 002 55 013

55,630 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan