Ketika Agama Dinista

 

Selama satu semester pendek saya mendapat kesempatan untuk membaca di perpustakaan Sekolah Teologi Leiden dan Amsterdam. Duduk di pojok perpustakaan sepamjamg hari selama beberapa bulan tentu membosankan.

Tapi, jangan khawatir, ada banyak kesempatan membolos. Jam bolos itu saya gunakan untuk jalan-jalan dan cuci mata di pusat pertokoan di depan Stasiun Sentral Amsterdam.

Pusat pertokoan itu bukan berbentuk gedung mal, melainkan deretan toko kecil sepanjang jalan sempit untuk sepeda dan pejalan kaki. Ada ratusan toko kecil berimpitan, mulai dari toko buku ilmiah sampai toko peralatan seks yang picisan, mulai dari toko berlian yang wa sampai toko suvenir murah meriah.

Toko-toko itu selalu dipadati turis. Letaknya di Rokin, Damrak, dan Vijzeltraat. Namun, pada hari-hari tertentu beberapa jalan disekitarnya juga penuh dengan pedagang kaki lima. Justru di lapak-lapak pedagang kaki lima ini suasananya lebih santai.

Para pedagang seenaknya menggantung jajaannya di pagar kanal. Para turis pun seenaknya keluar masuk sambil mengemil kentang goreng dan menyeruput kopi.

Salah satu lapak itu menjual lukisan dari cerita-cerita Alkitab. Harap jangan terkejut. Di situ ada lukisan perjamuan terakhir, namun Kristus dan kedua belas rasul semuanya telanjang bulat.

Ada lukisan seorang perempuan bersimpuh menangis di kaki Yesus sambil menyeka kaki Yesus, namun bukan dengan rambutnya melainkan dengan payudaranya yang telanjang.

Ada lukisan kakak beradik Maria dan Marta menengadah mendengarkan cerita Yesus dengan meletakkan dagunya di paha Yesus sambil menempelkan payudara mereka di betis Yesus dan mereka bertiga setengah bugil.

Semua lukisan itu terpajang secara terbuka di muka umum tak jauh dari sebuah gedung gereja.

Malam harinya di asrama saya menceritakan tentang lukisan itu kepada beberapa teman.

Mereka langsung menertawakan saya. Katanya, “Ah, semua orang juga sudah tahu! Itu tidak seberapa. Yang lebih sinting juga banyak. Kamu harus menghadiri pekan Skeptisi. Acaranya cemooh ilmiah terhadap semua agama. Para panelisnya pakar fisika, genetika, neurologi, dan yang lainnya.”

Saya terdiam keheranan. Lalu bertanya, “Mengapa gereja tidak melawan?” Teman-teman itu menertawakan lagi.

Katanya, “Untuk apa? Kalau menanggapi orang sinting, kita jadi sama sintingnya. Memang pernah ada beberapa pendeta aliran konservatif yang marah-marah ketika ada film adegan asmara Yesus dan menuduh pembuat film itu Antikris. Mereka, pendeta yang reaktif itu cuma menunjukkan emosi, bukan argumentasi.”

Memang dari tahun ke tahun ada saja kartun, lukisan, buku, dan film yang melecehkan Yesus.

Sasaran empuknyan adalah hubungan Yesus dan Maria Magdalena. Ada film yang secara eksplisit memperlihatkan adegan seks Yesus dengan Maria Magdalena.

Ada pula yang hanya secara implisit, misalnya buku dan film The Da Vinci Code menunjukkan bahwa pemeran utama, yaitu detektif cantik Sophie Neveu, adalah keturunan dari hubungan gelap Yesus dengan Maria Magdalena.

Selanjutnya dalam film itu pemeran lain mengatakan bahwa Yesus diakui sebagai Tuhan karena dekrit kaisar pada tahun 325.

Padahal pada tahun 80-an sejarawan Flavius Josephus (37-100), mantan komandan pasukan Romawi di Galilea, menulis secara objektif, “Orang-orang ini nekad menolak perintah untuk menyebut kaisar sebagai Kurios sebab mereka hanya mengaku Yesus sebagai Kurios,”

Jadi Yesus diakui sebagai Kuriosatau Tuhan bukan karena dekrit kaisar, melainkan karena penghayatan iman umat, dan bukan baru pada tahun 325, melainkan sudah tercatat dalam I Tesalonika terbitan tahun 50.

Buku dan film seperti itu menista Kristus. Apa reaksi gereja? Apakah gereja menyeruhkan agar umat memboikot buku dan film itu, dan meminta pemerintah melarang peredarannya?

Tidak! Kita tidak bersikap reaktif. Kita tidak memakai otot, tetai otak. Apakah lukisan, buku, dan film itu mengakibatkan kesucian Allah jadi berkurang? Tentu saja tidak! Masakan kesucian Allah ternista hanyan akibat sebuah film? Masakan Allah begitu rapuh dan rentan? Allah tetap suci meskipun seribu film menodai kesucian-Nya.

Ambil contoh ini. Gara-gara memarkir mobil agak miring, seorang profesor bedah otak yang punya reputasi internasional dimaki oleh tukang parkir dengan makian, “Otak miring! Goblok!”

Apakah karena makian itu kepandaian profesor tersebut jadi berkurang?

Meskipun ada seribu tukang parkir memaki begitu, profesor itu tidak berkurang kepandaiannya. Jadi, apa faedahnya bersikap reaktif terhadap makian begitu?

Yesus pernah diminta untuk bersikap reaktif. Ketika itu Yesus dan kedua belas rasul mencari tempat penginapan. Akan tetapi, mereka ditolak. Penolakan ini merupakan penghinaan.

Oleh sebab itu, rombongan ini marah. Berkatalah Yakobus dan Yohanes, “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54)

Bagaimana sikap Yesus ketika mendengar hasutan untuk bertindak reaktif itu? Tercatat, “Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka” (ay.55) Bahasa Aslinya, Strafeis de epetimesen autois.” Artinya, Ia buang muka karena tidak mau mendengar lalu menghardik mereka.

Mendengar ajakan untuk bersikap reaktif, Yesus langsung buang muka karena tidak mau mengubris ajakan itu.

Yesus sama sekali tidak mau mempertimbangkan ajakan itu. Mendengar pun Ia tidak mau. Ia tidak mau bersikap reaktif.

Banyak orang cenderung bersikap reaktif. Jika dinista langsung kita balas dengan nistaan yang lebih keras. Dengan sikap reaktif itu kita merasa diri kuat dan hebat. Benarkah?

Tidak! Justru dengan membalas nistaan, kita terjebak ke dalam perangkap.

Membalas kegilaan seseorang akan membuat kita jadi sama gilanya dengan orang itu.

Bodoh kita sendiri jika kita bersikap reaktif sebab sikap reaktif tidak menguntungkan, malah merugikan diri kita sendiri. Sikap reaktif malah kontra produktif.

Apa reaksi Kristus bila saya melaporkan tentang lukisan di kaki lima Amsterdam itu?

Apakah sama seperti teman-teman di asrama, Kristus menertawakan saya?

Tidak! Air muka-Nya tidak berubah.

Ia mengangkat kepala dan menyimak laporan dengan saksama.

Lalu Ia mengenyitkan dahi, menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecut.

Tanpa sepatah kata ia kembali menunduk dan dengan tenang Ia melanjutkan membaca.

Tuh, lihat ! Tuhan sendiri enggak marah, kenapa kita marah-marah?

Oleh Andar Islmail | Editor: Jappy Pellokila

22,025 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa