KH A Hasyim Muzadi, “Tiga Pola Pemikiran Islam di Indonesia”

JAKART/JNC. Awal minggu lalu, tepatnya Senin 13 Juni 2016, Ditjen Pendis, Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI, mengadakan Sarasehan Nasional, dengan tema “Potensi Pendidikan Islam Indonesia menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia.” Selah satu pembicaranya adalah Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, KH A Hasyim Muzadi. Menurutnya, secara garis besar, ada tiga pola pemahaman dan pemikiran Islam di Indonesia. Selanjutnya, menurut Hasyim Muzadi, model-model pemahaman dan pemikiran Islam tersebut adalah:

Pertama, tekstual; pemahaman ‘murni’. Agama dipahami dan dikerjakan sesuai bunyi teks secara lafdhiyah/harfiah. Paham ini sangat kaku dan tidak mau menerima pengertian yang beda.

Kedua, moderat; moderat itu, istilahnya kita yang membuat sendiri, namun ada dasar hukumnya. Model ini mengakomodasi perkembangan keadaan tanpa menggeser prinsip dan miqod-nya. Kita tetap mendirikan salat lima waktu, tapi sisi lain tidak mengobrak-abrik agama lain. Dakwaannya tidak bertentangan, ketika ada perbedaan, semua ditarik ke dakwah.

Model inilah yang dipakai oleh para ulama kita zaman dahulu ketika mengislamkan Nusantara dan mengislamkan orang kafir. Mereka memakai prinsip mu’tadilin, tegak lurus, tapi tidak ekstrem. Kita menyebutnya Hanifiyatus sam-hah. Jadi, tanpa merendahkan agama lain, Islam mampu diterima dengan baik.

Ketiga, liberal; orang Islam yang dalam menjalankan agama, disesuaikan kan dengan keadaan. Model tekstual, tidak kompromi; moderat, ada kompromi tapi tetap menekankan pada aspek agamanya; liberal, menekankan pada aspek keadaannya. Jadi, agama yang mengikuti keadaan.

Jadi, Jika ingin agama kita sehat, menggunakan pola hanifiyatus sam-hah, yang menyeimbangkan, dengan prinsip akomodasi selektif.

Selain itu, menurut Kiai Hasyim, ada pengaruh pemahaman keagamaan sehingga terjadinya ekstremisme; ada dua faktor terjadinya ekstremitas di negeri kita. Pertama, pemahaman terhadap Islam. Kedua, pengaruh pemikiran dari luar Indonesia yang masuk, yang di dalamnya membawa pula sistem politik dari negara asalnya atau “Islam Transnasional.”

Kemenag.go.id – Jakartanews.co

57,391 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa