Kronologi Penahanan Warga Ahmadiyah karena Sholat Taraweh di Rumah

O-P-A-26

Warga Ahmadiyah di Lombok “Dipaksa” Tanda Tangan Pernyataan Keluar dari Ahmadiyah

JAKARTA/JNC– Kejadian tragis terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Desa Bagik Manis, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, dengan alasan yang “tak jelas,” aparta kepolisian setempat  menahan delapan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) saat melaksanakan salat tarawih berjamaah di rumah Mongin Sidi pada hari Selasa, 14 Juni 2016.

Ketika warga Ahmadiyah melakukan Sholat Taraweh, ada warga yang melaporkan ke Kepala Dusun; selanjutnya Kepala Dusun dan Kepala Desa melaporkan ke kepala dusun yang melaporkan  kepada Camat Sambelia  dan Kapolsek Sambelia.

Mereka kemudian melakukan koordinasi dan menangkap delapan orang Ahmadiyah dipaksa menginap di Polsek dan selanjutnya dipindahkan ke Polres Lombok Timur selama empat hari dengan alasan pengamanan dari ancaman amuk masa.

Setelah penahanan tersebut, pada. Sabtu 18 Juni 2016,  Kepala Desa Bagik Manis bersama para kepala dusun memaksa JAI untuk menandatangani surat pernyataan yaitu keluar dari Ahmadiyah; lihat image. Jadi, terjadi pemaksaan agar  keluar dari Ahmadiyah.

Tanggapan Pengurus Besar Jemaah Ahmadiyah Indonesia.

Info tentang penahanan umat Ahmadiyah tersebut, membuat Pengurus Besar JAI bertindak cepat; mereka meminta kepada Kapolri dan jajaran kepolisian dari Mabes Polri sampai tingkat Polsek untuk memastikan jaminan keamanan bagi seluruh Anggota Ahmadiyah, khususnya di Desa Bagik Manis dari ancaman gangguan keamanan atas alasan apapun. Serta memastikan seluruh kepala daerah dari Gubernur sampai tingkat kecamatan, khususnya Camat Sambelia agar kepala daerah bersikap yang seharusnya sebagai Pejabat Negara yang mengayomi seluruh warganya dan bersikap adil di atas semua golongan.

Selanjutnya menurut Pengurus Besar JAI,

“Pemerintah dan masyarakat bahwa anggota Ahmadiyah adalah warga negara yang sah yang memiliki hak yang sama sebagai warga negara dan dijamin konstitusi untuk beribadah sesuai keyakinannya dan mendapat jaminan keamanan dari Negara.

Dalam suasana dan roh bulan Ramadan yang suci ini, kami mengajak tokoh dan umat Islam untuk bersama-sama mengkampanyekan wajah Islam yang damai dan santun, sehingga kedamaian dan roh Ramadan terasa kepada seluruh umat manusia.”

_____

Kronologis Penahanan Delapan Orang Umat Ahmadiyah di Lombok, NTB.

 Selasa, 14 Juni 2016, Sekitar Pukul 20.00 WIB

Mongin Sidi  bersama istri dan satu anak bersama anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur lainnya yaitu Ibrahim dan Jumardi, melakukan Shalat isya dan Shalat Tarawih berjamaah di rumah Mongin Sidi ; bukan di tempat umum, Mushola, ataupun Mesjid; Rumah Keluarga Mongin Sidi  di Dusun Dasan Dagik, anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur

Sesaat setelah mereka mereka melakukan sholat, tiga orang perangkat Kepala Dusun, yaitu Sasmika, Mamak Iyang atau Syamsiah dan seorang pelaksana harian Kadus Dasan Bagik masuk ke dalam rumah Bapak Mongin Sidi .

Salah satu dari mereka berkatanya kepada Mongin Sidi , “Ada acara apa ini?”

Mongin Sidi , “Kami baru saja selesai shalat Tarawih”

Perangkat Kadus, “Ada laporan masyarakat bahwa di rumah bapak Mongin Sidi  sering shalat Tarawih dan ada orang dari luar juga.

Tidak lama kemudian datang anggota, Polmas, Irfan menanyakan hal yang sama dan dijawab oleh Bapak Mongin Sidi  bahwa baru saja selesai shalat Tarawih.

Kemudian Polmas itu meminta agar Bapak Mongin Sidi , Bapak Ibrahim dan Bapak Jumardi semua termasuk para perangkat kadus menunggu sebentar. Kemudian Polmas datang lagi ke rumah Bapak Mongin Sidi  bersama Bapak Abdurrahman Kades Bagik Manis, Bapak Camat Sambelia, Bapak Sules, Kasat Intel Polsek Sambelia dan dua polisi lainnya dari Polsek Sambelia. Mereka juga menanyakan hal yang sama, sedang ada kegiatan apa di rumah Bapak Mongin Sidi  dan dijawab yang sama juga oleh Bapak Mongonsidi bahwa baru saja selesai shalat Tarawih..

Bapak Camat menyatkan bahwa, “Sebaiknya bicara di kantor Kecamatan saja karena tidak enak dilihat masyarakat;” Kemudian Bapak Mongin Sidi , Bapak Ibrahim dan Bapak Jumardi pun ikut bersama Bapak Camat, perangkat Kadus, Kades dan polisi ke kantor kecamatan. Di sana sudah ada kepala kantor KUA Sambelia dan beberapa staf Desa Bagik Manis. Kepala Desa Bagik Manis menyampaikan bahwa Jemaat Ahmadiyah ini agar dibina, Kades sudah lelah dengan masalah Jemaat Ahmadiyah.

Kepala Kantor KUA menyampaikan ceramah tentang Ahmadiyah; tahu betul tentang Ahmadiyah karena pernah punya teman yang memiliki buku tentang Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadiani. Kepala KUA Menyampaikan juga bahwa Ahmadiyah memiliki satu ajaran yang disembunyikan dari para pengikutnya yaitu ajaran tentang syahadat.

Mongin Sidi  membantah Kepala KUA, dan meyatakan bahwa, “Sejak baiat masuk Ahmadiyah tahun 2006 tidak ada ajaran yang disembunyikan itu, tidak benar ada ajaran syahadat yang disembunyikan, demi Allah syahadat Ahmadiyah adalah : Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyahadu anna muhammadarrasuuulullah”

Camat melerai dan mengatakan agar jangan membahas masalah keyakinan; dan meminta kepada polisi agar anggota Jemaat Ahmadiyah diamankan di kantor Polsek.

Mongin Sidi  menyampaikan bahwa sebenarnya tidak mau dibawa ke kantor Polisi, tapi ini kemauan Pemerintah. Ia meminta izin pada Sules, Polisi dari Polsek Sambelia untuk pulang ke rumah karena mau berkemas-kemas, tetapi tidak diizinkan pulang dengan alasan sudah banyak massa menunggu di Kampung. Akhirnya Mongin Sidi , Ibrahim dan Jumardi dibawa ke Kantor Polsek Sambelia menggunakan motor milik sendiri dan Polisi menggunakan mobil patroli. Tiba di Polsek Sambelia, terjadi Tanya jawab dengan Kapolsek Sambelia.

Kapolsek, “Ada apa?”

Mongin Sidi , “Kami dari Jemaat Ahmadiyahâ”

Kapolsek, “Memangnya kamu salah apa?”

Mongin Sidi , “Kami tadi shalatt Tarawih berjamaah di rumahâ”

Kapolsek, “Memang boleh shalat Tarawih berjamaah di rumah?”

Mongin Sidi , “Boleh”

Setelah itu anggota Jemaat Ahmadiyah diinterogasi satu persatu seputar aqidah Ahmadiyah oleh petugas Polsek Sambelia, Sutrisno.

Sutrisno, “Kamu tadi dibawa ke sini karena tadi kamu lagi shalat berjamaah ya? Shalat apa?”

Mongin Sidi , “Shalat isya dan shalat Tarawih”

Sutrisno, “Apakah sama shalatnya orang Ahmadiyah dan orang Islam yang lain?”

Mongin Sidi , “Sama”

Sutrisno, “Apakah syahadat nya sama?”

Mongin Sidi , “Sama”

Sutrisno, “Coba sebutkan”

Mongin Sidi , “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyahadu anna muhammadarrasuuulullah”.

Sutrisno, “Berapa rakaat shalat isya berapa salam dan berapa rakaat shalat Tarawih berapa salam?”

Mongin Sidi , “Shalat isya empat rakaaat satu salam, shalat Tarawih 8 rakaat 4 salam dilanjutkan shalat witir 3 rakaat 2 salam”

Sutrisno, “Ooh berarti sama ya, Lalu dimana perbedaan antara Ahmadiyah dan bukan Ahmadiyah?”

Mongin Sidi , “Perbedaannya pada masalah Imam Mahdi, kami percaya Imam mahdi sudah datang sedangkan orang Islam yang lain belum, mereka masih menunggu kedatangan Imam Mahdi”

Sutrisno, “Berarti itu Imam Mahdinya itu ya Mirza Ghulam Ahmad ya?”

Mongin Sidi , “Ya benar”

Sutrisno, “Rukun islam berapa, rukun iman berapa?”

Mongin Sidi , “Rukun Islam lima dan Rukun Iman enam”

Ketika Mongin Sidi , Ibrahim dan Jumardi sedang diinterogasi, datanglah Polisi membawa lima orang anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur lainnya. Mereka dijemput oleh Polisi dari rumah masing-masing, bahkan ada yang sudah tidur dibangunkan dan dibawa ke Polsek menggunakan mobil patroli Polisi. Sehingga Jumlah anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur yang diamankan Polisi berjumlah delapan orang.

Setelah interogasi selesai kemudian 8 orang anggota Jemaat Ahmadiyah dibawa ke Polres.; Mongin Sidi  menyampaikan ke Kapolsek bahwa ingin pulang dan ingin makan sahur di rumah. Namun tanggapan Kapolsek menanggapi, “Kalau kamu mau pulang harus tanda tangan surat pernyataan bahwa jika terjadi sesuatu pada kamu, kami tidak tanggung jawab, kami tinggal bawa ambulance besok bahwa di kampung mu itu sudah banyak massa menunggu.”

Kemudian delapan orang anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur itu pun Diangkut dari polsek sambelia jam 1 malam ke Polres Lombok Timur. Setibanya di Polres, Kapolsek Sambelia menemui Petugas jaga kemudian pergi meninggalkan Polres. Terjadi tanya jawab dengan Petugas jaga.

Petugas Jaga, “Jadi bapak-bapak ini besok puasa?”

Mongin Sidi , “Ya kami besok puasa. Bagaimana dengan Makan sahur?”

Petugas Jaga, “Bapak kan mengamankan diri jadi segala sesuatunya ditanggung sendiri”

Monginsid, “Oh maaf Pak, sebenarnya kami bukan mengamankan diri tapi diamankan”

Petugas Jaga, “Tapi laporan kapolsek tadi mengamankan diriâ, “ (lalu petugas jaga menelpon kapolsek)

Kapolsek datang lagi ke Polres dan marah-marah mengatakan bahwa jemaat Ahmadiyah memutar balik fakta. 8 orang anggota Jemaat Ahmadiyah Lombok Timur bermalam di di Mapolek; tidur di lantai di ruang rapat tanpa alas, dan tidak diberi makan sahur oleh Polres, tapi di bawa oleh Maulana Rizal Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Lombok.

Rabu, 15 Juni 2016

Komite Hukum Jemaat Ahmadiyah menghubungi Kapolres meminta Kejelasan atas Kasus ini. Bapak Kapolres menyampaikan via whatsapp kepada Humas Komite Hukum bahwa dalam waktu dekat anggota Jemaat Ahmadiyah yg ada di Polres bisa segera kembali dalam keadaan baik semuanya.

Keberadaan mereka di Polres bukan karena kesalahan, semata-mata karena faktor keamanan dan penyelamatan serta menghindari bentrok fisik antara sesama warga. Kami yang disini tahu persis kondisi di lapangan dari tadi malam sampai saat ini. Tolong berikan kami aparat kepolisian kesempatan untuk melindungi warga dengan cara yang bijak dan berprikemanusiaan.

Delapan Anggota Jemaat Ahmadiyah belum bisa pulang, diamankan dalam kondisi berpuasa. Buka Puasa hari ini di Polres diberikan nasi bungkus oleh Polres. Delapan Anggota Jemaat Ahmadiyah tetap menjalankan ibadah shalat lima waktu berjamaah, shalat Tarawih, witir dan tahajud berjamaah di ruang rapat Polres.

Kamis, 16 Juni 2016

Delapan Anggota masih di Polres. Mubaligh Jemaat Ahmadiyah mendatangi Polda meminta agar mereka dilepaskan.

JAKARTANEWS.CO | OPA JAPPY

690 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa