Masyarakat Miskin di Indonesia

Sedikit harta milik para yatim piatu dan janda, dirampas rentenir dan lintah darat sebagai sita jaminan. Penguasa dan pengusaha menghalangi orang miskin mendapat haknya, sehingga mereka lari bersembunyi, tersembunyi dengan keadaannya yang tetap papa dalam kemiskinannya.

Si miskin bagaikan binatang liar yang mencari makan di daerah-daerah kumuh; dengan harapan di tempat-tempat itu ada makanan untuk anak-anaknya.

Karena kena tipu daya, si miskin dipaksa dan terpaksa meninggalkan tanah mereka dan harus bekerja dengan upah di bawah standar. Ia tak punya selimut dan pakaian penghangat tubuh di waktu malam. Ia basah kuyub karena hujan lebat, lalu merapat serta terjerumus di kolong-kolong jembatan dan jalan layang, untuk berlindung.

Si miskin diperbudak oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan, kuasa, dan uang. Bahkan, bayi mereka dirampas untuk diperjualbelikan; ditukar dengan beberapa lembar uang, agar bisa bertahan hidup.

Si miskin, telanjang tanpa sehelai benang pun; ia kelaparan di samping kemewahaan; ia berlindung di tembok pagar rumah mewah, merebahkan kepalanya di atas batu-batu jalan. Ia kelaparan di depan pintu rumah makan; ia kehausan di teras pabrik minuman; ia telanjang di depan tokoh pakaian dan butik.

Di kota-kota, di pinggir-pinggir jalan, di emper-emper toko, di lorong-lorong kumuh, terdengar rintihan si miskin yang sekarat, terluka; ia berseru minta dirawat, tetapi suara rintihan dan teriakkannya tidak terdengar oleh siapa pun.

[The Book of Job; terjemahan aplikatip oleh penulis]

Secara sosiologis, kemampuan dan kreativitas manusia menjadikan mereka berupaya meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan. Sehingga, tadinya pola hidupnya nomade, lambat laun menetap kemudian membangun komunitas pada suatu lokasi dengan batas-batas geografis tertentu. Dalam batas-batas geografis itu, mereka semakin bertambah banyak serta mampu membangun komunitas dengan berbagai aspek yang bertalian dengannya. Namun seiring dengan itu, mereka kadangkala menutup diri terhadap pengaruh dari luar komunitas, sambil mempertahankan dan menjaga kemurnian warisan pendahulunya. Akibatnya, sampai kini, ada kelompok masyarakat yang maju serta modern; tapi di tempat lain sebaliknya terbelakang dalam banyak hal, termasuk mengalami kemiskinan. Dalam kerangka itu, miskin berarti tidak mempunyai harta benda; sedangkan kemiskinan adalah hidup berkurangan dan kemelaratan. Kaum miskin berarti seseorang yang [telah dan sementara] kekurangan secara ekonomi; penuh permasalahan psikologis, dan mental-spiritual; buruh kasar; orang-orang terlunta dan sejenisnya.

Secara khusus di Indonesia, sejak 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan, ternyata belum seutuhnya membebaskan masyarakat Indonesia dari keterbelakangan. Pada kurun waktu yang lama, gagasan membangun [rencana pembangunan yang bertahap] sesuai Repelita dan Pelita, yang menjadi Kebijakan Top Down Orde Baru, ternyata tidak sanggup meniadakan kemiskinan. Di dalam frame Repelita dan pelita, dengan alasan stabilitas, terjadi penindasan serta penyingkiran terhadap masyarakat yang menolak kebijakan top down. Mereka disingkirkan karena dituduh sebagai penghambat pembangunan dan kemajuan. Tidak semua pembangunan fisik dan spiritual memperhatikan kepentingan masyarakat. Akibatnya, tujuan pembangunan nasional untuk menciptakan atau mencapai masyarakat adil dan makmur sesuai nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pembukaan UUD 45, hanya terwujud pada sebagian masyarakat atau kolompok yang dekat dengan pusat kekuasaan tingkat pusat sampai di pelosok-pelosok negeri. Dan paradoksnya adalah, di sana-sini, tercipta komunitas masyarakat tersisih dan tertinggal karena korban pembangunan sebagai si miskin. Lalu, di manakah kita?

Menelusuri sumber kemunculan kaum miskin merupakan sesuatu yang cukup kompleks; ada beberapa catatan yang bisa menjadi acuan tentang adanya kaum miskin dengan kemiskinannya [terutama di Indonesia], yaitu:

  1. Mereka ada karena angka kelahiran yang tinggi

Kelompok masyarakat yang tidak maju [untuk sementara kita memakai kaca mata kemajuan] sering disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kaum miskin [plus kemiskinan] ini juga mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya [terutama karena angka kelahiran yang tingi]. Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga [termasuk pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia] yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kaum miskin yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka [kaum miskin] hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak [anak-anak]; karena mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi.

  1. Mereka tetap miskin karena menutup diri dari pengaruh luar

Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat [di lokasi komunitas itu] merupakan warisan secara turun-temurun. Dan jika komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling meniru kemudian masing-masing mengembangkan hasil tiruan itu sesuai dengan sikonnya. Dengan itu, dapat dipahami bahwa hubungan sosial [antar manusia, dan antar masyarakat] bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas masyarakat [karena situasi tertentu] yang tidak mengembangkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti; [sekali lagi, dengan kaca mata kemajuan], mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan.

  1. Mereka tercipta karena korban ketidakadilan para pengusaha

Kemajuan sebagian masyarakat global [termasuk Indonesia] yang mencapai era teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya agar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, karena alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya.

Para buruh tersebut harus menerima keadaan itu karena membutuhkan nasi dan pakaian untuk bertahan hidup. Akibatnya, menjadikan mereka tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Secara langsung, mereka telah menjadi korban ketidakadilan para pengusaha [konglomerat] hitam yang sekaligus sebagai penindas sesama manusia dan pencipta langgengnya kemiskinan. Para buruh [laki-laki dan perempuan] harus menderita karena bekerja selama 12 jam per hari [bahkan lebih], walau upahnya tak memadai. Kondisi buruk yang dialami oleh para buruh tersebut juga membuat dirinya semakin terpuruk di tengah lingkungan sosial kemajuan di sekitarnya [terutama para buruh migran pada wilayah metropolitan].

Sistem kerja yang hanya mengutamakan keuntungan majikan, telah memaksa para buruh untuk bekerja demikian keras. Sehingga kehidupan yang standar, wajar dan normal, yang seharusnya dialami oleh para buruh, tidak lagi dinikmati oleh mereka. Fisik dan mental para buruh [yang giat bekerja tetapi tetap miskin], telah dipaksa menjadi bagian dari instrumen mekanis. Mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan irama, kecepatan dan ritme mesin-mesin pabrik dan ritme bising mesin otomotif; mesin-mesin itu, memberikan perubahan dan keuntungan pada pemiliknya, namun sang buruh tetap berada pada kondisi kemiskinan. Dengan tuntutan itu, mereka tak memiliki kebebasan, kecuali hanya untuk melakukan aktivitas pokok makhluk hidup [makan, minum, tidur], di sekitar mesin-mesin yang menjadi tanggungjawabnya.

  1. Mereka tetap ada karena adanya pembiaran-pembiaran yang dilakukan oleh  penguasa dan pengusaha

Sikon hidup dan kehidupan komunitas masyarakat [mereka yang tersisih dan tertinggal] miskin diperparah lagi dengan tanpa kesempatan memperoleh pendidikan, tingkat kesehatan rendah, serta berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan lainnya.

Mereka ada di mana-mana, pada daerah terpencil, di tepi-tepi pantai, pinggiran kali dan rel kereta api, bahkan wilayah-wilayah atau daerah-daerah kumuh di perkotaan. Kompleksitas masyarakat miskin seperti itu, sengaja dibiarkan begitu saja oleh para penguasa dan pengusaha agar tetap terjadi suatu ketergantungan. Jika ada bencana alam, mereka dibutuhkan agar bisa melakukan charity advertenrial, atau tindakan bantuan sosial yang mengandung nilai iklan bahwa sang pemberi bantuan sebagai orang baik hati serta mempunyai kepedulian kepada kaum miskin [misalnya, jika terjadi bencana [tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran].

Perhatian kepada kaum miskin yang hanya berupa charity advertenrial ini, bisa dan biasa dilakukan oleh pejabat, penguasa, tokoh agama, politik, artis, dan lain sebagainya. Dengan itu menghasilkan kaum miskin yang tetap menengadah tangan untuk meminta belaskasihan akibat penderitaannya. Mereka memeriksa kesehatan jika ada bhakti sosial kesehatan; makan dengan nilai gizi baik karena ada bantuan serta droping pangan, dan seterusnya.

Mereka dihitung, jika tiba saat membutuhkan dukungan suara agar menjadi pemimpin daerah ataupun anggota legislatif. Mereka diperlukan, jika ingin melakukan demonstrasi [plus kerusuhan] melawan pemerintah. Bahkan, jumlah mereka dikurangi karena salah satu ukuran keberhasilan pemerintah adalah berkurangnya masyarakat atau orang miskin. Ataupun, jumlah mereka ditambah karena dipakai oleh kaum oposan [kaum oposisi yang dimaksud adalah orang-orang di luar lingkaran pemerintah] sebagai salah satu tolok ukur ketidakberhasilan serta ketidakbecusan pemerintah mengelola negara.

Sementara itu, andil penguasa wilayah dan nasional [yang sering berkonspirasi dengan pengusaha hitam] untuk meningkatkan pertumbuhan masyarakat miskin pun cukup besar. Berbagai rekayasa jahat, pengusaha [konglomerat hitam] memakai tangan-tangan kotor penguasa untuk membebaskan lahan [dengan alasan pembangunan fasilitas umum] dengan nilai harga di bawah standar. Lahan atau persil dengan mudah berpindah kepemilikan [kepada para penguasa hitam dan jahat], karena pemiliknya [biasanya mereka adalah penduduk asli yang kurang pendidikan] tergiur sejumlah rupiah. Namun, karena ketidakmampuan memanage keuangan, dalam tempo tidak terlalu lama mereka menjadi kaum miskin baru [walau sesaat yang lalu mereka adalah orang kaya baru karena menjual tanah].

Seringkali penguasa dengan slogan politis memerangi kemiskinan, maka   siapapun yang mengganggu stabilitas sosial, ekonomi, politik dan keamanan serta pembangunan [akan] dianggap sebagai musuh. Karena itu banyak tanah milik komunitas suku bangsa yang tiba-tiba diperlukan area perkebunan, bandara, lapangan golf, pabrik, dan lain-lain. Ketika mereka [pemilik tanah] mempertahankan kepemilikannya, mereka dianggap sebagai penghambat pembangunan. Demikian juga, penyingkiran terhadap masyarakat, jika wilayah atau di alam bumi pada lokasi tempat tinggal mereka mengandung mineral atau barang tambang lainnya. Banyak masyarakat yang bermukim di tempat yang dianggap salah karena desanya lebih menguntungkan untuk dibangun waduk raksasa. Demikian pula ada masyarakat yang tiba-tiba harus menerima nasib untuk dipindahkan dari wilayah permukimannya, karena tanah mereka lebih cocok untuk proyek [mercu suar] pembangunan, serta tempat latihan perang. Dan tidak sedikit masyarakat kota tadinya berkecukupan tersingkir ke wilayah pinggiran dengan kemiskinan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya menjadi kaum urban yang mengemis serta mengais-ngais sampah di metropolitan untuk mempertahankan hidupnya.

Di sini, jelas bahwa adanya kaum miskin bukan semata-mata karena sebagai paradoks pembangunan, tetapi juga karena pembiaran-pembiaran pengusaha dan penguasa terhadap keberadaan mereka agar sewaktu-waktu dapat dipakai atau difungsikan sebagai salah satu alat untuk mencapai kedudukan, ketenaran, kekuasaan, serta rencana kejahatan yang tersembunyi.

  1. Mereka menjadi miskin karena manajemen keluarga yang buruk

Pada umumnya, pada masyarakat [kota dan desa] ada orang-orang yang dikategorikan sebagai orang kaya. Dalam arti mereka mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan lainnya. Pada masyarakat desa, kelebihan mereka yang disebut orang kaya antara lain mempunyai beberapa persil tanah, lebih dari satu bidang sawah serta ladang, memiliki puluhan atau ratusan ekor ternak, bahkan mempunyai lebih dari satu isteri. Sedangkan pada masyarakat perkotaan, mereka mempunyai lebih dari satu rumah dan mobil, tabungan dan deposito, pekerjaan yang mapan, dan lain-lain.

Walau mungkin tidak bisa menjadi acuan, penilaian tentang ciri-ciri orang kaya seperti itu, sudah menjadi pandangan umum dalam masyarakat. Namun, sejalan dengan perubahan waktu, keturunan [pada umumnya generasi ketiga dan keempat] orang-orang yang tadinya kaya tersebut ternyata menjadi miskin. Masyarakat atau orang lain yang mengenalnya hanya bisa bercerita dan mengenang orang tua atau kakek dan nenek mereka yang kaya raya. Mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Hal tersebut terjadi karena keluarga-keluarga kaya itu salah memanage keuangan ataupun harta bendanya. Bisa saja terjadi, anak-anak orang kaya [karena mengandalkan kekayaannya] tidak mau menata diri dengan pendidikan yang baik, akibatnya mereka menjadi orang kaya yang bodoh. Dalam sikon kebodohan itu, mereka tidak mampu mengelola hartanya dengan baik dan benar. Mereka hanya bisa menjual harta benda untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan. Akibatnya dalam kurun waktu tertentu harta benda mereka habis, sehingga lambat laun mereka menjadi miskin.

JAPPY PELLOKILA | JAKARTANEWS.CO

201,223 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa