Mayoritas Diam: Egois dan Penakut

JAKARTANEEWS.co

Indonesia sebagai Negara, negeri, bangsa, bahasa tentu saja tak sebatas batas-batas yang dibangun oleh manusia. Indonesia, di dalamnya ada multi ras, suku, sub-suku, agama, peradaban, wilayah lokal dan adat,  bahkan banyak hal lain-lain yang warna-warni. Indonesia adalah adalah pelangi di antara Daratan Asia dan Australia; pelangi yang sangat jaya dan kaya dengan berbagai hal, di darat, udara, dan laut.

Sayangnya, pelangi Nusa di antara Asia dan Autralia itu, kini, banyak orang berupaya agar hanya ada satu warna. Mereka berupaya agar Nusantara tak lagi berwarna dengan aneka kekayaan yang dibentuk oleh alamnya, humanisnya, sosiologisnya, dan budayanya, serta agama dan kepercayaan; bagi mereka Nusantara haruslah menjadi pelangi satu warna.

Siapa mereka;!? mungkin saja saya (yang sedang baca), dan dia, ia, mereka yanga di belahan lain, jauh dari pandangan saya (yang sedang baca). Itu, mungkin!.  Ya, cuma mungkin.

Tapi, ketika dirimu dan diriku, sedikit berlelah untuk (mau) menemukan upaya-upaya menghapus warna-warni Nusantara, maka ada banyak contoh, fakta, kejadian, dan data yang didapati serta didapatkan. Semunya terangkum jadi satu, yaitu di Nusa antara Asia dan Australia ini ada makhluk ada dan tiada, yang banyak orang tak mengakuinya ada, namun dampak akibatnya sangat terasa di mana-mana, yaitu INTOLERANSI

Ya. Intoleransi di Nusantara menyebar di banyak daerah dan pelosok; dan berdampak pada renggangnya dan ketidaknyamnan hubungan sosial antar sesama anak bangsa. Siapa yang berani menolak bahwa hal-hal tersebut tak ada di negeri ini!? Ya, banyak orang tak berani menolak, namum mereka pun enggan untuk berbicara. Akibatnya, para pelaku intoleransiseakan merasa ama, bebas, dan merdeka untuk melakukan serta meneruskan karya-karya intolerannnya.

Diamnya silent majority, bisa jadi akibat sifat dan sikap ego, eois, egoistik dalam diri dan, ketakutan semu jika kubicara dan berseru, maka …. .

Atau, mungkin saja, suatu pandangan dalam diri, itu mereka, buka diriku; mereka yang itoleran, radikal, dan rusuh, kacau, bukan diriku; dia, ia, mereka yang terkena dampaknya, bukan kami; itu terjadi di sana, bukan di sini, di sekitarku; dan seterusnya.

Parahnya lagi, diamnya silent majority, ada di antara mereka yang takut dituduh sebagai telah menjadi sama dengan orang lain, sama dengan agama dan kepercayaan lain, atau pun menjadi bagian dari mereka yang seharusnya ditolak ada dan keberadaannya. Memang serba salah.

Akibatnya, pada banyak contoh, ketika diajak berseru (termasuk) tentang, misalnya, melawan penolakan pendirian rumah ibadah, maka tak sedikiti yang enggan atau ikut dengan setengah hati. Alasannya sederhana, yaitu nanti ini dan nanti itu; kami di sini, kami aman, jika media tahu, dan wajah serta suara kami terliput media, maka akan ini dan itu …. .

Juga ketika diminta sedikit beropini tentang kaum minoritas lainnya, ketertindasan kaum minoritas, kekerasan atas naman agama, ulah ormas radikal, radikalisme, teror dan terorisme, dan sejenis dengan itu,  sangat banyak silent majority yang hanya diam, tak berseru, tak berani bersuara; seakan mendadak terserang bisu dan tuli kontemporer. Mereka seakan menunjukan bahwa toh tak ada hubungan denganku di sini; jadi lebih baik diam; daripada …. maka lebih baik diam, dan itu aman.

Ya, itulah sikon silent majority; mereka ada dan berada pada zona nyaman, dan kerangken dengan frame semu, sehingga tak bisa keluar, untuk melihat, bersuara, berteriak, terhadap ketidakadilan, intoleran, dan ketimpangan sosila, serta carut marut sosial yang terjadi di sekitarnya.

Diamnya silent majority tersebut paling kentara, mudah terlihat ketika adanya ramai, keriuhan gerakan radikalisme, intoleransi, anti yang minoritas, terorisme, ….. cuma sedikit yang lantang bersuara, dan itu pun tenggelam dan  nyaris tak bergaung.

Kemanan mereka yang lain;!?  ya, di atas sudaj disebut alasan-alasanya. Diriku yakin, banyak orang pahami betul bahwa, Kecenderungan radikalisme masih saja tidak mau pergi, baik di tanah air kita maupun di negara-negara lain. Masih ada pemikiran bahwa konflik antar-peradaban justru semakin intens, bahkan mendasari konflik-konflik antar-kelompok atau antar-bangsa di masa mendatang.

Radikalisme adalah ancaman riil yang bisa menceraiberaikan sendi-sendi  kehidupan masyarakat. Sekali kita membiarkan radikalisme mengambil alih alur pemikiran kita, maka ia akan mengarahkan kita pada kehancuran, (Wapres Budiono pada Pembukaan Global Peace Leadership Conference 2010).

Namun, pemamahaman itu, bisa berdampak pada terbitnya motivasi dalam diri untuk tidak (lagi) menjadi silent majority yang diam!? Kemudian bangkit dari dudukannya dalam frame nyamannya, lalu ikut berseru, bersuara, berteriak untuk kejayaan Indonesia!? Atau, diriku, dirimu, dia, ia, mereka tetap diam sebagai silent majority karena dalam diri penuh dengan sifat-sikap egois-egoistik!?

Entah …. !!!

Akhirnya, diriku harus koreksi diri, dan terus menerus lakukan hal tersebut, sehingga tak menjadi bagian dari silent majority yang diam.

OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

50,374 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa