Mayoritas Warga DKI, “Tidak Haram Ahok Jadi Gubernur DKI Jakarta”

JAKARTA/JNC- Bolehkah umat Islam memilih tokoh nonmuslim sebagai pemimpin? Kalau pertanyaan ini diajukan pada warga DKI Jakarta, sebagian besar ternyata menjawab: boleh.

Kesimpulan ini terlihat pada hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 21 Juli 2016 di Jakarta. Surveinya sendiri dilakukan pada akhir Juni dengan 646  responden warga Jakarta yang ditarik dengan cara metode sampling random (acak).

Survei ini mengungkapkan mayoritas  Warga DKI Jakarta menyatakan tidak setuju dengan anggapan bahwa pemimpin non-muslim tidak boleh menjadi Gubernur DKI.

Dengan kata lain, propaganda yang selama ini dilancarkan oleh kaum anti-Ahok bahwa Islam melarang umat islam memilih Ahok untuk menjadi Gubernur DKI 2017-2022, tidak mencapai tujuan.

Yang percaya dengan propaganda itu cukup banyak. Tapi tidak dominan.

Hasil penelitian SMRC pada dasarnya menunjukkan umat Islam terbelah, sebagai berikut:

  • 50% warga DKI menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa umat Islam di DKI tidak boleh dipimpin orang non-Islam
  • 41% warga DKI menyatakan setuju atau sangat setuju dengan penyataan bahwa umat Islam di DKI tidak boleh dipimpin orang non-Islam
  • 9% menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Mengingat warga DKI Jakarta yang beragama Islam adalah 85%, dapat diperkirakan bahwa perbandingan antara umat Islam yang setuju dan yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa umat Islam di DKI tidak boleh dipimpin orang non-Islam adalah: 50%:50%.

Dengan kondisi ini, bisa dipahami bila penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa peluang Ahok  untuk memenangkan pemilihan Gubernur DKI pada Februari 2017 terbuka lebar, walaupun ia non-muslim.

Warga Jakarta yang meinginginkan Ahok untuk kembali menjadi Gubernur DKI 2017-2022 mencapai 58%, sementara yang menyatakan tidak menginginkan Basuki kembali menjadi Gubernur hanya 33%. Yang menyatakan tidak tahu/tidak menjawab adalah: 9%.

Bila dikaitkan dengan data sebelumnya, diperkirakan yang menginginkan Ahok menjadi Gubernur DKI adalah mereka yang tidak setuju plus yang ragu-ragu dengan doktrin pengharaman non-muslim menjadi Gubernur DKI. Sebaliknya mereka yang menyatakan setuju dengan doktrin tersebut umumnya  menolak kepemimpinan Ahok.

Bagaimanapun, data ini menunjukkan bahwa faktor agama tetap memiliki pengaruh bagi cukup besar umat Islam di Jakarta.

Mayoritas warga DKI sebenarnya puas dengan kinerja Gubernur Ahok. Data SMRC menunjukkan bahwa 70% warga DKI menyatakan puas dengan kinerja Ahok, sementara yang menyatakan tidak puas hanya 28,4%.

Dengan demikian, factor yang menyebabkan ‘hanya’ 58% DKI menginginkan Ahok terpilih kembali nampaknya adalah isu agama, bukan kinerja.

Namun begitu, mereka yang menginginkan Ahok diganti nampaknya menghadapi masalah lain: ketiadaan penantang bagi Ahok.

Survei SMRC sendiri menunjukkan peluang berbagai nama kandidat yang sering dinyatakan akan menghadapi Ahok dalam Pilkada 2017 tidaklah besar. Elektabilitas mereka bila dihadapkan head-head to head dengan Ahok relatif rendah: Yusril Ihza Mahendra (26,3%), Tri Rismaharani (26,6%), Sjafrie Sjamsoedin (15,9%), Sandiaga Uno (19,2%), Yusuf Mansyur (22,3%), dan seterusnya.

Jadi, bila tidak ada perubahan drastis, kemungkinan besar Ahok  akan tetap menjadi Gubernur DKI 2017-2022.

Yang mengerikan adalah bila para penentang Ahok kemudian, dalam kekalutan, berusaha mengangkat kembali isu yang mungkin akan memecah bangsa, yakni agama. Mudah-mudahan saja ini tidak terjadi.

JAKARTANEWS.CO | SUMBER: MADINA ONLINE

islam-dukung-ahok-1

121,822 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa