Membara di Tanjung Balai, Asahan Sumatera Utara

JAKARAT/JNC – Meliana, 41 tahun, meminta agar pengurus mesjid Al Maksum di lingkungannya mengecilkan volume pengeras suaranya. Sesudah shalat Isya, sekitar pukul 20.00 sejumlah jemaah dan pengurus mesjid mendatangi rumah Meliana. Lalu atas prakarsa Kepala Lingkungan, Meliana dan suaminya dibahwa ke kantor lurah.

Namun suasana memanas, Meliana dan suaminya kemudian ‘diamankan’ ke Polsek Tanjung Balai Selatan. Di kantor Polsek lalu dilakukan pembicaraan yang melibatkan Camat, Kepala Lingkungan, tokoh masyarakat, Ketua MUI. dan tak lama kemudian muncul Ketua FPI setempat. Diikuti dengan massa dan banyak mahasiswa, mereka melakukan pula orasi-orasi. Aparat berhasil menenangkan mereka, membubarkan diri.’

Namun dua jam kemudian massa berkumpul lagi, setelah adanya pesan di media sosial. Mereka  mendatangi rumah Meliana dan bermaksud membakarnya namun dicegah oleh warga sekitar.  Malam kemarin, 29 Juli 2006, sekitar jam 23.oo WIB, mulai terjadi rangkaian pembakaran, hingga jelang subuh.

  • Massa yang semakin banyak dan semakin panas bergerak menuju Vihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dan berupaya untuk membakarnya tapi dihadang oleh para petugas Polres Tanjung Balau. Masa yang marah lalu melempar vihara dengan batu.
  • Massa membakara Vihara di Pantai Amor, 3 kelenteng,  3 mobil dan 3 sepeda motor
  • Massa merusak barang-barang di dalam kelenteng Jl Sudirman
  • Massa merusak barang-barang Klenteng dan Klinik Tabib di Jl Hamdoko
  • Massa merusak Klentend di Jl KS Tubun
  • Massa merusak bangunan milik Yayasan Putra Esa di Jl Nuri
  • Massa membakar Viahara di Jl Imam Bonjol
  • Massa merusak bangunan milik Yayasan di Jl WR Supratman dan 3 mobil
  • Massa merusak pagar dan membakaran barang-barang vihara dan Klenteng di Jl Ade Irma
BBC
SUMBER: BBC

Tujuh orang terduga penjarah diperiksa terkait kerusuhan bermula dari permintaan seorang perempuan kepada seorang imam untuk mengecilkan pengeras suara mesjid, dalang dan pelaku masih dicari. Sumber BBC Indonesia menyatakan, enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan bangunannya sendiri tidak terbakar habis.

Sementara itu, juru bicara Kepolisian daerah Sumatera Utara, Kompes Rina Sari Ginting menyatakan bahwa,  “Massa bisa leluasa mengamuk dan seakan polisi membiarkan, itu tak benar; Kami masih sedang mendalami, namun tidak betul polisi membiarkan. Saat itu sebetulnya sedang berlangsung dialog, namun massa di luar bergerak sendiri. Mereka bergerak cepat, kami berusaha meminta mereka untuk membubarkan diri dan tidak melakukan kekerasan. Dan jumlah polisi sangat terbatas. Kami terus mendalami, dan menyelidiki siapa pelaku-pelakunya, siapa dalangnya. Mereka pasti ditindak, karena ini merupakan perbuatan pidana.”

Sikap PB NU

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsyudi Suhud sangat menyayangkan kejadian yang terjadi di daerah Tanjung Balai, Sumatera Utara tersebut. Selanjutnya menurut  Marsyudi, “Bangsa Indonesia dari dulu selalu hidup bersama-sama, jika ada persoalan diselesaikan secara musyawarah, jika jalan keluarnya bakar membakar atau perusakan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kepada warga Tanjung Balai agar tetap waspada terhadap provokator yang dengan sengaja untuk merusak suasana.”

 

JAKARTANEWS.CO

Tg Balai Asahan

1,578 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa