Membela Rohingya, Melupakan Ahmadyah dan Syiah

Jagakarsa–Di negeri ini, sejak beberapa tahun yang lalu, ada sekelompok anak bangsa yang mengalami penolakan; dan mereka akhirnya terusir dari tanah kelahiran.

Ada kerumitan penyebab sehingga mereka jadi seperti itu. Namun, hingga kini, nasib para pengungsi Syiah dan Ahmadyah, belum banyak berubah; mereka masih dalam derita serta penderitaan. Pemerintah pusat dan lokal, sudah berganti, tapi nasib mereka masih tetap sama, atau bahkan meluncur ke arah bawah secara drastis. Dalam sikon itu, para elite politik, agama, ormas, atau apalah, malah melupakan mereka; melupakan orang-orang yang sebetulnya masih saudara sebangsa dan setanah air. Pelupaan itu, berbanding terbalik ketika ada eksodus Rohingya; elite politik, agama. ormas, malah berseru nyaring dan berteriak lantang, “Bantu Rohingya;” “Tolong Rohingya,'” dan seterusnya, dengan alasan kemanusiaan.

Mereka tampil di media, dan di jalan, dengan suara dan nada yang sama.

Luar biasa!

Itu perhatian kita, Indonesia, kepada Rohingya yang tertindas dan terusir; Sayangnya, teriakan yang sama tak terdengar untuk Syiah dan Ahmadiah!?

Mereka dilupakan dan terlupakan. Adakah dosa dan salah Ahmadyah di Lombok serta Syiah Sampang, sehingga mereka terlupakan!?

Apakah memang sudah tak ada lagi solusi kemanusiaan untuk mereka!? Tapi, untuk Rohingya, tak sedikit orang berseru, “Demi kemanusiaan, jadi harus menerima dan menolong mereka.”

Adakah beda antara “Kemanusiaan Ahmadiyah dan Syiah serta Kemanusiaan Rohingya!?”

Entalah; yang pasti mereka semua adalah umat manusia.

Atau mungkin saja, yang sementara terjadi di antara kita adalah, tampilan standar ganda ketika melihat sesuatau; standar ganda yang muncul dari kemunafikan personal.

Dengan demikian, saya menjadi percaya terhadap pandangan Mochtar Lubis.

Suatu pandangan bahwa dalam diri Manusia Indonesia, penuh dengan paradoks yang tetap saja tak terselami oleh siapa pun, termasuk oleh Mochtar Lubis sendiri.

Ciri ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis, yang utama adalah munafik. Mempunyai penampilan yang berbeda, di depan dan belakang.

Sifat ini muncul karena sejak lama manusia Indonesia mengalami penindasan sehingga tidak mampu untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dikehendakinya, dan sesuai dengan hati nuraninya.

Kemunafikan itulah, maka mereka bisa dengan cepat berubah kata dan tampilan, demi cari nama.

DPR RI ikutan latah; mereka bisa lihat semut di Seberang Laut, tapi buta terhadap gajah di samping rumah.

Jika Komisi XI DPR RI mampu melihat pergumulan dan nasib Rohingya, maka mengapa mereka tak mampu berseru tentang Ahmadyah di Lombok dan Syiah di Sampang?

Oleh sebab itu, saya menanti Surat Terbuka dari Komisi XI DPR RI tentang nasib Ahmadyah di Lombok dan Syah di Sampang. Mereka adalah Rakyat RI yang butuh pernatian dan pertolongan.

DPR RI jangan bagaikan bisa melihat semut di seberang sana, tapi tak mampu memandang gajah di depan mata.

Ada baiknya, Komisi XI DPR RI juga memalingkan perhatian ke/pada masalah-masalah intoleransi serta penindasan terhadap minoritas yang terjadi secara spartan di Nusantara; mereka lebih penting dari yang lainnya.

Wahai DPR RI, anda itu Dewan Perwakilan Rakyat RI bukan “Dewan Perwakilan Rohingya di Indonesia.”

 

Opa Jappy
+62818121642

 

JAKARTA NEWS | 50 001 14

50,586 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan