Mengenal Paus Fransiskus yang Akan Berkunjung di Indonesia

PAUS

JAKARTA/JNC. – Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus, mengatakan, ia akan senang jika bisa mengunjungi Indonesia. Paus diharapkan bisa menghadiri Hari Pemuda Asia ke-7 di Jakarta pada 30 Juli – 6 Agustus mendatang.  Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Antonius Agus Sriyono, Senin Maret 2016 telah bertemu dengan Paus Fransiskus di Istana Apostolik, Vatican City.

Sriyono bertemu Paus untuk menyerahkan Surat Kepercayaan dari Presiden Joko Widodo. Penyerahan surat ini menandai permulaan tugasnya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Vatikan. Sriyono bertemu secara empat mata dengan Paus Fransiskus selama 20 menit.

Mengawali prosesi penyerahan Surat Kepercayaan, Paus menyampaikan ucapan selamat atas penugasan Sriyono. Ia juga menyampaikan harapannya agar penugasan Sriyono berjalan lancar dan berkontribusi bagi peningkatan hubungan bilateral Indonesia-Vatikan. Paus Fransiskus secara sepesifik menyebutkan, dirinya akan senang jika dapat berkunjung ke Indonesia.

Menanggapi pernyataan Fransiskus, Sriyono menyampaikan harapan pemerintah Indonesia bagi Paus untuk berkenan menghadiri Hari Pemuda Asia ke-7 pada 30 Juli – 6 Agustus 2017.

Dubes Sriyono mengindikasikan, Hari Pemuda Asia itu nanti akan diikuti 29 negara dengan perkiraan peserta mencapai 2.000 orang. Dua isu yang menjadi prioritas selama masa penugasan beliau, yakni dialog lintas agama kerja sama dengan Museum Vatikan.

Paus Fransiskus menyampaikan dukungannya untuk peningkatan dialog. Bukankan kita adalah anak-anak Abraham.  Sejarah tiga agama samawi yang mengakui Abraham (Ibrahim) sebagai salah seorang nabi. Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia dan sangat plural dari segi agama, suku, bahasa dan budaya.

Sosok Paus Fransiskus

PAUS Fransiskus: Jesusi Jenius Yang Menguasai Teologi, Filsafat, Kimia, Saster, Psikologi

SUPLEMEN: Tak sedikit yang familiar dengan lukisan di samping ini —-> ya, ia adalah Iganatius Loyola, salah satu inspirator bagi banyak orang. 

Pada 15 Agustus 1534, Ignatius Loyola, Fransiskus Xaverius, Alfonso Salmeron,Diego Laynez, dan Nicolas Bobadilla (Spanyol), Pierre Favre (Perancis), Simão Rodrigues (Portugis), tanggal 15 Agustus 1534, mendirikan Serikat Yesus di Paris – Perancis; dengan tujuan utama, ” … mengembangkan pelayan dan misi, … pergi kemana pun atas perintah Paus, …”

Pada 1537 mereka pergi ke Roma,  Italia untuk mendapatkan persetujuan Paus atas ordo mereka. Tetapi pada waktu itu, Paus Paulus III, hanya menyetujui penahbisa mereka sebagai Imam/Pastor di Gereja Katolik; mereka ditahbiskanmenjadi pastor; dan ditahbisan di Venesia oleh Uskup Arbe (24 Juni 1537).

Iganatius dan teman-temannya tidak putus asa; tahun 1538, ia dan Favre danLaynez, sekali lagi ke Roma pada Oktober 1538, agar Ordo Yesuit mendapat persetujuan Paus (ada cerita lain yang mengatakan bahwa Ignatius Cs berhari-hari berdiri di lapang terbuka, dihadapan kediaman Sri Paus, tidak mau berpindah, sampai Sri Paus menerima mereka). Akhirnya Paus Paulus III mengukuhkan SJ pada 27 September 1540; Ignatius dipilih menjadi pemimpin umum pertama. Dia mengirim para sahabatnya ke seluruh Eropa untuk mendirikan sekolah, kolese, dan seminari.

Prinsip utamanya menjadi Motto Serikat Yesuit adalah Ad Maiorem Dei Gloriam atau Semunya untuk Kemuliaan Allah.

Serikat Jesus atau SY (yang anggotanya, bisa dikatakan, 99 % adalah intelektual Katolik dari berbagai disiplin ilmu) berkembang sampai ke mana-mana, termasuk Indonesia, dengan misi utama pendidikan. Bisa dikatan bahwa SY berupaya pada pendidikan berkualitas dan berkeadilan untuk semua. Sehingga, di mana pun SY berada, maka akan bertemu/membangun lembaga pendidikan yang berkualitas.

Mendapat dan mengikuti pendidikan yang berkualitas itulah, yang menjadikan Jorge Mario Bergoglio (* 17 Desember 1936), salah satu putera imigran Italia yang bekerja di perusahan KA di Argentina, bergabung dengan SY. Jorga Mario sudah mendapat ijazah S2 pada bidang Kimia dari Universitas Buenos Aires, kemudian tahun 1958, bergabung dengan SJ, mengikuti pendidikan dan persiapan menjadi imam Katolik (seminari), Filsafat, Sastera, Kimia, dan Psikhologi; ia juga menguasai lebih dari 10 bahasa asing. Sebelas tahun kemudian, 13 Des 1969, Jorge Mario Bergoglio ditahbiskan sebagai Imam/pastor di Buenos Aires.

Kesetiaan, pelayanan dan pengabdian Jorge Mario Bergoglio di Argentina tersebut, menjadikan pada 21 Februari 200, Paus Yohannes Paulus ke II, mengangkat Jorge Mario Bergoglio yang telah menjadi Uskup Agung Buenos Aires (sejak tahun 1998) sebagai Kardinal (Kepala gereja Katolik di) Aregntina.

Sebagai Kardinal, Jorge Mario Bergoglio, ia tetap tampilan diri sederhana yang menunjukan keterpihakan ke/pada kaum miskin dan kelas bawah di Argentina; sehingga sering juga disebut gembala miskin untuk rakyat miskin. Di sampin itu, Kardinal Jorge Mario Bergoglio juga berani tampil beda atau berlawan dengan kebijakan, keputusan pemerintah Argentina yang liberal-sekuler; ia menantang legalisasi pemerintah Argentina terhadap perkawinan sejenis pada tahun 2010, memperjuangkan hak tumbuh dan pendidikan anak dalam bimbingan orang tua.

Kini, Kardinal Jorge Mario Bergoglio telah menjadi Paus Fransiskus, ia adalah seorang Yesuit sejati, dengan segudang pengalaman serta mengusasi berbagai ilmu selain Teologi, yaitu Kimia, Sastera, Filsafat, dan Psikhologi. Ia juga adalah seorang Doktor lulusan Jerman dan yang juga seorang Guru Besar.

Sekilas Info tentang Paus Fransiskus:

  • Ia lebih suka bepergian naik bis umum
  • Ia telah hidup dengan satu paru-paru selama lebih dari 50 tahun
  • Ia keturunan Italia, putra dari seorang pekerja perusahaan kereta api
  • Ia seorang ahli kimia
  • Ia terpilih menjadi paus pertama yang bukan dari Eropa di era modernIa menentang praktek homoseksuan meski masih menerima penggunaan kondom dengan pertimbangan “dapat dibenarkan” sejauh untuk mencegah penyakit menular
  • Tahun 2011, ia pernah membasuh dan mencium kaki penderita AIDS di sebuah rumah sakit
  • Ia fasih berbicara bahasa Italia, bahasa Spanyol dan bahasa Jerman
  • Sampai sekarang ia tinggal di sebuah flat kecil, berjauhan dari tempat tinggal khusus bagi uskup
  • Ia pernah berkata tidak akan pergi ke Roma, tetapi lebih memilih memberi ongkos perjalanannya itu bagi orang-orang miskin
  • Ia pernah menjadi runner-up dari konklaf tahun 2005
  • Ia pernah menjadi penulis buku dalam bahasa Spanyol berjudul “Sobre el Cielo y la Tierra” (Tentang Surga dan Dunia)
  • Ia berpandangan konservatif berkaitan soal-soal doktrin gereja. Ia mengkritik para imam Katolik yang menolak membaptis bayi-bayi yang lahir dari “single mother”

[Oleh: Jappy Pellokila]

PEOPLE seem to love Pope Francis, and here’s an excellent example of why.

Previous pontiffs have been a little stuffy and largely unapproachable to the common person. But not this Pope. At an event in the Vatican this week, Catholic families from around the world gathered to celebrate the Year of Faith with His Holiness.

Six-year-old orphan Carlos was a little besotted with the leader of the world’s Catholics.

Other popes may have sent the lad away, but Pope Francis showed the true meaning of the phrase Holy Father – acting like a proud father rather than a distant public figure.

Carlos, who was born in Colombia and was adopted by an Italian family last year, made his way on to stage as the Pontiff gave a speech.

Several cardinals tried to usher him away, even using lollies as a lure. But Carlos could not be moved. There were even hugs and pats-on-the-head from Francis, who continued with his speech.

Carlos even plonked himself down in the Pope’s chair and the two had a small discussion amongst themselves. His adopted mother, who wished to remain anonymous, said none of this was planned.”The blessing our son receives goes out to all the abandoned children in this world,” she said via social media, Italian news sites reported.

“Just another display of the pope and his kindness.”

Far be it for us to go all preachy, but we’ve got a fair idea that Jesus himself would have done something similar.

 http://www.news.com.au/world/boy-wanders-on-stage-hugs-pope-francis/story-fndir2ev-1226750094623

God is love, and all that. AFP PHOTO

KLIK FOTO

Paus Fransiskus kembali membuat pernyataan yang mencengangkan. Dalam wawancara dengan harian terbitan Italia, La Repubblica, Paus asal Argentina itu menjelaskan keyakinannya akan Tuhan. Saya percaya akan Tuhan, tetapi bukan (kepada) Tuhan Katolik,” kata Paus kepada pendiri dan mantan editor harian La Repubblica, Eugenio Scalfari.

Scalfari yang sudah cukup terkejut mendapatkan kesempatan wawancara pribadi dengan Paus, semakin terkejut dengan pernyataan itu. Lalu, Scalfari meminta Paus untuk mengelaborasi pernyataannya itu. Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal, dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia,” ujar Paus.

Lebih jauh Paus Fransiskus menjelaskan bahwa sebagai pemimpin umat Katolik, dia memercayai Tuhan dan Yesus Kristus sebagai inkarnasi Tuhan. Yesus adalah guru dan pemimpin saya. Tetapi Tuhan, Bapa, adalah cahaya dan Sang Pencipta. Itulah yang saya yakini. Apakah menurut Anda keyakinan kita jauh berbeda?” tanya Paus kepada Scalfari.

Paus berusia 76 tahun ini menambahkan, dia tak selalu sepakat dengan apa yang selama ini menjadi standar Gereja Katolik. Pandangan Vatikan sentris telah mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tak sepakat dengan cara ini, dan saya akan lakukan apa pun untuk mengubahnya,” Paus menegaskan.

Sejak terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus terbukti menjadi seorang Paus beraliran liberal. Bahkan dia bersikap lebih lunak terhadap hal-hal yang selama ini ditentang keras Vatikan seperti homoseksualitas dan ateisme.

Paus Fransiskus menegaskan, kelompok gay seharusnya jangan dimarjinalkan, tetapi mereka harus diintegrasikan ke dalam masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Paus Fransiskus dalam wawancara selama 80 menit dengan para wartawan dalam pesawat terbang yang membawanya kembali ke Roma setelah melakukan kunjungan selama sepekan di Brasil.

Dalam pembicaraan itu, Paus juga menegaskan dia sebagai seorang agamawan tidak memiliki hak untuk menghakimi kelompok gay. Jika seseorang yang kebetulan gay dan memiliki niat baik kemudian mencari Tuhan, siapakah saya ini sehingga bisa menghakimi dia?” ujar Paus.

Paus mencoba membela kelompok gay dari diskriminasi. Paus juga merujuk para katekisma universal Gereja Katolik, yang mengatakan orientasi homoseksual bukanlah dosa, melainkan perilaku homoseksual adalah dosa.  Katekisme Gereja Katolik menjelaskan masalah ini dengan gamblang. Mereka jangan didiskriminasi karena orientasinya. Mereka malah harus diintegrasikan ke dalam masyarakat,” tambah dia.

http://internasional.kompas.com/read/2013/07/29/2259002/Paus.Fransiskus.Jangan.Marjinalkan.Kelompok.Gay

1,601 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa