Menyatakan Kebenaran

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

 

JAKARTA/JNC – Kebenaran [dari kata benar] dapat bermakna tindakan dan kata-kata yang jujur dan benar; sesuai dengan asas-asas yang berlaku; dan diterima secara universal oleh [hampir] seluruh umat manusia.

Kebenaran juga bisa berarti ungkapan atau tindakan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Benar dan kebenaran yang diterima secara universal tidak terpengaruh oleh sikon apapun, sehingga ada ungkapan bahwa kebenaran harus ditegakkan biarpun dunia runtuh.

Seringkali kebenaran hanya dimaknai pada hubungan dengan kata-kata dan tindakan seseorang, sehingga muncul ungkapan seperti ia bertindak benar ataupun mereka berkata-kata dengan benar. Padahal, benar dan kebenaran menyangkut atau berhubungan dengan banyak hal, misalnya ajaran-ajaran agama, hukum, sosio-kultural dan iptek.

Kebenaran selalu dihubungkan dengan ruang lingkup sikon yang mengikutinya; misalnya kebenaran hukum, kebenaran iptek, kebenaran matematis, kebenaran Ilahi, dan lain sebagainya.

Kebenaran iptek pada bidang eksata [misalnya matematika, kimia, fisika, biologi], didapat melalui perhitungan serta serangkaian percobaan dan pembuktian laboratorium tertutup maupun terbuka.

Pada bidang ilmu-ilmu sosial, kebenaran diperoleh melalui berbagai analisa kritis, penelitian, dan pengamatan lapangan terhadap atau dalam komunitas masyarakat.

Kebenaran hukum, lebih menyangkut keputusan [tindakan] hukum terhadap seseorang [ataupun lembaga], yang dipengaruhi oleh ada atau tidaknya saksi-saksi yang meringankan maupun memberatkan.

Kebenaran [ajaran-ajaran] agama-agama, muncul dari pemahaman iman yang mendatangkan penerimaan dan pengakuan terhadap ajaran agama, sebagai perintah dan peraturan Ilahi. Biasanya kebenaran [ajaran-ajaran] agama-agama telah menjadi suatu aksioma [menurut kaum agamawan] yang tidak memerlukan pembuktian, dan harus diterima secara iman – percaya.

Dengan demikian, pada hakekatnya, kebenaran mempunyai dimensi manusiawi dan Ilahi.

Dimensi manusiawinya adalah bersifat moral, etika, hukum, serta berhubungan dengan pembuktian-pembuktian iptek, menyangkut bidang eksata maupun sosial.

Dimensi Ilahinya, menyangkut formula-formula keagamaan, yang harus diterima atau dipercayai apa adanya sesuai teks atau ayat-ayat Kitab Suci. Misalnya, kesaksian Kitab Suci tentang adanya TUHAN – Allah dan keberadaan-Nya, penciptaan alam semesta dan manusia, Surga, Neraka, hidup setelah kematian, penebusan, dan lain-lain. Kebenaran Ilahi tidak perlu pembuktian tetapi iman atau percaya pada diri seseorang atau umat beragama.

OPA JAPPY – JAKARTANEWS.CO

10,127 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa