Merayakan Ulang Tahun

Jakarta News – Ulang Tahun [Ibrani, yom hulledet; Yunani, ta genesia; Arab, milad], merupakan kebiasaan merayakan hari kelahiran seseorang; mengingat kembali ‘adanya – munculnya’ suatu organisasi, lembaga, bahkan mengenang dan memperingati peristiwa dan pernyataan kelahiran [proklamasi] negara.

Ulang tahun juga bisa bermakna, suatu perayaan untuk ‘mengingat [kembali] peristiwa lahir – menjadi ada – menjadi eksis, dan terlihat ada, eksis, oleh orang lain serta masyarakat atau publik. Jadi, jika tak pernah ada, tak pernah eksis, tak pernah terlihat, maka tak ada ulang tahun.

Pada masa lalu, pada era Hellenis, bahkan jauh sebelumnya, manusia, karena keyakinannya, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan alam serta unsur-unsur yang ada padanya.

Karena hubungan yang erat tersebut, maka jika ada gejala-gejala pada alam [darat, laut, udara/langit, serta bernda-benda di langit], mereka pahami sebagai ‘sesuatu yang akan berdampak positif maupun negatif’ kepada dirinya. Oleh sebab itu, manusia harus menjaga keselarasan dengan alam, sehingga ia hanya ‘memberikan dampak-dampak positif’ untuk hidup dan kehidupan manusia.

Dan juga, pada masa itu, manusia mempunyai keyakinan bahwa ia ada karena kebaikan alam; serta hasil [paduan] kekuatan dewa-dewi atau bahkan hasil perkawinan dewa-dewi; dan dewa-dewi itu bisa dibentuk dalam rupa patung, arca, dan lain sebagainya.

Para dewa-dewi itu, merupakan ‘bentuk yang terlihat dari kekuatan yang tak terlihat dan diluar daya jangkau serta kemampuan manusia;’ artinya dewa-dewi merupakan cerminan kuasa-kekuatan yang melebihi manusia; misalnya, pada masa itu Dewi-dewi Zeus, Artemis, Diana, ada juga Baal Zebul, Baal, Al-lat, Istar, Asyera, Al-Uzza, dan sebagainya.

Seiring dengan hal tersebut, ketika seorang perempuan [ibu] melahirkan, atau sesaat setelah melahirkan, suaminya, ayah si bayi, harus berlari keluar rumah ataupun menuju kuil/tempat dewa-dewi terdekat, ia harus melihat – mengingat – menandai gejala-gejala/hal-hal yan ada [terjadi] di sekitarnya, lingkungan tempat dewa-dewi [seringkali nama sang bayi yang baru dilahirkan pun diambil dari gejala-gejala yang terjadi tersebut]. Dan ketika, tanda-tanda dan gejala-gejala yang sama pada waktu-waktu berikutnya seiring dengan pertumbuhan sang bayi – anak sampai [belum] dewasa/mandiri, maka ayah-ibunya selau membawa persembahan ke/pada Dewa-dewi sebagai tanda terima kasih.

“Tanda terima kasih” seperti itu, pada masa lalu, juga terjadi di Eropa Barat; tapi ditambah dengan nuansa memohon pertolongan Dewa-dewi agar sang anak dapat bertumbuh sampai dewasa tanpa gangguan roh-roh jahat [yang juga adalah lawan atau musuh para Dewa-dewi].

Sama halnya dengan seorang raja atau pun ratu, ketika ia naik takhta [sebagai tampilan diri kepada rakyat serta menunjukkan bawa ia telah mempunyai kuasa dan kekuasaan], maka harus melihat semua gejala dan tanda-tanda di alam serta tempat para Dewa-dewi.

Kemudian, ada waktu-waktu berikutnya, di era kekuasaannya, sang raja – ratu harus memberikan korban kepada Dewa-dewi; dengan tujuan yang sama yaitu sebagai tanda terima kasih.

Pada masa itu, khususnya budaya Hellenis, ta genesia = ulang tahun; selalu diikuti dengan genethlia= perayaan ulang tahun. Hal tersebut harus dilakukan/terjadi karena ta genesia selau berhubungan dengan hari kematianatau pun waktunya seseorang akan mati; jadi, ta genesia tak diikuti oleh genethlia maka ia yang ulang tahun akan cepat mati.

Dengan demikian, seturut dengan pandangan tersebut, maka dapat juga dipahami bahwa ta genesia sebetulnya merupakan seseorang mengingat bahwa rentang hidup dan kehidupannya semakin pendek; semakin berkurang rentang hidup dan kehidupannya

Pada sikon kekinian, manusia modern, tidak lagi melihat gejala-gejala dan tanda-tanda pada alam untuk melakukan ta genesia dan genethlia [ulangan tahun dan perayaan ulang tahun]; manusia sudah dibantu oleh kalender, tapi, hakikat perayaan itu, sudah bergeser.

Manusia tak lagi berterima kasih kepada Dewa-Dewi, atau pun takut kepada roh-roh yang dapat mengganggu seorang anak pada rentang menuju kedewasaan.

Namun, pada masa kini, orang lebih suka ‘mendapat selamat hari ulang tahun’ dan ‘selamat panjang umur’ dan telah lupa bahwa “di saat bersamaan itu” rentang hidup dan kehidupannya berkurang satu tahun.

Dirimu, ya diriku yang sementara baca, pernah merayakan hari ketika dilahirkan!? atau hari yang sering disebut HARI ULANG TAHUN. Jawaban pasti, ada dalam dirimu.

Masih ingatkah, ketika mulai mengerti makan Ulang Tahun, dan dalam ingatan itu, pertama kali menyadari apa yang disebut merayakan Ulang Tahun.

Cobalah periksa album-album lama, mumgkin masih tersisa peristiwa manis itu, Tidak ada ucapan yang bernada, misalnya,
– Semoga Siap-siap Hadapi Hari Kematian
– Semakin bertambah umur maka hari-hari kematian telah dekat
– Jatah Hidup dan Kehidupanmu, Sudah Semakin Habis atau Selesai

Atau, kata-kata yang bersifat peringatan seperti, Selamat Ulang Tahun, Kematianmu Sudah Dekat, maka Berjaga dan Berdolaah agar ketika meninggal dalam keadaan beriman, serta kata-kata yang bernuansa seperti itu.

Padahal, kata-kata ucapan HUT seperti itu tak salah, namun orang enggan mengucapkan atau sampaikan ke/pada mereka yang berulang tahun.

Entah mengapa dan kenapa

Pada hari ulang tahun, sebetulnya seseorang, ia yang berulang tahun, patut merenungkan bahwa “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan;”

Jadi, di hadapan DIA yang mempunyai HIDUP dan KEHIDUPAN, selama – sepanjang – seberapa – selanjut usianya itu, hanyalah singkat atau sementara. “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu [kita] hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu [kita] bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu [kita] mengerti kehendak Tuhan”

Dengan itu maka ulang tahun seharusnya tanpa hadiah, tanpa apa-apa, tanpa banyak bicara, tanpa banyak berkata, melainkan perenungan dalam kesendirian.

Karena di dalam atau pada sikon itu, seseorang menyadari bahwa kapan ia adadan berada dan rentang waktu ada dan beradanya telah berkurang, serta terus menerus berkurang.

Selamat Ulang Tahun

Opa Jappy | 26 Agustus 2010

Jakarta News code 100 025 15

100,624 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa