Mereka Dibunuh karena Tak Bisa Baca Al Quran

JAKARTA/JNC – Mereka yang pernah berkunjung atau urusan bisnis di Banglades tentu kenal betul wilayah Gulshan, Dhaka. Kawasan yang menjadi pusat para ekspatriat. Banyak berkumpul warga asing, termasuk kantor-kantor diplomatik, hotel, dan apartemen. Gulshan, tak pernah mengenal “jam tidur” atau sepi.

Saat itu, Jumat 1 Juli 2016, restoran Holey Artisan Bakery, di wilayah Gulshan, Dhaka, Banglades, seperti biasa, penuh sesak dengan orang asing, makan serta ngobrol seputar bisnis.

Sekelompok pemuda Bangla, dengan tampilan rapi masuk ke dalam resto; tak seorang pun mencurigai siapa mereka yang sebenarnya. Semua orang di resto tak menduga bahwa mereka membawa senjata api, sejumlah bom, dan pedang.

Saksi mata menyatakan, kelompok tersebut menyebar di ruangan, kemudian mulai memerintah pengunjung resto. Mereka mengumpulkan para pengunjung di beberapa sudut resto, dan kemudian melakukan “uji identitas” dengan cara lafalkan ayat Quran. Hasnat binti Rezaul Karim, yang juga ada di resto, menyatakan bahwa, “Para penyandera meminta semua orang yang ada di dalam restoran membaca Kitab Suci Al Quran. Mereka yang bisa membaca Al Quran kemudian dipisahkan dari tawanan yang lain.”

Saksi lainnya, warga Banglades yang ada di resto melihat dan mendengar para penyandera mengucapkan kalimat yang mengerikan di telinga para warga asing, “Kalian semua tak perlu takut, kami datang ke sini hanya untuk membunuh mereka yang bukan Muslim.” Kemudian yang terjadi adalah eksekusi. Para penyandera kemudian dengan tenang menembak mati mereka yang “tak lolos tes” lafalkan ayat Quran.

Minggu, 3 Juli 2016, ketika penyanderaan berakhir, yang tersisa adala 28 jenazah korban pembunuhan brutal; semuanya warga negara asing dari luar Banglades. Mereka berasal dari Italia, Amerika Serikat Jepang, dan India.

Enam penyerang tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Banglades, dan seorang pelaku penyanderaan ditangkap hidup-hidup.

Pengakuan ISIS.
Sabtu 2 Juli 2016, The Amaq News Agency  yang terafiliasi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) merilis sejumlah foto bergambar para pelaku penyerangan yang dideskripsikan sebagai warga Banglades.  Terlihat lima orang dengan senyum mengembang berpose di depan bendera ISIS. Mereka pun menyebut orang-orang ini dipersenjatai dengan pisau, parang, senapan serbu, dan granat.

Reaksi Perdana Menteri Banglades Sheik Hasina Wajed.
PM Banglades, melalui TV menyatakan kepada rakyat agar tetap tenang dan tetap percaya bahwa pemerintah mampu mengatasi penyanderaan tersebut. Sekalig, PM Banglasdes menyatakan perkabungan nasional selama dua hari, dan menyatkana bahwa, “Kami tak menghendaki teroris hidup di Banglades. Saya tak mengerti apa yang mereka yakini, Muslim macam apa sebenernya mereka ini?”

Reaksi Dunia.
Kementerian Dalam Negeri AS segera mengeluarkan pernyataan bahwa ada warganya yang tewas dalam serangan itu. AS akan memberikan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Hasina atas komitmen perempuan itu dalam memberantas ekstrimisme di Banglades.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe langsung membentuk tim kerja yang dikirim ke Banglades untuk membantu langkah investigasi.

Reaksi Nitizen Indonesia
Kasus pembunuhan di Restoran Holey Artisan Bakery, di wilayah Gulshan, Dhaka, Banglades, yang diakui oleh ISIS tersebut, juga mendapat perhatian sejumlah kalangan di Indonesia. Sejumlah besar nitizen menyampaikan ucapan memberi simpati dan duka pada keluarga korban.

Namun, ada pula yang berpendapat, tak perlu “pray for Bangladesh,”  karena banyak warga Bangla yang melakukan hal-hal tak bermartabat terhadap TKW di luar negeri.

OPA JAPPY – JAKARTANEWS.CO

760 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa