Merenungkan Ulang Hubungan Agama dan Negara

55285efa6ea834a7068b4567

Era refomasi -yang di tandai dengan runtuhnya rezim Soeharto- diharapkan membawa perubahan dalam hidup dan kehidupan bangsa Indonesia. Akan tetapi perubahan tersebut, masih jauh dari harapan. Rakyat dan bangsa Indonesia masih merangkak dengan pelan menuju perubahan. Salah satu dampak reformasi adalah adanya kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, dan mengeluarkan unek-unek dan keinginan hati, yang kadang kala menyakitkan pihak lain. Kebebasan yang ada ternyata menjadi kebebasan yang tanpa batas, dan cenderung anomali, tidak mengenal aturan dan hukum, bahkan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, dan sekaligus membuat orang lain terluka dan teriris.  Hal itu nampak dari segolongan masarakat tanpa peduli dengan perasaan umat beragama- dengan lantang menawarkan dan terus menerus berteriak melalui media massa- bahwa jika negara Indonesia diatur sesuai dengan salah satu ajaran agama, maka seluruh rakyat akan mencapai damai sejahtera, kemajuan, demokrasi, perbaikan, perubahan, serta adil dan makmur, dan lain-lain. Teriakan-teriakan seperti ini sah-sah saja, tetapi harus disampaikan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat.

Keadaan ini, secara sadar maupun tidak, membangun opini masyarakat, bahwa isi tawaran dan teriakan itu memang benar. Lalu bagaimana peranan agama yang dianutnya, apakah bisa juga membawa umat mencapai hal yang sama dengan teriakan tadi?

Agaknya, kita, umat beragama, perlu merenung ulang  konsep hubungan Agama dan Negara atau Negara dan Agama. Oleh sebab itu, sebagai warga negara,  perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh hubungan antara Agama dan Negara atau Negara dan Agama. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh warga gereja sebagai umat beragama dan warga negara dalam menyikapi konsep  hubungan Agama dan Negara, yaitu:

Negara dalam Agama-agama

Menunjuk pada konsep atau pandangan  tentang negara dalam agama-agama. Misalnya, arti dan hakekat negara menurut pandangan agama Kristen, Islam, Katolik, Hindu, Buddha, dan lain-lain. Dalam konteks ini, tokoh-tokoh agama menyampaikan dan menunjukkan kepada penganutnya pandangan mereka mengenai negara, serta tugas dan tanggungjawab sebagai warga negara menurut ajaran agamanya. Sekaligus memperhatikan “pemisahan” antara Negara dan Agama, walaupun obyek pelayanannya sama yaitu manusia, rakyat yang ada dalam negara.
Dalam  konsep ini, Institusi Agama dan Negara yang berada dalam satu lokasi atau konteks kehidupan namun keduanya tidak saling mencampuri. Agama diciptakan untuk menghantar manusia mencapai hidup dan kehidupan masa depan eskhatologis, hidup setelah kehidupan sekarang,  yang tidak lagi di batasi dimensi. Sedangkan negara diciptakan agar ada kesejahteraan, keteraturan dalam hidup bermasyarakat, sosialisasi, mengembangkan serta membangun sarana-sarana penunjang hidup dan kehidupan sesuai dengan kemampuan.

Agama-agama dalam Negara

Menunjuk pada adanya agama-agama dalam satu negara. Artinya, pada satu negara ada banyak agama, namun mereka diberi hak dan kebebasan yang sama untuk melayani pemeluknya, melakukan ibadah, mengembangkan agamanya, dan juga membangun sarana ibadahnya. Di dalamnya termasuk negara tidak mementingkan, mengutamakan,  memperhatikan salah satu agama sambil mengesampingkan yang lain. Akan tetapi, negara memberi kesempatan yang sama kepada agama-agama untuk pelayanan dan kesaksian kepada umatnya serta masyarakat dan bangsa secara luas. Negara dan Agama saling membantu, menolong,  dan kerjasama untuk mensejahterahkan masyarakat. Negara menjadi fasilitator dalam kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama. Bahkan ada kesempatan bagi tokoh-tokoh agama untuk menegur pemimpin negara jika mereka melakukan penyimpangan, ketidakjujuran, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme,  dan hal-hal lain yang menyakiti rakyat.

Agama Negara

Artinya, ada salah satu agama atau hanya ada satu agama yang diakui oleh negara, sebagai Agama Negara secara resmi.  Agama-agama di luar agama resmi atau agama negara  tersebut, tidak diakui keberadaannya. Pada konteks ini, Negara hanya memberikan fasilitas kepada agama tersebut, serta kemudahan-kemudahan tertentu bagi penganutnya. Dan jika ada agama lain dalam negara tersebut, maka akan mengalami penghambatan, larangan,  tekanan dan berbagai kesulitan lainnya.

Dalam negara yang menganut dan menjalankan  konsep Agama Negara, maka yang terjadi adalah negara tidak memberi hak hidup serta melakukan penghambatan dan  penindasan terhadap Agama-agama  yang lain dan umatnya. Pemimpin-pemimpin Agama Negara pun tidak perlu terlalu melelahkan diri dengan mengem-bangkan misi  dan visi Agama, karena seluruh rakyat mau tidak mau  memeluk Agama Negara. Karena orang menjadi beragama karena memang harus beragama berdasarkan undang-undang dan pengakuan Negara terhadap satu Agama saja.

Negara Agama

Artinya, semua tatanan hidup dan kehidupan dalam negara harus sesuai dengan hukum-hukum  atau ajaran-ajaran agama yang diakui negara. Undang-undang dan peraturan negara serta keputusan dan kebijakan negara di dasari ajaran-ajaran agama dan teks dan pandangan serta ajaran Kitab Suci. Para pengelola negara atau pemerintah harus tunduk kepada pandangan-pandangan atau ajaran agama jika mau mengambil suatu keputusan atau kebijakan dalam menjalankan tugasnya, termasuk dalam peraturan dan undang-undang, keputusan-keputusan lokal, wilayah, maupun nasional.

Dalam Negara Agama, akan terjadi semacam “pemaksaan” terhadap rakyat agar memeluk Agama Negara.  Para penganut agama yang “tidak diakui sebagai agama negara” harus menjadi pemeluk Agama Negara. Hal ini terjadi karena negara tidak mengakui eksistensi agama-agama lain. Dan juga akan terjadi, orang menjadi beragama hanya karena ingin diakui sebagai warga negara, memperoleh kedudukan, jabatan, keuntungan materi, dan lain-lain, bukan karena kesadaran pribadinya serta panggilan Ilahi dan keinginan untuk berhubungan dengan Yang Ilahi.

Bagaimana yang baik?

Sebagai  rakyat, warga gereja dan warga negara RI, tentu saja perlu mencermati sampai jauh mana konsep hubungan Agama dan Negara yang ditawarkan dan dituntut oleh sebagian anak bangsa. Sebagai bagian dari bangsa yang besar, tentu ada kerinduan agar terjadi perubahan-perubahan kearah kemajuan pada semua aspek hidup dan kehidupan.

Dan juga, sebagai anak bangsa yang terlahir di republik ini, harus menyadari bahwa untuk mencapai Indonesia Baru, tidak harus merubah semua tatanan hidup dan kehidupan serta keanekaragamanan agama mejadi satu agama melalui Agama Negara maupun Negara Agama, karena agama telah ada sebelum terbentuk-nya Negara kesatuan RI. Agama-agama dalam Negara RI merupakan kekayaan dan kekuatan untuk mencapai kebersamaan sebagai bangsa yang besar kearah kemajuan dalam semua aspek.
Bagi rakyat dan bangsa Indonesia agaknya yang terbaik adalah memahami pandangan agamanya mengenai agama, serta melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik sesuai dengan pemahaman imanya. Dan dengan demikan warga gereja harus terus menerus berupaya untuk mengembangkan esksistensi Agama-agama dalam Negara, sambil berusaha meniadakan idea-idea serta konsep-konsep Negara Agama dan Agama Negara.
OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

807 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa