Mesjid dan Gereja Tanpa pagar dan Pintu-pintu Tertutup

JAKARTA/JNC – Di Nusantara, agama-agama (dan juga tempat ibadah agama-agama) telah mempunyai peran penting pada/dalam komunitas masyarakat. Entah sejak kapan terjadi, dan sudah lama terjadi, ada semacam penyamaan dan identifikasi antara suku, sub-suku dengan agama-agama.

Idenfikasi yang menjadikan, penyebutan suku tertentu, maka diidentik dengan agama tertentu (yang dianut oleh mayoritas suku atau sub-suku); dan juga, seringkali unsur-unsur budaya yang ada pada suku – sub-suku sudah dipengaruhi agama-agama. Dan dengan itu, mudah untuk mengenal cepat suku A dengan agama X; suku B dengan agam Y; suku C dengan Agama Z, dan seterusnya. Model seperti itu, entah benar atau salah, telah diterima secara umum di Nusantara.

Kebetulan, dalam konteks sosial serta akademik, mengenal dengan baik tentang Kristen dan Islam; oleh sebab itu, hanya memperhatikan tentang Mesjid dan Gereja.

Mesjid dan Gereja, pada daerah-daerah di Nusantara, tak sekedar tempat untuk berbhakti, beribadah, namun juga sebagai tempat belajar, sekolah, serta pertemuan masyarakat. Keduanya, bisa sebagai community centre pada banyak daerah, di kota, kecamatan, kelurahan, pedesaan dan lain sebagainya.  Bahkan ada yang sekaligus sebagai area dan tempat pesta penikahan, rumah duka, bahkan bazaar murah, tempat perlindungan dikala bencana, bahkan juga area bhakti sosial, dan masih banyak fungsi yang lain.

Saya mempunyai contoh dari masa lalu, puluhan tahun yang silam. Ketika ku masih di Kupang (puluhan tahun yang lalu),  gedung-gedung gereja masih sederhana, dan tanpa pagar, pintu-jendela selalu terbuka; banyak orang (pada waktu itu, termasuk kami para abg dan remaja) masuk-keluar halaman dan ruang Gereja tanpa curiga dan dicurigai; tak ada yang takut, mereka mencuri, merusak, membom, dan seterusya; betul-betul Gereja tanpa pagar.

Sama juga, ketika ku ada di Jawa Tengah (waktu kuliah), tiap akhir pekan selau jalan-jalan di Kampung. Sehingga mengenal dengan betul pedesaan sekitar Semarang, Demak, Kudus, Pati, Watu Ambeng, Grobogan, Wonosegoro, Tuntang, Ambarawa, Salatiga, Boyolali, dan lain-2.

Indahnya, ada kesamaan, dengan ketika ku tanah kelahiran, yaitu Mesjid-mesjid tanpa pagar dan pintu yang terbuka. Sehingga, walau saya Kristen (di antara teman-teman Muslim), bisa menginap di/pada teras atau dalam Mesjid. Semuanya bisa, tanpa ada ada yang curiga, tak ada yang menatap penuh curiga dan permusuhan. Sungguh pengalaman yang menyenangkan.
===========

Agaknya, pemandangan dan pengalaman yang menyenangkan seperti itu, sudah langka atau bahkan sudah hilang. Kini, sudah semakin sulit menemukan Mesjid (dan juga Gereja) tanpa pagar dan pintu-pintu yang selalu terbuka. Kini, Mesjid dan Gereja yang megah, malah dilengkapi satpam yang galak dan cctv. Itulah realita, tempat ibadah kita, di masa kini; mungkin, karena alasan keamanan dan lain sebagainya.

Kini, saat ini, di Nusantara, sudah semakin langka Mesjid dan Gereja tanpa pagar dan pintu-pintu terbuka tersebut. Kelangkaan tersebut, karena (bisa saja merupakan akibat) karena adanya kasus-kasus pencurian properti gereja.

Bisa jadi, pada masa kini, Gereja dan Mesjid, masih menjadi pusat kegiatan masyarakat, akan tetapi, sudah tak semudah masa lalu, ketika siapa pun bisa keluar-masuk Gereja dan Mesjid, tanpa harus melapor ke Satpam, dan tanpa takut dicurigai sebagai orang asing yang mau membuat kekacauan.

Gereja dan Mesjid yang telah berpagar dan dengan pintu-pintu tertutup, seperti pemandangan kekinian, bukan karena Mesjid dan Gereja semakin hedonis – mercu suar – megah – serta menjauh dari umat serta rakyat; karena tak sedikit Mesjid dan Gereja yang megah di kelilinggi rumah-rumah  umat yang kumuh.

Mesjid dan Gereja, jika mungkin bisa  kembali ke  masa lalu; kembali pada masa tanpa pagar dan pintu-pintu tertutup.  Hal tersebut, mempunyai nilai sosial serta hubungan antar manusia yang santa tinggi; dan tak mungkin terbeli oleh sejumlah uang.

Mesjid dan Gereja tanpa pagar dan pintu-pintu tertutup, juga bisa menunjukan adanya kebersamaan, saling menerima, saling membantu, saling menolong, bahkan tanpa curiga, dan sekaligus memperlihatkan damai dan kedamaian serta toleransi antar umat beragama.

Mesjid dan Gereja tanpa pagar dan pintu-pintu tertutup, juga bisa menunjukan bahwa mereka (umat yang terhisab di dalamnya), membuka diri untuk siapa saja yang mau datang; datang untuk bertanya, meminta nasehat, beribadah, atau bahkan meminta solusi spiritual karena permasalahan dan konflik batinnya; dan tentu saja, masih ada banyak aspek lain, jika Mesjid dan Gereja, kembali tanpa pagar dan pintu-pintu tertutup.

JAKARTANEWS.CO – OPA JAPPY

170,328 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa