UPDATE: Misteri Kematian Dolfina Abuk di Malaysia

942229_1687911844802621_4335913071806421362_n

UPDATE dari Rudy Soik

Kasus DOLFINA ABUK korban perdagangan orang, mati mengganaskan di Malaysia, tubuh penuh jaitan, dikubur dengan kondisi organ tubuh tidak lengkap, serta di duga kuat organ tubuh Dolfina Abuk di perdagangkan.

Pada bulan November 2013, DOLFINA ABUK direkrut oleh JHON PANDIE dibantu oleh Goris Usboko kemudian korban di antar ke PT. BIDAR PUTRA SUKSES kemudian dari pihak PT. BIDAR PUTRA SUKSE melakukan medical cek up dan menyatakan DOLFINA tidak lolos sehingga di arahkan ke PT. KHALIFA FIRDAUS AULIA. Mengapa hal ini dilakuka (awal niat jahat terhadap korban)?

Agar ketika bermasalah PT. Bidar dan PT khalifa bisa cuci tangan karena dasar medical cek up DOLFINA ABUK yang seolah-olah mereka tidak mengirim Korban karena tidak memenuhi syarat kesehatan; tetapi kenyataannya korban dikirim ke Malaysia oleh PT. Khalifa FA, tercatat di BNP2TKI.

Tanggal 13 Mei 2016 JHON PANDIE di tangkap oleh penyidik polres TTU, kasus ini yg akan dikorbankan adalah JHON PANDIE mengapa direktur PT. KHALIFA FIRDAUS AULIA belum ditetapkan sebagai tersangka? Krn mereka mengelabui bahwa korban di kirim perorangan oleh JHON PANDIE demngan dasar medical cek up yg di proses oleh PT. Bidar seolah-olah mereka secara pasti tidak mengirim DOLFINA ABUK krn kondisi korban tidak sehat.

Ttimbul pertanyaan mengapa pada tanggal 9 April 2016 Sefri Sinlaloe alias Adi mengantar jenash Dolfina Abuk; dan mengapa dalam keterangan kematian korban nomor 3808/Sk-JNH/D4/2016 memunculkan nama BOY MOY sebagai keluarga korban yang mengijinkan Jenasah Dolfina di otopsi?? Sesunggunya siapa Adi Sinlaloe dan Boy Moy?

Adi sinlaloe adalah pengendali PT.KHALIFA FIRDAUS AULIA dan PT .BIDAR PUTRA SUKSES sedangkan BOY MOY adalah perekrutnya PT.BIDAR PUTRA SUKSES dan PT.MALINDO MITRA PERKASA hal lain tdk saya jelaskab secara terperinci.

Untuk mengungkap siapa otakintelektualnya kasus DOLFINA ABUK

  1. Polisi harus memeriksa Disnaker Kab.Kupang (Ibu yul kabid) krn ada rekompaspor yg di keluarkan nomor 562/635/TKI/2013/Disnaker kab.Kupang rekompaspor bisa di keluarkan apabila calon tki di sponsori oleh perusahaan,jikalau saat itu disnaker mengeluarkan hanya dasar hubungan baik dgn TSK JHON PANDIE maka, kabid, kadisnya harus di tersangkakan dgn di terapkan pasal 8 uu 21 tahun 2007 ttg tindak pidana perdagangan orang.
  2. Polisi harus,memeriksa Adi sinlaloe apa kepentingannya mengantar jenasa Dolfina dan membuat pernyataan bahwa ada uang asuransi Dolfina yang di serahkan kpd keluarga perihal santuna duka RP.30 Juta penyidik harus jeli bertanya uang 30 juta tersebut adalah uang dari asuransi mana? Dan apakah Dolfina di asuransi ataukah tidak? Faktanya Dolfina hanya di asuransi pra penempatan saat status dolfina sebagai CTKI biaya asuransi RP.50 ribu rupiah jikalau seseorang di jadikan TKI maka ada 3 macam asuransi yg harus di lengkapi : 1. asuransi prapenempatan, 2 asuransi penempatan, 3. asuransi purna penempatan. Apakah Dolfina sudah di lengkapi 3 jenis asuransi ini, sehingga Adi Sinlaloe menyatakan dana 30 juta adalah santunan kematian?? Maka dari itu polisi juga harus, memeriksa konsersium Astindo yang mana Dolfina terdata namanya sebagai nasaba yg diasuransikan saat masih berstatus CTKI. 3.Polisi harus menyita rekening Adi Sinlaloe agar bisa mengetahui dari mana sumber dana yang di serahkan kpd keluarga DOLFINA; apakah dari konsersium Astindo ataukah dari LIM KIM SENG? Siapa itu LIM KIM SENG, adalah orang yg membuat laporan polisi/ report polis nomor Klang/012022/16/7 April 2016, 3 hari sebelum kematian DOLFINA  saat itu korban sempat menelpon keluarga memberitahukan kondisinya yg sehat dan akan berakhir masa kontrak kerjannya :

Kejanggalan::

Tanggal, 7 april 2016 Li kim seng melaporkan ke Polisi Diraja Malaysia bahwa Dolfina meninggal di dalam rumahnnya.

Tanggal, 8 April 2016 Dolfina di otipsi

Tanggal, 9 April 2016 dolfina di kirim dari Malaysia ke Indonesia

Namun sesunggunya Dolfina meninggal pada tanggal 06 april 2016 berdasarkan keterangan Hospital Tengku ampuan Rahman nomor 2388421. Artinya DOLFINA terlebih dahulu di Otopsi sebelum adanya laporan polisi. Malaysia punya hak Nasional untuk melakukan otopsi namun syaratnya harus ada Laporan polisi serta persetujuan keluarga Dolfina.

Siapa yang menjamin keaslian Organ tubuh dolfina? Dan apa pentingnya organ dalam mulut Dolfina diambil?

Jikalau ragu kami tim relawan kemanusia dapat memaparkan secara terang berderang ..yang pasti DOLFINA ABUK dikirim secara ilegal dan Korban eksploitasi.

Klarifikasih Berita pada media victory new tanggal 10-05-2016

Terkait pernyataan kabid humas yg mengatakan dalam pengungkapan pelaku lain selain Jhon Pandie dalam kasus alm Dolfina Abuk “ADA KENDALA” Maka dengan ini kami mengingatkan kabidhumas terkait fakta.

  1. Berdasarkan surat SP2HP nomor B/835/V/2016 Res TTU ,tanggal 10 Mei 2016 pada poin Ke 3 : pernyataan dari penyidik bahwa Hingga saat ini BELUM ADA HAMBATAN, yang kami temui dalam proses penyidikan dan selanjutnya melakukan pengembangan penyidikan untuk menangkap PARA tersangaka. Artinya dalam SP 2HP ini jelas menerangkan tidak ada hambatan mengapa kabid humas mengatakan ada hambatan? dan tersangkanya lebih dari satu orang krn penjelasan poin 3. penyidik mengatakan bahwa akan menangkap PARA tersangka, artinya bukan saja Jhon Pandi pelakunnya. Pernyataan Poin 4, penyidik mengatakan akan memberikan hasil penyidikan kpd keluarga paling lambat tanggal 18 Mei 2016 namun hingga hari ini keluarga tidak pernah di beritakan terkait perkembangan penyidikan .fakta ini Jelas bahwa adanya ketidak beresan selanjutnya. Karena kabidhumas memintah peran serta masyarakat untuk saling memberikan infomasi maka dengan ini kami memberikan fakta/informasi
  2. Berdasarkan data BNP2TKI Dolfina terdata sebagai TKI yg di proses oleh PT.Khalifa FA; Direkturnya adalah Oktovianus Sinlaloe. Sehingga terbitnya nomor ID 10443213 dari pihak BNP2TKI tidak akan mungkin mengeluarkan ID jikalau Jhon Pandie yang memproses sendiri dan mengirim DOLFINA secara perorangan karena acuan BNP2TKI mengacu pada pasal 10 UU 39 Tahun 2004 ttg penempatan TKI di luar negeri dan juga itu tidak akan mungkin dari Pihak Nakertrans Kabupaten Kupang mengeluarkan Rekompaspor jikalau saat itu Jhon Pandi mengirim perorangan krn apabila di keluarkan Rekompaspor tanpa di dampingi pihak Perusahaan maka Kadis Nakertrans kab.Kupang dan semua yang terlibat mengeluarkan rekom tersebut harus dijadikan Tersangka karena perbuatan itu melanggara UU .sebagaimana dalam Pasal 8 UU 21 tahun 2001 ttg Perdagangan Orang
  3. Fakta berikutnya Agensi dari Dolfina Abuk yang ada di malaysia bukanlah LI KIM SENG ,Agensi dri Dolfina abuk adalah AGENSI PUNCAK MAS SDN,BHD dan juga itu Dolfina Abuk hanya diikutkan dalam asuransi pra penempatan pada konsersium Asindo sehingga pertanyaannnya terkait pernyataaan Adi Sinlaloe pada tanggal 09 April 2016 dengan perihal dana santunan kematian 30 juta selanjutnya di berikan juga gaji Dolfina Abuk, saat itu Adi Sinlaloe memperoleh semua dana baik dana santunan/gaji untuk di serahkan kpd keluarga dari siapa Apakah Li Kim Seng, konsorsium, Asindo ataukah Agensi Puncak Mas SDN,BDH! Karena ada rekaman Dolfina Abuk yang mengatakan bahwa semua gajinya ada pada tangan Agensi yaitu agensi Puncak Mas SDN, SBD.

Sudahkah rekening Adi Sinlaloe di sita krn saat penarikan dana terjadi pada malam hari di kab.TTU serta membuktikan dari mana adi meperoleh semua dana.

Info lain hal yang tidak lasim di perlihatkan dimana ada pertemuan antara Oknum aparat dan Adi sinlaloe di Hotel Livero Kefamenanu

Masih banyak data yang dapat kami berikan namun kami hanya ingin melihat kejujuran dalam proses pengungkapan kasus Dolfina Abuk dan permintaan keluarga agar jasad Dolfina Abuk di otopsi untuk membuktikan kalau organ tubuh Dolfina Abuk tidak lengkap. Masih kurang lebih ada 40 Jiwa dari Desa Kota Foun Kec. Biboki Anleu Kab. TTU yang di rekrut Jhon Pandie hingga kini keluarga tidak pernah mendapatkan informasih keberadaan anak-anak mereka; untuk di ketahui Desa Kotafoun masih sangat terisolir infrastruktur sangat parah dan sangat jauh standar hidup masyarakat sejahtra

SALAM HORMAT RELAWAN KEMANUSIAN -NTT

====

Kematian Adolfina Abuk anak dari Mikhael Berek Tae dan Yulita Bete asal Desa Kotafoun,Kecamatan Biboko Anleu Kab.Timor Tengah Utara-NTT. Dolfina Abuk mati secara tidak wajar. Keluarga dari Dolfina Abuk (30), tidak terima karena kondisi jenazah wanita asal Desa Kotafoun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini tidak wajar.

Dolfina pergi ke Malaysia dua tahun lalu untuk bekerja. Dia direkrut calo dan menggunakan KTP dan paspor beralamat di Atambua, Belu. Padahal Dolfina merupakan warga Desa Foun, Kecamatan Biboki, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dolfina Abuk meninggal dunia di Malaysia pada 7 April lalu. Padahal sehari sebelumnya ia sempat menghubungi keluarganya dan menyatakan ingin segera pulang.

Saat ini, Pemkab Timor Tengah Utara telah membentuk tim investigasi yang terdiri dari berbagai unsur termasuk orangtua korban untuk membongkar misteri tewasnya Dolfina Abuk. Dengan terungkapnya kasus ini diharapkan dapat mencegah berulangnya peristiwa serupa.

Direktur Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum (PLBH) Timor, Magnus Kobesi, yang juga adalah koordinator keluarga Dolfina, mengatakan,

“Keluarga besar Dolfina ingin mengusut tuntas kasusnya itu. Keluarga mendapat kabar dari seseorang yang diduga sebagai agen di Kupang, yang bernama Safroni Sinlaloe alias Adi, kalau Dolfina meninggal, Kamis (7/4/2016), dan jasadnya akan diantar ke kampung halamannya di Kotafoun pada Sabtu (9/4/2016). Saat itu, jenazah Dolfina diantar oleh Adi Sinlaloe yang datang bersama enam orang.

Setelah jenazah tiba di rumah duka, keluarga sepakat untuk membuka peti jenazah dan memeriksa jasad Dolfina yang saat itu dalam kondisi mengenakan kaus putih dan kemeja warna merah muda. Ketika jasadnya diperiksa, keluarga pun kaget karena sekujur tubuh penuh jahitan. Lidah Dolfina tidak ada, matanya kempis ke dalam, pelipisnya bergeser ke atas, dan tubuhnya kempis ke dalam seakan tak berisi.

Selain itu, ada jahitan panjang dari bagian leher menurun hingga bagian atas kemaluan. “Ada juga jahitan lingkaran leher bagian depan, bagian belakang kepala, dan lingkaran bagian atas kepala. Semua jahitan ini kelihatan beralas kapas putih dari bagian dalam.

Dari dokumen kerja, kontrak Dolfina berakhir pada tanggal 8 Maart 2016, dan dikembalikan ke agensi sejak tanggal 9 Maret sehingga informasi mengenai kepastian kematian Adolfina ada di pihak agensi.

Penyebab kematian anak Mikhael Berek Tae dan Yulita Bete tersebut, belum diketahui. Namun, dari fakta menurut kondisi jasad, Dolfina terlihat meninggal akibat kekerasan pada bagian kepala. Terhadap hal itu, hari ini, keluarga Dolfina rencananya akan ke Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten TTU, juga akan bertemu Bupati TTU, dan selanjutnya akan melapor ke Kepolisian Resor TTU>

Polda NTT Mengutus Tuntas Kasus Kematian Adolfina ABuk.

Menurut Polda NTT, Penyelidik Direktorat Reserse dan Kriminal Umum sementara memburu perekrut hingga orang atau perusahaan yang mengirim Dolfina Abuk, tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT yang dipulangkan ke kampung halamannya lantaran meninggal dunia. Langkah itu dilakukan untuk mengungkap ada dan tidaknya tindak pidana perdagangan orang atau human trafficking terhadap korban.

Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda NTT, AKBP Yudi Sinlaeloe yang dikonfirmasi mengatakan hal itu terkait penanganan kasus TKI Dolfina yang dipulangkan lantaran meninggal di Malaysia, Jumat ( 22/4/2016) siang. Untuk itu, polisi akan memanggil saksi-saksi guna melacak orang yang paling bertanggungjawab memberangkatkan Dolfina ke luar negeri.

0733418Adolfina-Abuk780x390

OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

NTT Nomor Satu Kasus Perdagangan Orang di Indonesia  

TEMPO.CO, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinobatkan sebagai provinsi dengan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) nomor satu di Indonesia. Padahal sebelumnya daerah ini tidak pernah masuk dalam daftar sepuluh besar daerah asal penyumbang korban TPPO.

Menurut Nurul Qoiriah, National Project Coordinator International for Migration (IOM) Indonesia,

“NTT merupakan provinsi dengan tindak pidana perdagangan orang nomor satu di Indonesia. Melihat kondisi NTT dengan masalah perdagangan orang tertinggi, IOM bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Duta Besar Norwegia untuk Indonesia menyelenggarakan kampanye publik mempromosikan migrasi aman dan anti-perdagangan orang atau Safe Migration and Zero Tolerance for Human Trafficking di Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang.

Berdasarkan laporan dari IOM Indonesia pada 2014, sedikitnya 7.193 orang dengan 82 persen perempuan dan 18 persen laki-laki telah teridentifikasi sebagai korban tindak pidana perdagangan orang. Mereka mendapat bantuan langsung berupa biaya pemulangan, rehabilitasi, penuntutan hukum, dan reintegrasi sosial.

Dari jumlah tersebut, 78 persen terjerat pada situasi perdagangan orang akibat kemiskinan dan tidak dapat berkompetisi pada pasar tenaga kerja dalam negeri. Sebab, pendidikan dan keterampilan mereka tidak memadai.”

https://m.tempo.co/read/news/2015/02/16/058642849/ntt-nomor-satu-kasus-perdagangan-orang-di-indonesia

[powr-comments id=42430445_1465705676390]

3,200 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa