Narco-Terrorism dari Majalengka

teroris

JAKARTA | JNC. Hari ini, di Mabes Polri, Kadiv Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar mengatakan bahwa,  “Terduga teroris asal Majalengka, Jawa Barat, yaitu Rio Priatna Wibowo, Eep Saiful Bahri, Bahrain Agam, dan Hendra berkenalan melalui media sosial Facebook dan bertemu secara langsung pada Juni 2016.  Dari perkenalannya itu mereka berencana membuat laboratorium narkotika untuk memproduksi dan berbisnis sabu yang keuntungannya akan digunakan untuk operasional aksi teror di Indonesia.

Mereka berkenalan secara online Facebook, mereka berkumpul sejak Juni yang lalu. Terkonfirmasi dari pemeriksaan, mereka membuat sabu, cita-citanya sabu itu dijual untuk bisa mendapatkan dana aksi teror. Mereka mengubah niatnya setelah bertemu dengan Bahrun Naim seorang terpidana teroris dalam serangan bom di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Mereka pun di-training cara merakit bom melalui internet dan grup telegram.

Tapi, akhirnya mereka mengubah haluan menjadi bahan peledak, belajarnya dengan online training dengan Bahrun Naim. Mereka belum berhasil buat sabu dan menjual sabu tapi itu rencana awal yang terungkap.

Terduga teroris Majalengka yang tertangkap Tim Densus 88 tergolong orang yang ahli dalam merakit bom. Pasalnya, mereka mampu merakit bom dari bahan kecantikan wanita. Mereka ini termasuk kreatif, kutek dijadikan sebagai salah satu bahan baku perakitan.

Pelaku mendapat bahan kimia lainnya dengan cara membeli secara online dan sisanya diperoleh dari penjual di Kawasan Pramuka, Jakarta Pusat. Sementara hasil rakitannya itu juga diperjual belikan untuk mendapatkan keuntungan. Pembelian melalui online. Jadi bom ini diperdagangkan, selain melakukan aksi sendiri.

Tercatat ada empat orang tersangka jaringan teroris Majalengka yang ditangkap tim Densus 88. Keempatnya yakni Rio Priatna Wibowo, Eep Saiful Bahri, Bahrain Agam dan Hendra yang masih dalam penyelidikan.  Salah satu dari empat orang terduga teroris tersebut lihai dalam merakit bom. Bahkan daya ledak buatannya itu lebih besar dari Bom Bali 1 dan 2.

Dari penangkapan terhadap keempat tersangka tersebut, petugas menyita enam barang bukti berbahan kimia, yakni RDX, HMTD, ANFO, Black Powder dan juga ditemukan sepucuk senapan angin.”

Boy

NARCO-TERRORISM

Narco-Terrorism: The Merger of the War on Drugs and the War on Terror (Global Crime, Vol. 6, No. 3&4, August –November 2004, pp. 305–324). Sampai saat ini, belum ada penjelasan yang lengkap tentang/mengenai Narcoterrorism. Arti paling sederhananya adalah gabungan – penggabungan narkotika dan terorisme dan/atau tindak kriminal dan narkotika serta tindak kriminal dan teror.

Narcoterrorism, tidak sederhana itu (yang belakang juga ditambah dengan kejahatan seksual), sehingga menjadi sexual narco-terrorism;penggabungan kejahatan sexual – narkotika – teror dan terorisme. Narcoterrorism, di Indonesiakan menjadi Narkotika Terorisme, selama belum ada istilah yang tepat untuk itu, maka kita gunakan narcoterrorism (walau untuk sementara) dan selanjutnya kita bisa juga gunakan istilah sexual narco-terrorism.

Dengan demikian, narco-terrorism adalah (bisa dijelaskan) sebagai penggabungan-menggabungkan kejahatan (tindak kriminal) narkotika dan tindakan-tindakan teror dan terorisme. Keduanya saling berkait dan membutuhkan;  para pelaku kriminal (penjahat) narkotika menggunakan jaringan – sel-sel teroris untuk mengedarkan narkotika; dan hasil penjualannya, digunakan untuk membiayai aksi-aksi teror. Bisa jadi, sang penjahat tersebut sebagai pengedar narkotika sekaligus teroris.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irjen (Purn) Ansyaad Mbai, nacroterrorism merupakan tren (kejahatan) yang paling berbahaya. Pelaku kejahatan melakukan aksi-aksi kriminal demi mendukung kegiatan teror yang telah direncanakan, seperti menghalalkan perampokan untuk menyokong terorisme. Dari hasil penyelidikan, penyidik mendapatkan nomor-nomor telepon yang menunjukan bahwa ternyata agen-agen narkotik  mempunyai link dengan tokoh-tokoh teroris kita” (detik.com 18 April 2012)

Tidak sedikit para pelaku narcoterrorism tersebut, bertopeng pada perkawinan (dengan perempuan baik-baik), sehingga isteri (dan keluarga besarnya) mereka sebagai topeng; atau mereka sekaligus menjadi para pelaku penjual manusia (perempuan), dan lain sebagainya; atau bahkan sebagai penculik perempuan dan memperkosanya. Dengan demikian, telah terjadi penggabungan kejahatan narkotika – terorisme – dan kejahatan sexual, sehingga menjadi sexual narcoterrorism

Tingginya penggunaan (konsumer) Narkotika di Nusantara serta relatif mudahnya pergerakan kaum radikal (yang berlanjut pada asksi-aksi terorisme) di RI,  agaknya telah menjadi ladang subur pertumbuhan narcoterrorism dan sexual narco-terrorism. Rakyat awam, kini, dapat menilai  dengan jelas bahwa, setiap hampir hari ada penangkapan teroris dan bandar narktoka, bahkan tak sedikit yang ditembak mati. Namun, para penjahat itu, bagaikan tak habis, selalu ada bandar-agen narkotika dan kader teroris (yang) baru, seakan satu tewas, yang bertumbuh. Semuanya itu, menunjukkan bahwa jaringan-jaringan – sel-sel narcoterrorism telah merasuk jauh ke dalam komunitas masyarakat. Mereka bisa tampil sebagai orang baik-baik dan taat beragama (walau ini hanya topeng), tetapi sekaligus serigala lapar yang bisa menghancurkan dan merusak komunitas dengan aksi-aksi teror dan pengedaran narkotika.

Wakil Presiden (Wapres) Boediono, waktu itu, mengingatkan masyarakat dunia untuk mewaspadai berkembangnya kerja sama antara kartel dan sindikat narkotika dengan kelompok teroris. Menurut Wapres, “Suatu gejala yang lebih memprihatinkan dan kita semua benar-benar perlu mewaspadai adalah berkembangnya kerjasama kartel dan kelompok teroris.” Wakil Presiden memastikan upaya pemberantasan kejahatan terkait narkotika akan terus ditingkatkan karena para produsen, distributor dan penggunanya selalu mencari alternatif baru untuk memproduksi dan mendistribusikan substansi analog narkotika dan zat psikoaktif baru.

Lalu, apakah memang Goris Mere dan Wapres, sudah sangat pikun atau pun salah kaprah serta asal bunyi, sehingga mereka ungkapkan adanya Nacro-Terroism di Nusantara!? Apalagi mereka kaitkan dan gunakan sebagai senjata untuk memerangi anak-anak bangsa!?

Jika ada yang menuduh seperti itu, maka saya kuatir bahwa, sang penuduh tersebut adalah pelakon atau pelakunya yang sebenarnya. Tidak sedikit para pelaku narcoterrorism tersebut, bertopeng pada perkawinan (dengan perempuan baik-baik), sehingga isteri (dan keluarga besarnya) mereka sebagai topeng; atau mereka sekaligus menjadi para pelaku penjual manusia (perempuan), dan lain sebagainya; atau bahkan sebagai penculik perempuan dan memperkosanya.

Dengan demikian, telah terjadi penggabungan kejahatan narkotika – terorisme – dan kejahatan sexual, sehingga menjadi sexual narcoterrorism. Tingginya penggunaan (konsumer) Narkotika di Nusantara serta relatif mudahnya pergerakan kaum radikal (yang berlanjut pada asksi-aksi terorisme) di RI,  agaknya telah menjadi ladang subur pertumbuhan narcoterrorism dansexual narcoterrorism.

Dengan demikian, Negara sudah tepat, Wapres sudah benar, Goris Mere, berkata benar,  negeri ini sudah menjadi ladang kejahatan Narco-Terrorism, oleh sebab itu, perlu perhatian semua orang – semua rakyat – semua jajaran di Negeri ini. Naro-Terrorism bukan sesuatu yang dibuat Negara untuk menindas rakyat, namun rakyat lah yang harus meniadakan Naco-Terrorism. Tulisan terkait Kejahatan Narco-terrorism (dan Seksual) Telah Ada di Indonesia

Jakarta News | Opa Jappy  | 21 April 2012

6,317 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa