Omar Mateen “Hanya” Menjalankan Missi Ilahi karena Merasa Paling Benar

JAKARTA/JNC. Omar Mateen, imigran asal Afghanistan, yang menjadi warga Port St. Lucie, Orlando, USA. Ia lahir di New York, kemudian pindah ke Florida. Entah selesai studi atau tidak, Mateen berkerja secara serabutan.

Delapan tahun lalu, Mateen menikah dengan seorang turunan imigran asal Afghanistan pindah ke Florida; di sini ia bekerja sebagai penjaga dan pendamping di Panti Anak-anak Nakal.

Menurut mantan istrinya, yang tidak ingin disebutkan namanya, awal pernikahan sikap Mateen normal, tapi kemudian ia berubah kasar. Pernikahan mereka hanya bertahan selama beberapa bulan saja. Kemudian, orang tuanya campur tangan ketika mereka melihat Mateen berlaku kasar kepada istrinya. Menurut mantan isteri dan teman-temannya, Mateen tidak religius dan tidak ada tanda-tanda dia menganut Islam radikal.

Dari catatan Imigrasi US Mateen pada tahun 2011 ke Dubai dan 2012 ke Arab Saudi; serta tidak termasuk daftar orang yang harus diwaspadai. Bahkan, setelah FBI menginterograsinya, nama Manten dihapus dari daftar orang dicurigai sebagai teroris.

Tahun 2013, Mateen menyebut bahwa ia mengenal baik Tsarnaev bersaudara, “Pembantai dari Boston;” ucapan tersebut menjadikan dirinya menjadi perhatian FBI.

Tahun 2014, agen khusus FB. Ron Hopper menginterogasi Mateen karena mempunyai hubungan dengan pelaku bom bunuh diri. Menurut Hopper FBI tiga kali menginterograsi Mateen, namun tidak menemukan alasan untuk melakukan investigasi lanjutan.

Setelah itu, Omar Mateen sekan ditelan rimba; tak ada kegiatan yang menjadikan dirinya mendapat perhatian publik.

Kemarin, tiba-tiba, publik dikejutkan dengan aksi pembantaian terhadap sejumlah besar Gay di Orlando; dan penembaknya, menurut FBI, adalah Omar Mateen. 50 orang tewas di tempat, dan lebih dari 50 orang lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan. Sebelum menembak, Mateen menelpon 911 untuk “menyampaikan pesan” kepada rakyat USA bahwa dirinya bersumpah setia kepada ISIS. Penerima telpon 911 menyatakan, beberapas saat kemudian, mendengar letusan senjata dan teriakan histeris.

Menurut FBI, Omar Mateen (29), yang tewas dalam baku tembak dengan polisi; dan membenarkan bahwa Mateen menghubungi nomor 911 dan menyatakan kesetiaannya terhadap ISIS sebelum melakukan eksekusi berdarah.

Beberapa jam kemudian, Kantor Berita ISIS, Amaq menyatakan bahwa “Penembakan itu dilakukan oleh seorang pejuang ISIS.” ISIS juga pernah mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan sebelumnya yang sebenarnya tidak berasal dari struktur komando pemimpin atau wilayah mereka.

Tak ada WNI yang Menjadi Korban

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan tidak ada Warga Negara Indonesia yang menjadi korban dalam penembakan massal di klub Pulse di Orlando, Florida, Amerika Serikat.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan hingga saat ini tidak ada laporan WNI yang menjadi korban dari peristiwa tersebut. KJRI Houston saat ini sedang mencari informasi lebih jauh, namun sejauh ini tidak terdapat laporan adanya WNI yang menjadi korban.

Reaksi Muslim USA

Kepala kelompok advokasi muslim AS, mengecam keras aksi pembantaian di klub malam Florida, hari Minggu (12/6). Nihad Awad, direktur eksekutif Dewan Hubungan Islam (Council on American Islamic Relations/CAIR), menyerukan persatuan dan mendesak politikus untuk tidak “mengeksploitasi” tragedi pembantaian di Orlando. Menurut Nihad Awad,

“Itu adalah kejahatan kebencian. Kami mengecam keras aksi ini. Aksi itu melanggar prinsip-prinsip kami sebagai warga AS dan sebagai muslim. Saya ingin menegaskan bahwa kami tidak menoleransi ekstremisme dalam bentuk apa pun. Agaknya, Meteen ingin menyampaikan pesan kepada anggota dan pendukung ISIS.”

Kepada Mateeen,Nihad Awad menyatakan bahwa, ” “Anda tidak berbicara untuk kami. Anda tidak mewakili kami. Anda menyimpang, Anda adalah penjahat.”

Simpati Dunia

Aksi simpatik dan juga pembacaan doa bagi para korban yang tewas dalam aksi serangan yang terjadi di Orlando, Florida, digelar di ibu kota Amerika Serikat (AS), Washington pada hari Minggu 12 Juni 2016.

Para simpatisan yang membawa poster dan juga lilin menggelar doa bersama bagi korban tewas dalam aksi penembakan massal di klub malam khusus gay. Serangan tersebut merupakan salah satu serangan terburuk di AS setelah tragedi 11 September 2001.

Presiden AS Barack Obama setelah mendengar kejadian tersebut itu langsung memberikan pernyataan terkait insiden penembakan massal yang dilakukan oleh warga muslim AS keturunan Afganistan.

Pasca insiden itu, sejumlah negara di seluruh dunia mengecam aksi teror tersebut, termasuk pemerintah Indonesia.

Minggu, 12 Juni 2016, Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus mengecam aksi pembantaian yang terjadi di klub malam khusus gay tersebut. Penyerangan tersebut “membuat Paus Fransiskus dan kami semua merasa sangat terkejut dan mengecam keras tindakan bodoh yang memicu kematian dan kebencian yang sangat keji.

SATU HARAPAN – JAKARTANEWS.CO

940 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa