Opa Jappy, “Tuhan Tak Pernah Membakar Mesjid Ahmadiyah, Mereka Melebihi Tuhan”

KENDAL, JNC. Minggu 22 Mei, pagi hari, Harpan, warga Ahmadyah yang juga anggota Komunitas WA Indonesia Hari Ini, menyampaikan pesan bahwa Masjid Ahmadiyah Gemuh, Kendal, Jawa Tengah dihancurkan masa pada tengah malam 22 Mei, saat hujan, gedung, properti, bahkan Alquran turut diobrak-abrik dan dibiarkan berserakan. Empat tahun lalu, masjid tersebut dalam kondisi terhenti pembangunannya.  Beberapa bulan lalu, pembangunan dilanjutkan lagi.

Harpan langsung bergerak ke lokasi; dan saya meminta agar tetap update informasi. Tidak ada laporan korban jiwa dalam perusakan tersebut. Sejauh ini, belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas perusakan tersebut juga motifnya. Namun, berdasarkan saksi sejak masjid dibangun lagi, terjadi intimidasi pada para tukang yang bertujuan menghalangi pembangunan. Bahkan, sebagian tukang mundur dari pekerjaannya karena tidak tahan intimidasi.

Empat Tahun Lalu

Penganut Ahmadiyah di Gemuh Kendal, Jawa Tengah masih mengalami tekanan dari lingkungan masyarakatnya ataupun aparat pemerintahan. Syaiful Uyun, mubalig Ahmadiyah Jawa Tengah, di Semarang, mengatakan, “Pertengahan Juni 2012 lalu, penganut Ahmadiyah itu adalah diminta menandatangani surat pernyataan agar penganut Ahmadiyah tak melakukan kegiatan-kegiatan Ahmadiyah; yang meminta penandatanganan adalah pejabat kecamatan beserta sekelompok warga.’

Menanggapi tindakan anarkhis tersebut, publik menanggapi dengan keras. Misanyal di Grup INDONESIA HARI INI DALAM KATA-KATA

Dri Soesanto Maaf ! Ini mesjid aliran apa ? Mohon kita bijak menyikapinya ya…?!
Suwadi SripeniOm Dri Soesanto….. info dr lapangan ini masjid ahmadiyah, om.
Saepudin Budi WiharjaApapun alirannya,  Apapun agama dan keyakinannya. Tak ada satu pengrusakan apapun terhadap milik orang lain yg bisa mengatas namakan pembenaran apalagi kebijakan
Suwadi SripeniBetul kang Saepudin Budi Wiharja…..  Pengerusakan hak milik orang lain adalah pelangaran hukum.
Wahyu JatmikoKok masih ada yg seperti ini….memprihatinkan. 
Suwadi SripeniIni lah fakta yg terjadi di negri kita mas Wahyu Jatmiko
Saepudin Budi WiharjaKe adilan hanya untuk para pemangku kepentingan dan pemodal 
Dan itu fakta atas keadilan selama ini di negri ini 😢 
Suwadi SripeniYa Kang Saepudin Budi Wiharja…. dan mirisnya…. polisi cuma mengutuk tindakan pengerusakan ini. Tadi di WA IHI…. Bang Harpan….. kirim banyak links tanggapan ttg kejadihan ini dan beliau sempat ke TKP.
Saepudin Budi WiharjaYup bu saat ini sy lagi jarang ol jadi saat masuk banyak ketinggalan info nya  Mhn maklum aku juga ya opa
Suwadi SripeniNdak masalah kang….. kita masih bisa saling kabar2i. Oh ya… 2 kali saya coba tlp akang ndak bisa.
Opa JappyTuhan pun tak membakar Tempat Ibadah; tapi mereka sudah melebihi Tuhan 
Jos NapuAntar sesama saja tidak pernah damai…. 
Putra Yahya Kita beragam kepercayaan seharusnya kita bijak menyikapi hal semacam itu

JAKARTA NEWS

====

Massif Setelah Orde Baru

Dr. Munawar Ahmad dalam Candy’s Bowl: Politik Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, Pada zaman Belanda, pengawasan dilakukan oleh pemerintah terhadap kehidupan beragama. Dulu, yang mengawasinya adalah Het Kantoor voor inlandsche zaken. Agama menjadi entitas yang efektif dalam memunculkan timbulnya kekerasan. Konflik berbasis agama, merupakan konflik yang dipacu dan dipicu oleh perselisihan dengan entitas agama terlibat langsung.

Konflik yang terjadi terhadap Ahmadiyah, berbeda setiap fasenya. Pada tahun 1925-1945 pola konflik bersifat singular. Konflik bersifat atomis sebagai dampak perselisihan antara individu. Di sana belum ada gerakan massif dan kolektif. Kebencian terhadap Ahmadiyah lebih karena alasan ajaran Ahmadiyah. Dan kebencian itu yang kemudian melahirkan kekerasan.

Pola itu berbeda dengan yang terjadi pasca-tahun 1970. Sejak tahun 1970, konflik sudah menggunakan kekuatan kolektif. Keterlibatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam peta kekerasan menjadi indikator lahirnya pola kekerasan baru yakni collective violence.

Yang terakhir, pola baru yang disebut sebagai structural violence. Di sini kekerasan sudah terstruktur dan terjadi sejak dikeluarkannya SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah tahun 2008.

Dalam situasi itu, perlu politik kerukunan sebagai candy’s bowl atau wadah permen. Ini merupakan imajinasi dari bentuk sosial yang berupaya menampung segala warna, rasa, tampilan dari sebuah keunikan masyarakat. Meski warna, rasa dan tampilan masing-masing elemen itu mencolok, akan tetapi tiap elemen itu tidak saling mengubah warna, rasa maupun tampilan. Akan tetapi mereka di dalam wadah itu saling menguatkan satu dengan yang lain sebagai masyarakat yang heterogen.

13256418_1357266550966643_5447671346875588521_n

13254185_1357266520966646_8434517852326416513_n

13260072_1357266497633315_6973405768394191454_n

671 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa