Opini Ngawur, Laris-manis

Baca

Villa Kota Bunga Ade, Cipanas–Saya, yang sementara baca atau membaca, sangat paham dengan apa yang dimaksud dengan opini ataupun pendapat.

Ya. Opini merupakan rangkaian kata-kalimat yang dirangkum, dan mengandung hasil olah pikir (pribadi ataupun kelompok orang). Sehingga, dikenal opini pribadi, kelompok, opini ilmiah, opini hukum, dan dan lain sebagainya.

Di samping itu, ada juga yang kusebut sebagai opini ngawur – asal jadi; opini ngawur bisa lahir dari siapa saja, pada/dalam sikon santai, marah, serta seenaknya.

Ko’ bisa!? ya bisa, dan semua orang bisa lakukan itu.

Opini ngawur, pada umumnya muncul atau lahir dari debat kusir, asal hantam, asal sampaikan, dan kadangn menyakitkansi pendengar, tapi karena disampaikan dalam sikon canda, humor, bahan lucu-lucuan, maka yang dengar pun akan menjawab dengan opini ngawur yang sama.

Mengapa sering muncul atau ada opini ngawur – opini asal-asalan – opini lucu-lucuan;!? bisa terjadi karena manusia adalah homo ludens, manusia yang bisa main-main atau lucu-lucuan. Karena itu, ada saja yang bisa dijadikan lucu-lucuan dan ngawur-ngawuran; yang penting ramai serta ikut ramai; yang ikut atau publish sesuatu.

Berangkat dari model dan pemahaman itulah, seringkali kugunakan kacamata opini ngawur untuk membaca tulisan di media sosial, blog, situs pribadi, termasuk Kompasiana ataupun situs media main stream dan lain sebagainya.

Dengan itu, ketika menemukan banyak tulisan (bahkan ada yang laris manis dibaca dn dikomentari), dan kemudian menelusuri hal-hal yang ada pada tulisan dengan refrensi dari media/tempat lain, ternyata tak sedikit yang bertolak belakang, bahkan tak sesuai sikon dan konteks (yang dikutip/kutipan).

Walau ada juga data yang valid, namun diputar/diarangkai begitu rupa, dihubung-hubungkan, dicocok-cocokkan, untuk mengguatkan pendapat.

Nah, …. namanya juga opini ngawur, maka semua cara ngawur pun dilakukan, demi laris manis terbaca.

Misalnya, ini cuma contoh: tulisan tentang pks, lhi, af, dan seputar kasus sapi; jika dibaca dengan teliti, maka yang muncul adalah tertawa-tertawaan, lucu, keluar rasa humor; kecuali orang yang urat syaraf humornya sudah putus dan mati.

Bayangkan gara-gara kasus sapi, bisa setiap hari muncul tulisan (dan juga komentarnya); yang menurut saya, sangat banyak termasuk opini ngawur; asal nulis, asal jadi, ikut ramai, dan seterusnya.

Dan tambah ngawur dan berngawur-berngawurnya lagi, muncul sekian banyak yang menanggapi tulisan/opini ngawur itu; tanggapan ngawur terhadap opini ngawur, maka ramailah lapak artikel tersebut.

Ada yang salah!? Tak ada yang salah; namanya juga ikut ramai dan meramaikan.

Baca

Bagaimana dengan saya (yang sedang membaca) dan dia, orang lain yang suka menulis!? Kita, mungkin ikutan terjebak dalam opini ngawur serta ikutan berkomentar ngawur.

Diriku pun juga pernah membuat opini ngawur dan publish di media sosial; namun karena tujuannya hanya ikut ramai, maka tulisan itupun kemudian didraftkan.

Selama belum ada larangan ngawurmaka berngawurlah anda atau sekali-kali lakukan kengawuran; namun yang penting adalah jangan muncul benci, kebencian, dendam, amarah, bahkan fitnah.

So jangan lupa menulis …

Opa Jappy
Jakarta News | 13 002 55
Sumber
Opini Ngawur, Laris-manis
Oleh Opa Jappy

Erri Subakti
10 Mei 2013

Manusiawi, manusia kadang ngawur, bahkan membutuhkan ngawur sekali-kali sebagai katarsis pelepas ketegangan.

Yang penting ngawurnya masih dalam koridor “kewarasan..” šŸ™‚ dan yang lebih penting lagi masih sadar bahwa ada ‘ngawur’nya dari pikiran kita.

Yang repot kalo ada yang ngawur tapi masih gak sadar dia telah melewati batas koridor dan mempetahankan kengawurannya.

Soal opini memang dari berbagai sudut pandang sah-sah saja kok. Itu bisa disebut juga sebagai ‘angle’. Seperti kalau saya melihat gajah dari saya berdiri, dengan orang lain melihat gajah dari tempatnya berdiri, tentu akan berbeda deskripsi atau gambaran mengenai gajah tersebut, sesuai sudut pandangnya.

Nah. Tapi kini ada juga opini yang disampaikan bukan karena ‘angle’-nya, tapi opini dengan “framing”.

Opini dengan ‘framing’ ini membingkai fakta menurut seleranya dan tidak melihat secara keseluruhan. Untuk tujuan atau maksud tertentu agar publik menyoroti berita yang ‘dibingkai’nya sedemikian rupa, lalu publik bisa tanpa sadar menafikkan fakta-fakta lain yang sebenarnya ada korelasinya.

Yah kira-kira gitu deh.

Salam

Baca

Baca

Baca

Baca

Baca

55,302 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan