Oposisi Menggunakan Metode PKI

Villa Kota Bunga Ade–Sejak dulu, metode orang-orang Komunis dan antek-anteknya tak berubah; hanya media sebaranya yang beragam sesuai perkembangan IT. Umumnya metode senbaran benci, kebencian, fitmah, nista, dan penistaan komunis adalah

  1. Menebarkan persepsi buruk terhadap pemerintah atau pun Negara. Menghindari perdebatan cara terpelajar dan bermartabat. Tanpa data dan fakta, dan penjelasan rinci, membuat dan menebarkan slogan-slogan negatif sert kebencian; diharapkan rakyat juga berseru sesuai slogan tersebut. Di sini, ketika ada yang bertanya tentang makna dari slogan tersebut, mereka tak mampu jelaskan.
  2. Menyerang hal-hal atau kehidupa pribadi lawan politik, termasuk menyangkut suku, etnis, agama, gaya hidup, dan lain sebagainya. Misalnya, Aidit Pimpinan PKI menyebut Soekarno sebagai presiden tukang kawin; PKI membuat kebijakan melarang elite partainya kawin lagi.
  3. Menciptakan isue yang bisa memancing emosi rakyat agar membenci siapa dan apa saja, utamanya lawan politik. Contoh, PKI mengangkat issue bahwa tokoh agama tidak peduli kepada rakyat kecil dan membiarkan mereka kelaparan, dan tukang kawin
    Targetnya adalah rakyat jelata yang secara nalar tak punya kemampuan berpikir luas , agar membenci tokoh agama dan dianggap sebagai antek feodal serta musuh kaum proletar.
  4. Melalui unsur-unsur budaya atau pun kegiatan seni yang populer di akar rumput; di dalamnya ada pesaan propaganda ujar kebencian dan permusuhan.
  5. Penyusupan ke dalam lembaga formal dan informal; termasuk merambah ke lingkungan pemerintah, keagamaan, komunitas etnis, serta pagayuban-paguyuban profesi non formal. Bergerak seperti hantu yang tak terlacak secara formal maupun informal ada hubungannya dengan Partai.
  6. Melakukan propaganda sehingga kepalsuan sulit di bedakan dengan kebenaran. Kepalsuan (HOAX) menjadi alat propaganda yang ditebar terus menerus sehingga orang menjadi percaya itu adalah kebenaran itu sendiri. Ketika ada yang menyampaikan kebenaran maka justru orang itu dianggapnya palsu. Kepalsuan digunakan untuk membodohi rakyat, fitnah dan pembunuhan karakter lawan. Dengan kepalsuan isu utama dapat di alihkan dengan mudah. Orang digiring untuk membicarakan hal-hal remeh, sementara hal-hal yang terkait dengan kehidupan bersama diabaikan atau terlupakan.

So …

Siapa Mereka?

Mereka adalah ‘dia, ia, orang itu, mereka;’ mereka adalah sekumpulan orang (dari berbagai kalangan dan latar belakang) yang menyatu(kan) diri menjadi ‘oposisi,’ (legal atau pun ilegal).

Mereka bisa saya sebut: KO = Kaum Oposisi; BSH = Barisan Sakit Hati; ABC = Anti Pancasila Bertopeng Cinta; topeng cinta tanah air, topeng bela ham, topeng cinta negara, topeng cinta suara rakyat, topeng cinta kedaulatan pribumi, topeng copeng hak-hak rakyat kecil. Mereka memeliki ribuan topeng, sehingga bisa berganti kapan saja, sesuai sikon dan kebutuhan.

Nah.

Di samping dengan metode komunis, mereka juga gunakan Sentimen agama dan Topeng Nasional. Agama, karena daya pikat di dalamnya, jadi alat untuk membungkus kepalsuan, hoax, dan kebohongan, serta rencana jahat. Ajaran luhur agama digunakan untuk membenarkan kepentingan sesaat yang dilumuri kerakusan dan kebohongan. Topeng kepentingan nasional atau kepentingan rakyat. Topeng ini sering digunakan untuk menutupi agenda dan kepentingan busuk. Plus menggunakan idiom Asing dan aseng, serta membela hak-hak pribumi.

‘Metode Komunis’ dan aneka ‘Topeng’ itulah yang sering ditampilkan di area-arena publik, seperti pahlawan pembela rakyat. Tampilan seperti itu mengelabui logika rakyat atau publik yang lugu, mayoritas berpendikan rendah, berwawasan sempit, dan minim informasi.

Dengan demikian, yang terjadi adalah rakyat atau publik (yang lugu, mayoritas berpendikan rendah, berwawasan sempit, dan minim informasi) ditipu, dibohongi, diperdaya, diperalat agar menjadi bagian barisan benci dan kebencian. Dan, jika terjadi atau menjadi kumpulan serta kosentrasi massa (Dunia Maya dan Dunia Nyata) menjadi besar, akan mudah diprovokasi untuk melakukan kerusuhan sosial, bahkan lebih dari itu, serta pembrontakan melawan pemerintah yang sah.

Itulah yang terjadi; dan akan terjadi.

Berdasar info (tentu info A 1) dan pengamatan saya, sekarang ini, sebaran Kaum Oposisi masih di Pulau Jawa, itupun tak merata; umumnya karena terpengaruh oleh orasi dan narasi ‘Tokoh-tokoh, orang-orang, oposisi Bertopeng.’ Sebetulnya, mereka inilah yang sementara merusak NKRI dari dalam; mereka adalah para pemberontak sejati.

Jadi, waspadalah.

NKRI harus bersih dari orang-orang yang Jiwa Nasionalisme sakit parah.

Silahkan, jika tersinggung dan tertuding, maka hubungi saya di +62818121642

Opa Jappy | Pengagas dan Pendiri

  • Gerakan Damai Nusantara
  • Relawan Cinta Indonesia
  • Komunitas Indonesia Hari Ini

JAKARTA NEWS | CODE 55 005 15

55,941 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan