Organ Babi Bebas Virus untuk Manusia

Baca

Hingga saat ini, prosedur transplantasi organ masih jauh dari sempurna. Salah satu tantangan terbesarnya adalah jumlah penerima dan pendonor yang berbanding terbalik.

Sebagai upaya untuk mengatasi daftar tunggu transplantasi organ yang kian panjang, para peneliti pun mencoba berbagai pendekatan untuk menciptakan organ pengganti. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan organ di laboratorium dari sel punca (sel induk).

Selain itu, para peneliti juga mencoba mengubah organ babi secara genetis agar lebih mirip dengan manusia sehingga kemungkinannya untuk ditolak oleh sistem kekebalan tubuh dapat diperkecil. Namun, sejauh ini, rekayasa sel organ bukan manusia hanya berhasil menciptakan hati baru dengan sel babi dan bukan sel manusia.

Jeff Ross dari Institut, tepatnya perusahan riset, Bioteknologi,
Miromatrix, New Scientist, Senin, 30 Oktober 2017, menyatakan bahwa, “Miromatrix telah berhasil menciptakan hati yang utuh dengan cara decel atau recel.

Metode decel atau recel menghasilkan hati, dari sel babi, dapat diuji sebagai organ transplantasi pada babi tanpa risiko ditolak oleh sistem kekebalan tubuh babi. Perancah tersebut kemudian digabungkan dengan sel manusia.” [Keseluhan hasil penelitian tersebut, dipresentasikan dalam pertemuan Asosiasi Amerika untuk Studi Penyakit Hati di Washington DC].

Untuk mendapat hasil yang maksimal, para peneliti Miromatrix mendecel seluruh hati dengan memompa bahan pembersih melalui jaringan pembuluh darah organ untuk menghilangkan setiap sel hidup dan hanya meninggalkan protein struktural yang menjaga bentuk organ.

Kemudian, melarutkan sel-sel pada organ babi biasa untuk meninggalkan perancah (bangunan sementara) protein dalam bentuk asli organ.

Perancah hati diresapi kembali dengan sel baru yang dipompa melalui jaringan pembuluh darah yang sama.

Tiga jenis sel utama dalam sel hati, yaitu sel hati, dinding pembuluh darah, dan sel saluran empedu, secara otomatis masuk ke bagian kanan dalam perancah.
Namun diperlukan rekayasa jaringan untuk berangkat dari satu lapisan ke seluruh organ.

Melihat keberhasilan tersebut, Jeff Ross dan timnya mencoba teknik decel sel manusia. Hal tersebut dengan cara memompa sel dari tali pusar manusia ke dalam perancah protein hati babi untuk membuat pembuluh darah hati.

Baca

Ketika perancah dengan pembuluh darah (dari sel manusia) ditanamkan ke dalam tubuh babi, pembuluh darah terbukti mampu bertahan hidup dan mengalirkan darah ke seluruh perancah, sebelum akhirnya ditolak oleh sistem kekebalan tubuh babi.

Oleh sebab itu Jeff Ross melakukan pernyempurnaan metode decel. Yaitu mengerjakan ulang perancah dengan menggunakan sel hati dan empedu manusia; serta menanamkan perancah ke tubuh babi. Dengan harapan, menghasilkan hati yang seluruhnya terbuat dari sel manusia untuk ditransplantasikan pada manusia.

Menanggapi temuan Miromatrix tersebut, Laura Niklason dari Yale University, yang juga menggunakan metode decel untuk membuat pembuluh darah dan paru-paru; menyatakan bahwa, “Tes itu sebenarnya untuk melihat seberapa baik hati buatan bekerja. Dekellularisasi dan repopulasi bukan hal yang sulit, yang paling sulit adalah membuat semua sel dapat bekerja dengan baik.”

Babi Bebas Virus
Berdasarkan ukuran dan metabolisme, organ babi memang pendonor xenotranplantasi terbaik untuk manusia.

Secara genetis, babi dan kera paling sesuai untuk direkayasa agar menghasilkan jaringan yang dikenali organ tubuh manusia. Tetapi, dalam tubuh ada virus yang disebut Porcine Endogenous Retrovirus atau PERV bisa menginfeksi manusia.

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tahun 2015, eGenesis, Institusi Biotek Medis, berbasis di Amerika Serikat, bahwa, “Nenggunakan teknologi pengeditan gen CRISPR-Cas9, berhasil menghapus ke-62 salinan genetik PERV dari sejumlah embrio babi yang dikloning. Walau belum sempurna, 15 ekor babi bertahan hidup dan hingga kini, belum menunjukkan tanda-tanda adanya PERV. Hal tersebut, menjadikan eGenesis terus berupaya menghasilkan babi bebas PERV untuk menghasilkan xenotransplantasi yang aman dan efektif.”

Kompas Com
Jakarta News
02 13 55
Baca

Baca

Baca

Baca

Baca

55,192 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan