Orientasi dan Disorientasi

Orientasi yaitu tujuan [dan bertindak sesuai tujuan tersebut] yang hendak dicapai oleh seseorang, kelompok, serta kumpulan atau organisasi. Jadi, orientasi lebih luas dari sekedar tujuan [dan jugabukan tujuan akhir], karena menyangkut keseluruhan tindakan, sikap, usaha, serta berhubungan erat dengan misi dan visi yang akan [hendak] dicapai.

Sedangkan, disorientasi berarti kehilangan orientasinya atau
sudah tidak mempunyai orientasi. Secara sederhana, disorientasi adalah kehilangan orientasi. Disorientasi merupakan penyimpangan dari misi dan visi semula; penyimpangan yang terus menerus terjadi, dan tidak pernah ataupun sulit untuk diperbaiki, ataupun berusaha agar menjadi normal.

Orientasi dan disorientasi bagaikan dua sisi mata uang yang saling
berkaitan satu sama lain. Perubahan orientasi menjadi disorientasi dan sebaliknya dapat saja berlangsung dengan cepat serta tak terduga ataupun terencana.

Dan ada banyak faktor yang mendorong sehingga terjadi perubahan tersebut. Misalnya, kumpulan atau organisasi [apapun bentuknya] mempunyai dua
orientasi yaitu laba dan nir-laba.

Manusia, dalam hidup dan kehidupannya, mempunyai orientasi yang berhubungan dengan waktu masa lalu, kini, dan akan datang; serta orientasi diri secara horisontal dan vertikal. Kumpulan atau organisasi yang berorientasi keuntungan atau laba, misalnya usaha perdagangan, jasa, dan lain sebagainya.

Sedangkan organisasi yang mempunyai orientasi nir-laba, antara lain lembaga pendidikan, institusi sosial, lembaga sosial masyarakat, organisasi keagamaan, dan lain-lain. Masalah-masalah ekstern dari luar organisasi dan diri manusia yang mengelolanya bisa menghantar atau menjadikan laba menjadi nir-laba ataupun nir-laba menjadi laba.

Orientasi horisontal dan vertikal pada manusia, merupakan tampilan diri, berupa kekuatan, kemauan, sikap, serta kapasitas diri seseorang yang difungsikan untuk berhubungan dengan hal-hal atau pribadi-pribadi di luar dirinya sendiri; serta digunakan untuk menjangkau, memperoleh, memenuhi kebutuhan dan keinginannya; sekaligus sebagai salah satu cara untuk mencapai cita-cita pribadi, sosial maupun keagamaan atau spiritual.

Orientasi vertikal mempunyai kaitan anthropologis dan Ilahi; secara radikal bisa merugikan karena dilakukan secara sempit; artinya hanya tertuju pada manusia atau seseorang, misalnya atasan, bos, dan lain sebagainya; atau hanya tertuju kepada agama ataupun TUHAN. Jadi, jika berorientasi kepada TUHAN maka melupakan manusia, atau sebaliknya.

Orientasi horisontal dan vertikal mempunyai dua sisi, yaitu sempit dan luas. Orientasi horisontal hanya terarah pada manusia, alam, dan lingkungan hidup dan kehidupan kekinian; terbatas pada waktu dan tempat.

Mereka yang mempunyai orientasi horisontal yang sempit, adalah
orang-orang mempunyai sifat dan sikap SARA dan KKN. Bagi mereka,
sesama manusia adalah orang-orang sesuku atau sub-suku, segolongan, seagama, sama status sosialnya, dan sanak famili atau keluarganya. Dengan itu, ia mempunyai perhatian dan kepedulian yang terbatas dan
cenderung picik.

Sedangkan, orientasi horisontal yang luas, adalah orang-orang yang
mempunyai penghargaan dan penilaian tinggi kepada kepada harkat manusia dan kemanusiaannya serta HAM.

Mereka adalah orang-orang yang
menghargai perbedaan dan keragamaan [pluralistik]; serta mempunyai kepekaan yang tinggi kepada pergumulan dan persoalan kemanusiaan, kemudian berupaya [ikut mengambil bagian] untuk merperbaikinya walaupun kekuatan untuknya terbatas. Mereka mampu melihat hal-hal yang terjadi pada orang lain [walau berbeda SARA] sebagai persoalan dirinya, sehingga memberi saran atau bantuan agar terjadi perubahan.

Orientasi vertikal yang berkaitan dengan manusia, adalah orang-orang, karena fungsi dan tugasnya, mempunyai sikap takluk dan kesetiaan mutlak kepada atasan, bos, ataupun pimpinannya. Pada umumnya, mereka adalah para penjilat; bersikap asal bapak-ibu senang; kesetiaannya tergantung pada tempat dan rentang waktu kekuasaan atasannya, serta bisa diukur dengan sejumlah uang; dapat berubah kesetiaannya sesuai besar atau kecilnya kesempatan dan sejumlah keuntungan yang [akan] diperoleh. Mereka berani membela atau membenarkan kesalahan dan ketidakadilan, demi keuntungan ataupun keselamatan atasannya.

Sedangkan, orientasi vertikal ke Ilahi adalah sikap seseorang yang
hanya tertuju kepada TUHAN dan agamanya. Segala sesuatu yang dilakukan pada sikon sosial-kultural-masyarakat sebagai upaya agar mempersembahkan hasilnya kepada TUHAN melalui kegiatan-kegiatan keagamaan. Hal itu merupakan suatu kebaikan, namun sayangnya, tanpa kepedulian kepada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan yang berkembang atau ada di sekitarnya. Sikon seperti itu, bisa melahirkan orang-orang fanatik; bahkan mudah dijadikan sebagai alat-alat kekerasan serta kerusuhan sosial.

Manusia yang mempunyai orientasi masa lalu [kembali berorientasi masa lalu], adalah mereka yang telah purna tugas. Mereka adalah para pensiunan sipil dan militer; pahlawan dan veteran perang; dan pada umumnya telah menjadi opa-oma atau kakek-nenek. Mereka selalu bercerita tentang pengalaman dan kenangan masa lalu [misalnya, ketika revolusi, keberhasilan masa muda]; semuanya itu sekaligus sebagai suatu kebanggaan, yang menurutnya harus ditiru oleh anak cucu.

Pada sikon seperti itu, maka mudah dimengerti jika ada oma-opa yang
[terus menerus] bercerita tentang semua pengalaman masa lalunya;
walaupun anak-cucu atau orang-orang di sekitarnya sudah ratusan kali mendengarnya. Dan ketika, suara atau cerita tersebut tidak ada yang mendengar [karena membosankan], maka akan muncul kekecewaan dan stress, kemudian menganggap bahwa sudah tidak ada yang mau mendengarnya, tak diperhatikan, diremehkan, dan lain-lain.

Manusia yang mempunyai orientasi masa kini, adalah orang-orang yang
yang berada dalam sikon kekinian; mereka sangat nyaman dengan keadaan dirinya; mereka berada di dan dalam rentang waktu masa kini dan lokasi tertentu dengan semua aspek yang bertalian di dalamnya.

Secara negatif, manusia yang hanya berorientasi masa kinai, tak peduli
pada hari depan hidup dan kehidupannya; yang penting sekarang bukan besok. Mereka adalah orang-orang yang pada hari ini berhasil serta untung; namun keuntungan itu tidak tertata atau diatur, sehingga besok, menjadi kekurangan atau tidak mempunyai apa-apa. Pada sikon itu, ia hanya bertahan hidup karena ada makanan-minuman, dan tidur
pada hari ini; tidak memikirkan hari esok; tetapi ketika besok tiba, ia harus mencari lagi dengan berbagai bentuk kegiatan [yang biasanya melanggar hukum, norma dan etika].

Orientasi seperti itu, biasanya ada
pada diri preman, penjahat, serta para kriminalis lainnya. Sehingga
apa yang didapat [saat ini, misalnya karena hasil kejahatan], akan habis dan dihabiskan dalam tempo singkat.

Secara positip, mereka yang berorientasi masa kini, adalah orang-orang yang mampu beradaptasi dengan lingkungan atau sikon hidup dan kehidupan kekinian; ia bisa [bertahan] hidup di manapun ia berada.

Pada sikon itu pun, ia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya. Ia selalu mengikuti dan berusaha menjadi bagian dari perkembangan sosial-kultural-politik. Tampilan dirinya selalu atau cenderung trendy dan mengikuti zaman; selalu menjaga gaya hidup dan kehidupan, walaupun untuk semuanya itu, ia harus mengeluarkan biaya tinggi.

Secara positip, mereka yang berorientasi masa kini, adalah orang-orang yang mampu beradaptasi dengan lingkungan atau sikon hidup dan kehidupan kekinian; ia bisa [bertahan] hidup di manapun ia berada.

Manusia yang mempunyai orientasi depan. Aada dua kategori masa depan, yaitu

Secara positip, mereka yang berorientasi masa kini, adalah orang-orang yang mampu beradaptasi dengan lingkungan atau sikon hidup dan kehidupan kekinian; ia bisa [bertahan] hidup di manapun ia berada.

Pada sikon itu pun, ia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya. Ia selalu mengikuti dan berusaha menjadi bagian dari perkembangan sosial-kultural-politik. Tampilan dirinya selalu atau cenderung trendy dan mengikuti zaman; selalu menjaga gaya hidup dan kehidupan, walaupun untuk semuanya itu, ia ada di masa depan yang masih terbatas pada dimensi, misalnya ruang dan waktu; dan masa depan eskhatologis, suatu sikon setelah hidup dan kehidupan sekarang [yang masih terkurung dan di batasi oleh dimensi].

Masa depan yang masih di batasi dimensi, waktu akan datang, tetapi
masih ada di dunia; hal-hal itu berupa cita-cita, pekerjaan setelah
studi, membangun keluarga, kesuksesan hidup, dan seterusnya.
Mereka adalah pribadi yang selalu ingat TUHAN, apresiatip pada HAM dan lingkungan hidup. Untuk mencapai masa depan cerah dan gilang-gemilang, biasanya seseorang akan melakukan banyak hal yang baik dan benar dalam hidup dan kehidupan kekiniannya.

Sedangkan, masa depan eskhatologis, biasanya sesuai dengan ajaran Agama-agama; misalnya keselamatan dan hidup kekal di Surga. Untuk mencapai masa depan eskhatologis, seseorang harus mempunyai kasih, iman, dan pengharapan; tampilan dan keberadaan diri taat dan setia
kepada TUHAN Allah; sekaligus menunjukkan pelayanan dan kesaksian sebagai umat beragama yang bertanggungjawab kepada TUHAN dan manusia.

Mereka selalu optimis ketika menghadapi segala bentuk pergumulan hidup dan kehidupan, dengan suatu keyakinan bahwa TUHAN Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya.

Manusia yang mempunyai orientasi masa depan adalah orang-orang [pada sikon kekinian] belajar dari pengalaman [masa lalu], kemudian menatadiri untuk menjangkau, meraih, dan memasuki masa depan. Mereka mempunyai perencanaan yang baik, sehingga sekalipun dalam [mempunyai banyak] keterbatasan, tetapi belajar serta berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya secara positip serta optimis.

Mereka adalah orang-orang yang tangannya terlalu ringan untuk membantu sesamanya. Dalam rangka merubah sikon masyarakat, orang-orang ini, melakukan sesuatu yang dampaknya dirasakan oleh generasi sekarang maupun akan datang. Dengan upaya itu, mereka mampu merubah diri sendiri dan masyarakat.

Orientasi dan disorientasi saling terkait dan tak bisa dipisahkan.
Perubahan-perubahan sosial, kultural, politik, ekonomi, adanya
penyakit serta ganguan psikologis tertentu, termasuk tekanan-tekanan serta hambatan yang didapat [terhadap] seseorang di lingkungan pekerjaan, rumah tangga, pergaulan sosial, dan sebagainya dapat menjadikan perubahan orientasi atau bahkan disorientasi.

Disorientasi dapat terjadi pada siapapun, ia tidak mengenal SARA,
gender, umur, dan kelas ataupun tingkat sosial. Namun keadaan,
kesadaran, kekuatan diri masing-masing orang menghadapi gejala
[penyebab] disorientasi berbeda-beda; sehingga ada yang muncul sebagai pemenang, namun tidak sedikit terjerumus dalam disorientasi.

Pada umumnya, disorientasi terjadi atau pada,

  1.  Orang-orang yang kepribadiannya rapuh, lemah, dan tidak dewasa psikologis atau adanya keterlambatan perkembangan psikologis, mudah terkena depresi, frustrasi, dan stres akibat tekanan-tekanan tertentu yang datang dari luar dirinya. Mereka tidak kuat atau tak mampu menghadapi ataupun menemukan jalan keluar dari permasalahan dan problem hidup dan kehidupannya. Sehingga mengalami gangguan jiwa akut, tidak terobati, dan tak mengalami perawatan. Mereka termasuk para penderita berbagai penyakit terminal [misalnya cacad tetap, AIDS, kanker, dan lain-lain], yang tipis harapan hidup serta sembuh; ataupun
    ketidakadaan biaya untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang diderita, kemudian berakhir dengan bunuh diri.
  2. Mereka, bisa saja, adalah orang dewasa yang dulunya [ketika masih anak-anak dalam keluarga] adalah anak-anak manja dan dimanjakan. Misalnya, anak tunggal, bungsu, atau mereka yang mengalami kelebihan perhatian dan perlindungan dari orang tuanya; ataupun anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga; serta mereka yang ditelantarkan oleh orang tuannya.
  3. Anak-anak jalanan dan terlantar, kaum miskin kota dan desa; harapan masa depannya menjadi sirna akibat sikonnya yang tidak memungkinkan ia merubah dirinya kearah lebih baik.
  4. Anak-anak muda yang bertumbuh dalam keluarga yang sangat kaya; semua kebutuhan dan keinginannya mudah terpenuhi; tanpa pendidikan tinggi atau pun bekerja keras, mereka dapat hidup [bahkan bisa meninggalkan warisan untuk anak cucu]. Model ini, memunculkan anak-anak muda yang terjerumus pada gaya hidup hedonis dan penggunaan obat-obat terlarang.
  5. Orang-orang yang tak berpendidikan karena kemiskinan. Akibatnya, mereka tidak mampu bersaing dalam masyarakat; anak-anak terlantar; para yatim-piatu yang ditelantar oleh sanak familinya, dan lain-lain.
  6. Orang-orang yang kalah bersaing ataupun terhambat jenjang karier dan pangkat [di institusi pemerintahan, politik, dan militer] akibat sentimen SARA, perbedaan ideologi, ketidaksamaan aliran politik, dan lain-lain.
  7. Orang-orang yang pemahaman agamanya sempit; mereka tadinya, mungkin mempunyai orientasi untuk sekedar bertahan hidup, namun ketika mendapat masukan-masukan keagamaan yang fanatik akan mudah berubah menjadi disorientasi. Pada sikon itu, ia mudah menjadi seorang yang anti agama, bersifat sentimen SARA, bahkan menjadi teroris dan bagian dari terorisme.
  8. Bisa juga terjadi pada diri para pensiunan alamiah atau pun paksaan atau terpaksa akibat pemutusan kerja.

 

 

Oleh Jappy Pellokila | 19 – 11 – 2008

JAKARTA NEWS | code #90 002 12#

90,236 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa