Panggung Kolosal Tentang Kebenaran Itu Bernama Indonesia

Salah satu drama kehidupan sedang dipertunjukkan kepada dunia. Mulanya drama itu ada dipanggungkan di Jakarta, tapi efek pertunjukannya melebarl ke seluruh daerah di Indonesia. Bahkan setelah itu ia mendunia.

Drama itu sendiri keseluruhan konteksnya mengambil setting Jakarta sebagai tempqat kejadian; dengan latar belakang utama ceritanya adalah politik versus agama, minoritas versus mayoritas, kaum nasionalis versus kaum agamais.

Ceritanya begitu bernas dan hidup, menghentak, mengguncangkan, menyedot perhatian warga – di setiap elemen, komunitas, dan profesi – di pelbagai bidang kehidupan bangsa-negara ini. Sungguh sebuah cerita yang sarat konflik keras antar para politisi dan kental dengan kemunafikan para pemeluk agama, serta melahirkan pertentangan sengit dua kubu antara pro dan kontra. Racikan utama ceritanya menggunakan bumbu-bumbu manjur yang telah familiar di lidah anak-anak bangsa ini, yakni: suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Dengan racikan tersebutlah maka lidah para penghujat dan pesilat lidah menjadi lebih fasih meneriakkan caci-maki dan sumpah serapah untuk mencapai sasarannya.

***
Sosok utama cerita drama ini adalah tentang seorang anak bangsa yang bernama Basuki Tjahaja Purnama, lebih kerap disapa Ahok.

Ya Ahok, dia tak lain, adalah seorang anak bangsa yang didorong, direkayasa, dan dipaksakan untuk menjadi tertuduh, terdakwa, ataupun tersangka sebagai “penista” agama (meskipun hukum negara ini tak mengenal istilah “penista” tersebut) oleh kekuatan-kekuatan intoleran yang kompak bersatu menyuarakan “koor” penuh amarah, kebencian, caci-maki, hujat dan fitnah. Kekuatan-kekuatan itu tanpa malu-malu memaksa menggunakan legitimasi agama dengan kepongahan bin keangkuhan demi satu tujuan belaka: Memenjarakan Ahok!

Ahok seorang anak bangsa sama sepertij kita kita yang warga negara Indonesia; lahir dan besar di tanah pusaka Ibu Pertiwi ini; yang berkalungkan Jamrud Khatulistiwa; dan bermandikan “tjahaja” permata mutu manikam; serta mewarisi kearifan nilai-nilai budaya leluhur yang lemah-lembut dan ramah-tamah.

Ahok seorang anak bangsa, sama seperti kita kita ini! Ahok adalah Tionghoa karena keturunan; Kristen, atau Nasrani, karena iman percayanya kepada Yesus Kristus, TUHAN, atau Isa Almasih; dan Alkitab/Injil adalah kitab suci penuntun hidupnya dan keluarganya.

Ahok sama seperti kita kita ini, seorang anak juga, yang telah berjanji dan bersumpah setia untuk berbuat dan mendedikasikan seluruh jiwa raganya dengan satu tujuan jelas demi KEBENARAN hanya untuk “Padamu Negeri” dan “Bagimu Negeri” jiwa raga hamba! Itu karena Ahok sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dan, untuk itu semua Ahok telah mempersiapkan diri, seakan dia tahu esok bisa saja kematian akan menjemput dirinya dengan mewasiatkan sepotong kalimat singkat namun mengandung “misteri iman” yang tak terselami oleh jangkauan akal , dari ayat kitab suci yang diimaninya sepenuh tubuh – roh – dan jiwanya, yakni: “MATI ADALAH KEUNTUNGAN!”

Ahok telah siap mental dengan elegan dan jiwa besar untuk beruntung maupun tidak beruntung dalam suksesi di Pilgub DKI Jakarta; untuk memperjuangkan kebenaran yang disembunyikan oleh para konspirator jahat, para oknum penjahat negara di ibu kota negara dan pemerintahan.

***

Ahok.., maklumilah Pilgub DKI Jakarta telah usai, meskipun perhitungan resmi dari KPUD belum usai. Kebenaran resmi yang terlihat kau kalah. Apa kebenaran itu benar? Entahlah! Aku hanya ingin menunggu kebenaran yang belum terlihat. Jawaban tentang itu mungkin ada pada sang waktu.

Sekarang terlihat seperti terjadi “cooling down”, tapi sesungguhnya tidak. Episode drama ini sangat dapat diprediksi akan terus berlanjut. Entah manis, entah pahit cerita lanjutnya. Yang jelas episode awal lanjutannya bahwa kau tak menduga bunga-bunga datang dari segenap warga yang mengagumi kinerja dan bukti-bukti yang telah kau persembahkan bagi ibu kota negara Jakarta.

Bunga-bunga itu datang hanya untuk menghibur dan berterima kasih kepada kau dan Djarot. Bunga-bunga itu datang bukan untuk mengubah kekalahan. Itulah manisnya mengatakan terima kasih dengan bunga. Sayangnya, ya sayangnya… para buruh korban suguhan nasi bungkus dengan demo munafik datang dan marah dan membakar sebagian bunga-bunga itu. Ya, biarlak Hok! Buruh sejati pasti tahu makna bunga. Buruh politis pasti hanya tahu bunga nol persen. Mungkin untuk sementara itulah pahitnya.

Hok.., kami pun melihat dan memahami, kau lelah! Namun ikrar janjimu pada bangsa, negara, dan konstitusi terus membesarkan semangat pengabdianmu dan imanmu menjaga api nyalimu untuk menegakkan KEADILAN dan KEBENARAN demi mensejahterakan warga ibu kota negara yang kau cintai. Kau bangkitkan tegas bahkan keras pada KETIDAKBENARAN para elit, namun kau lembut dan jatuh iba pada KETIDAKADILAN para jelata. Kegigihanmu melawan kemunafikan yang sudah begitu lama tergelar di “panggung” sandiwara negara dan bangsa ini, suka tak suka, itu akan, bahkan mungkin telah menjadi “role model” bagi para pejabat lainnya di persada pertiwi ini. Hingga masyarakat dunia yang haus dan merindukan sosok sepertimu menaruh simpati dukungan padamu. Kami pun bangga padamu!

Oh ya Hok.., seperti sering kau kutip kata-kata bijak dari pepatah kuno Tiongkok, bahwa sebelum empat paku menancap di peti mati, pantang surut memperjuangkan KEBENARAN. Bila empat paku itu pun kelak menancap di peti matimu, maka kau dengan sukacita telah mengatakan, kepada dunia dan kepada yang masih hidup, melalui tulisan yang terukir di nisanmu “MATI ADALAH KEUNTUNGAN”. Bagi siapa? Bagi Sang KEBENARAN itu sendiri, tentunya!

Tapi sudahlah, Hok! Yang penting adalah sekarang, saat kau hidup dan berkarya untuk bangsa-negara ini. Mati itu perkara nanti. Okelah seperti kau katakan bahwa mati adalah keuntungan; dan aku tambah lagi paradoksnya bahwa hidup adalah kerugian. Hok.., jika kerugian itu bisa diibaratkan sebagai kekalahan, sadarlah bahwa kekalahan-kekalahan dalam hidup itu pula yang akan menjadi pondasi kokoh sebuah kemenangan kelak. Itulah misteri kehidupan. Dan Hok, kau adalah salah satu dari misteri hidup iitu!

Ini pesanku untukmu, Hok! Moga-moga cukup bermanfaat…
Tetap punyai nyali untuk mengatakan tidak;
Tetap bernyali untuk memperjuangkan kebenaran;
Tetap lakukan yang benar bahwa itu benar;
Itulah kunci-kunci ajaib untuk menghidupi kehidupanmu dengan kejujuran, tanpa henti!

 

Salam

2 Mei 2017
Mike Oscar

25,577 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa