Partai Komunis Palestina

Share Button

Lenteng Agung–Ideologi Komunis telah berkembang di Timur Tengah sejak pertengahan 1920-an; pada masa ini,  anggotanya terdiri dari orang-orang Yahudi, Arab, Yahudi dan Arab African. Kemudian, mereka membentuk dua Partai Komunis berdasarkan latar belakang etinisitas.
Nama resmi partai ini pun dari dua bahasa, Partai Komunis Palestina, Arab: dan Ibrani atau PKP.

Pada tahun 1923, dua Partai Komunis itu menyatukan diri menjadi Partai Komunis Palestina; dan anggotanya menyebar di Yerusalem Timur, Gaza, West Banks, Sinai, Yordania, negara-negara (baru, yang melepaskan diri dari Ottoman Turki) sekitar Timur Tengah. PKP 1923 mempunyai tujuan awal yaitu  menentang imperialisme Inggris dan mengecam Zionisme. Juga menentang pemukiman Zionis di wilayah-wilayah yang belakangan disebut milik Orang Palestina

Tahun 1924 Partai Komunis Palestina diakui resmi sebagai bagian dari Komunis Internasional; namun cenderung berkiblat ke Uni Sovyet, dan memadukan  pemikiran Marx, Stalin, dan Lenin. Pada masa ini pun, semakin banyak Orang Arab menjadi anggota PKP. Pada 1925, orang-orang yang menjadi anggota PKP Arab, semakin membangun komunikasi dan hubungan erat dengan Komunitas Pekerja Arab Palestina. Bahkan, banyak orang Arab Kristen tertarik dan menjadi anggota PKP.

Sumbangan Kekuatan Politik Partai Komunis Palestina pada Perjuangan Palestina.

Fokus PKP pada rakyat Palestina, yang dimaksud adalah turunan Arab yang pada waktu itu berdiam di Wilayah Israel sekarang, dimulai pada tahun 1930, dengan menambah kader komunis dari kalangan Arab atau pun ‘Asli Palestina.’

Desember 1930, PKP melalui sayap Proletar (Harishima Haproletari) gagal pada pemilihan Majelis Perwakilan Rakyat Yahudi; yang waktu itu kawasan Timur Tengah  dibawah kekuasaan Inggris.

Tahun 1943 PKP terpecah menjadi dua, yaitu Liga Pembebasan Nasional, mayoritas anggotanya adalah Orang-orang Arab; dan Partai Komunis Palestina (1923), kemudian berubah nama menjadi MAKEI, Partai Komunis Eretz Israel. Namun keduanya, PKP atau MEKEI dan LPN mempunyai kesamaan idiologi dan perjuangan yaitu menentang Rencana Pembagian PBB 1947 dalam rangka membentuk (kembali) Negara Israel.

Penolakkan LPN dan MEKEI tersebut menjadi cair, atau mendukung rencana PBB setelah Uni Sovyet menyetujui ‘peta baru’ untuk Negara Israel.

[Note: MAKEI, Partai Komunis Eretz Israel yang pertama kali menggunakan istilah ‘Eretz Israel’ atau Tanah Israel. Selanjutnya digunakan secara umum bahwa ‘Palestina’ itu adalah ‘Eretz Israel’ atau Tanah Israel dan orang-orang Palesetina adalah mereka atau keturunan Arab dan Bangsa lain yang tinggal atau berdiam di Tanah Israel].

Tahun 1948, setelah terbentuk Negara Israel (Baru) dan Perang I antara Aliansi Arab vs Israel, Liga Pembebasan Nasional dan MEKEI kembali bergabung sebagai Partai Komunis Palestina dan kembaranya di Israel, yaitu MAKI atau Partai Komunis Israel. MAKI tetap eksis hingga sekarang; walau minoritas di Parlemen Israel, mereka konsisten memperjuangkan hak rakyat Palestina di Eretz Israel.

Partai Komunis Palestina sempat tidak kedengaran namanya karena bertahun-tahun menyebar dalam berbagai faksi. Salah satu tokoh utama PKP adalah Habash. Tahun 1982, pada suatu pertemuan Komunis Internaional di Moskwa, Habash mendapat dukungan untuk menggerak kembali Partai Komunis Palestina yang ‘mati suri,’ dan tahun 1987 bermitra dengan PLO, serta wakilnya di PLO sebagai anggota Komite Eksekutif PLO. PKP juga merupakan salah satu dari empat komponen utama Intifada. Mereka memainkan peran penting dalam memobilisasi dukungan akar rumput agar bangkit melawan Israel.

MAKI dan PKP, beberapa waktu yang lalu, sama-sama, mengutuk Trump karena pengakuan status Yerusalem. Dan, menurut mereka, Trump telah melancarkan serangan terhadap hak-hak rakyat Palestina serta mengacaukan proses perdamaian antara Israel-Palestina yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Catatan Lucu
Di Indonesia, umumnya, melihat Perjuangan Rakyat   ‘Palestina’ sebagai ‘permasalahan’ penindasan terhadap umat beragama, padahal jauh dari hal tersebut. Kemelut di Palestina adalah paduan banyak hal, termasuk pertarungan pengaruh idiologis, dan komunis termasuk di dalamnya.

Bahkan, merekalah, Partai Komunis Israel dan Partai Komunis Palestina lah yang pertama menggunakan ‘tag line’ membela hak-hak Orang Palestina yang tinggal di Eretz Israel atau Tanah Israel.

So, jika mau membela Palestina, maka janganlah membawa isue-isue agama dan keagamaan.

Janggal rasanya jika Ormas Keagamaan dan para Tokoh Agama ‘mesrah’ dengan Partai Komunis Palestina, hanya karena mereka membela atau berjuang di dan untuk Palestina. Sementara itu, mereka ‘mencaci dan menuding’ sana-sini sebagai Komunis atau pun PKI.

Terpulang pada dirimu.

JAKARTA NEWS| 50 00 25

 

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan