Sekretaris GMIT: Ikatan Darah Lebih Kuat dari Perbedaan

Sekretaris MS GMIT, Pdt Yusuf Nakmofa, M.Th.
Sekretaris MS GMIT, Pdt Yusuf Nakmofa, M.Th.

BATAM – Sekretaris Majelis Sinode Gereja masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt Yusuf Nakmofa, MTh kembali mengingatkan Jemaat GMIT di Batam agar menjadi yang terdepan dalam merawat toleransi antar umat beragama di Kota Batam. Pdt Nakmofa menyampaikan hal tersebut, Minggu (6/11/2016), dalam sambutannya usai ibadah Pemandirian Jemaat GMIT Agape Tengki 1000 Batam sekaligus perhadapan Pdt Romana Noas, STh sebagai Ketua Majelis Jemaat GMIT Agape Tengki 1000 Batam periode 2016-2020.

Pdt Nakmofa memulai sambutannya dengan menitipkan salam kasih kepada Walikota Batam, Muhammad Rudi, SE. MM. Asal tahu, ketika masih menjabat Wakil Walikota Batam, M Rudi lah yang meresmikan dan menandatangani prasasti peresmian gedung kebaktian jemaat GMIT Agape Tengki 1000.

“Titip salam dari Sinode GMIT kepada Pak Walikota Batam yang sangat mendukung kehadiran GMIT di Batam,” ujar Pdt Nakmofa. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Bimas Kristen Batam, PGIW Kepri, jemaat-jemaat di Batam, dan seluruh masyarakat yang mendukung kehadiran jemaat GMIT di Batam.

Pdt Nakmofa yang pernah bertugas sebagai pelayan jemaat di Alor, kembali mengingatkan jemaat GMIT agar senantiasa mengedepankan toleransi antarumat beragama dan tetap mengedepankan persaudaraan. “Apa yang saya alami di Alor, saya temui di Batam. Ikatan darah lebih kuat dari perbedaan,” ujar Pdt Nakmofa.

Dia menyebut Alor secara spesifik, mengingat jemaat GMIT di Batam didominasi oleh masyarakat asal Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Batam berubah, tetapi jangan nilai-nilai toleransi. Kita harus tetap menjaga kebersamaan. Tak usah ke Alor untuk melihat kebersamaan. Cukup lihat warga Alor di Batam saja,” ujarnya, dan menambahkan, “perbedaan buka persoalan, karena dalam Tuhan kita bersaudara.”

Pada kesempatan itu, Pdt Nakmofa berjanji akan mengupayakan pemandirian Pos Pelayanan GMIT Efata Sagulung menjadi jemaat mandiri. “Tahun depan Sagulung diupaytakan menjadi mata jemaat,” katanya.
Bukti kuatnya toleransi terlihat dari penyelenggaraan ibadah pemandirian jemaat dan perhadapan Pdt Romana, hari itu. Para penerima tamu dan pemain musik penyambutan dalam acara tersebut dipercayakan kepada saudara-saudara Muslim.

Sekretaris Umum PGIW Kepri, Pdt. Agripa Selly, STh, MA mengawali sambutannya dengan membuat akronim BATAM. “Batam, bagi Allah tidak ada yang mustahil,” ujarnya.

Pdt Agripa menuturkan, dirinya adalah anak kandung GMIT. Kendati saat ini memimpin sebuah jemaat yang terpisah dari GMIT, dirinya tak bisa terlepas dari GMIT karena berasal dari keluarga anggota jemaat GMIT dan menjalani semua prosesi keimanan di GMIT. “Hati saya mencintai GMIT,” ujarnya.

Pdt Agripa bercerita tentang kuatnya ikatan jemaat GMIT dengan gerejanya. “Saya bertetangga dengan beberapa saudara dali Alor, tetapi mereka tidak ikut kebaktian di gereja saya. Mereka tetap gereja di GMIT,” ujarnya sambil tertawa.

“Satu hal yang saya syukuri adalah GMIT di Batam berkembang luar biasa. Kalau boleh, kita bisa jangkau pulau-pulau, hingga Tanjungpinang, Karimun, dan pulau-pulau lain,” imbuh dia dan berpesan agar Jemaat GMIT ikut aktif dalam pelayanan bersama 32 Sinodal yang berada di bawah PGIW Kepri.

Mengenai Pdt Romana Noas, STh yang ditugaskan sebagai Ketua Majelis Jemaat, Pdt Agripa berpesan kepada jemaat agar mendukung beliau dalam pelayanan. “Yang datang bukan malaikat tetapi manusia. Pasti ada kelemahan. Maka kita harus mendukung Ibu Pendeta.”

Pdt November Obhetan STh, selaku Ketua Majelis Jemaat GMIT  Eklesia Batam (induk Pos Pelayanan Agape), dalam sambutannya menuturkan bahwa Jemaat GMIT Agape Tengki 1000 terbentuk sejak tahun 2004 dan berstatus sebagai Pos Pelayanan. Dalam perjalanannya, jumlah jemaat terus bertambah sehingga timbul pemikiran untuk membentuk jemaat mandiri. Setelah 12 tahun, niat ini akhirnya terwujud di tahun 2016.

Dikatakan, Agape artinya kasih yang tidak menuntut balas. Maka, di dalam pelayanan ke depan, baik para pemimpin di dalam jemaat maupun jemaat sendiri, harus tetap saling mengasihi sesama jemaat maupun dengan masyarakat di lingkungan tersebut.

Kerukunan harga mati

Perwakilan dari Bimas Kristen Protestan, dalam sambutannya mengimbau seluruh jemaat agar menjadikan Batam sebagai kota yang memuliakan Tuhan. Dia menyebutkan bahwa saat ini terdapat 400 gereja dari 89 sinode dan sedikitnya 232 ribu umat Kristen di Kota Batam. Dia mengimbau agar seluruh gereja ikut berperan aktif dalam menjaga kerukunan dan toleransi dalam bermasyarakat. “Kerukunan adalah harga mati, baik intern jemaat, antarjemaat, maupun di masyarakat,” ujarnya.

Dikatakan, Batam memiliki tantangan tersendiri dalam pelayanan. Sehingga gereja harus terus bergandengan tangan dalam melayani. Apalagi di era modern saat ini, dimana banyak faktor sangat memengaruhi kehidupan manusia pada umumnya dan jemaat khususnya. Di samping pengaruh positif, tak sedikit pengaruh negatif dari teknologi, misalnya teknologi komunikasi di era media sosial saat ini. Jemaat diingatkan agar tidak terseret menjadi pengguna narkoba dan tidak terpapar penyakit AIDS akibat pergaulan bebas.

“Pembinaan anak dan remaja sangat penting untuk melindungi mereka dari berbagai efek negatif tersebut,” ujarnya.

Ibrahim, Ketua RT di Tengki 1000, dalam sambutannya mengatakan, hubungan persaudaraan antar warga di Tengki 1000 tak terpisahkan. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk memutuskan ikatan persaudaraan. Alasan ini pula, maka warga setempat, baik Kristen maupun Islam, mampu mendirikan gereja dan masjid secara berdampingan di lokasi tersebut.

Bahkan, kata Ibrahim, pernah ada pihak yang hendak membayar senilai Rp 600 juta agar membongkar gereja itu. “Tetapi saya katakan, dibayar berapapun kami tidak akan terima. Gereja ini harus tetap berdiri agar saudara-saudara kami tetap bisa barbakti dan beribadah.” (eddy mesakh)

4,417 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Share Button