Pelaku Kekerasan Atas Nama Agama, Tak Pernah Mengalami Evolusi Moral

FPI

Menurut teori Evolusi, manusia modern atau homo sapiens ada karena suatu proses perkembangan yang panjang dan dalam rentang waktu lama. Proses  panjang dan lama itu terjadi karena manusia berkembang dari organisme sederhana menjadi makhluk yang relatif sempurna; dan segala sesuatu yang bertalian dengan manusia serta kemanusiaannya juga berkembang karena adanya proses evolusi.

Karena itu, seturut Teori Evolusi, para sosiolog – pemerhati moral dan perilaku, dan ilmuwan sosial lainnya, juga berpendapat (bahkan ada yang sangat yakin bahwa), semua bentuk kejahatan, amoral, kekerasan, kebrutalan, tak beradab, tanpa etika, dan lain sebagainya (yang dilakukan oleh manusia) merupakan sisa-sisa sifat binatang yang ada pada manusia.  Nantinya, (karena manusia terus menerus mengalami perkembangan pada semua aspek) ketika manusia telah berhasil mencapai puncak peradaban, segala sisa-sisa sifat binatang pada dirinya akan hilang atau tak ada.

Sedangkan, menurut Agama-agama serta tokoh dan ilmuwan keagamaan, manusia, alam semesta, dan segala sesuatu adalah hasil ciptaan TUHAN Allah; hasil ciptaan yang penuh dengan  kesempurnaan. Karena kesempurnaan itu, manusia mampu bertambah banyak karena di dalam diri mereka tertanam naluri bertahan hidup serta kemampuan reproduksi. Di samping itu, manusia juga dilengkapi dengan berbagai kemampuan akal budi serta kreativitas, sehingga mampu beradaptasi dengan sikon hidup dan kehidupannya; bahkan menjadikan segala sesuatu di sekitarnya menjadi lebih baik serta memberi kenyamanan padanya.

Dan juga menurut agama-agama, pada sisi, manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna; tetapi, di sisi lain, manusia tak lepas dari berbagai keterbatasan, kelemahan, dan ketidakmampuan.  Karena ada sisi lain tersebut,  maka manusia mudah tergoda oleh Iblis, sehingga mudah berbuat segala bentuk kejahatan.  Atau, semua bentuk kejahatan, amoral, kekerasan, kebrutalan, tak beradab, tanpa etika, dan lain sebagainya (yang dilakukan oleh manusia) merupakan akibat dosa manusia – manusia sebagai makhluk yang berdosa.

Oleh sebab itu, jika manusia (yang beragama), yakin bahwa dirinya ada  serta bereksistensi bukan   karena proses evolusi (yang kasarnya, berasal dari atau turunan  monyet), maka  melainkan hasil ciptaan Sang Pencipta, maka terus menerus berusaha agar menjadi baik, lebih baik, dan selalu baik; sekaligus meniru perilaku Penciptannya.

Jika seperti itu, bagaimana dengan umat (yang katanya) beragama tetapi melakukan kekerasan atas nama agama!?   Seharusnya, sesuai pakem yang ada pada (ajaran) agama-agama, jika seseorang semakin menunjukan bahwa dirinya beragama, beriman, mengikuti ajaran-ajaran agama, maka ia memperlihatkan perilaku mulia, terpuji, serta segala bentuk kebaikan, termasuk mengasihi sesama manusia, sekaligus pembawa damai dan perdamaian.

Sentimen (karena akibat perbedaan ) SARA,  merupakan sumbangan terbesar dalam kerusuhan sosial; biasanya terjadi akibat adanya berbagai gap pada komunitas masyarakat; termasuk umat beragama yang bertindak atas nama agama sebagai penjaga dan polisi moral.  Dalam arti kelompok masyarakat agama melakukan pengrusakan fasilitas umum dan hiburan, karena dianggap sumber maksiat serta melanggar etika dan norma sosial serta agama. Pada sikon ini, ajaran agama dipakai sebagai alat kekerasan oleh orang-orang yang penuh iri hati serta munafik; mereka penuh dengan kebencian dan iri terhadap kemajuan orang lain.

Perilaku pelaku kekerasan atas nama agama seperti itu, sebetulnya telah membuktikan kebenaran Teori Evolusi. Paling tidak, para pelaku tersebut, merupakan hasil evolusi yang masih terus menerus berevolusi.  Karena di/dalam diri mereka masih tersimpan sifat dan perilaku asalinya, perilaku asli sang awal yang darinya mereka berevolusi. 

Jika seseorang mengikatkan diri pada agama dan ajaran-ajaran agma (yang kata kaum agamawan, agama juga berasal dari Sang Pencipta), maka ia harus berperilaku sesuai dengan Penciptanya. Bukan sebaliknya.

Jika, seorang atau kelompok umat beragama, melakukan kekerasan atas nama agama atau sebagai pelaku kekerasan atas nama agama, maka ia telah menunjukan dirinya bukan sebagai ciptaan Sang Pencipta, melainkan sesuatu yang tak pernah mengalami proses evolusi; atau sesuatu yang masih dalam proses evolusi.

Silahkan anda isi apa SESUATU  itu

 

OPA JAPPY | JAKARTANEWS.CO

 

222,380 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa