Pembelaan Ahok | Tetap Melayani Walau Difitnah


Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, membacakan pledoi atau pembelaan terhadap tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Gedung Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 25 April 2017. Berikut pembelaan lengkap Ahok

Tetap Melayani Walau Difitnah

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim Yang Saya Muliakan, Yang Saya hormati Tim Penuntut Umum, Polisi, TNI dan Petugas Pengadilan, Wartawan, Hadirin dan Penasehat Hukum.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan yang diberikan kepada Saya.

Setelah mengikuti jalannya persidangan, memperhatikan realita yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta serta mendengar dan membaca tuntutan penuntut umum yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama, seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini. Terbukti saya bukan penista atau penoda agama.

Saya mau tegaskan, saya bukan penista atau penoda agama. Saya juga tidak menghina suatu golongan apapun.

Majelis hakim yang saya muliakan, banyak tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah bahkan penuntut umum mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini.

Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu, banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya.

Bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu, tidak ada satu pun mempersoalkan, keberatan atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut.

Bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu.

Namun baru menjadi masalah sembilan hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani memposting potongan video pidato saya dengan menambah kalimat yang sangat provokatif.

Barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa sangat terhina padahal mereka enggak pernah mendengar langsung, bahkan tidak pernah menonton sambutan saya secara utuh.

Adapun salah satu tulisan yang menyatakan saya korban fitnah adalah tulisan Goenawan Mohamad.

Stigma itu bermula dari fitnah, Ahok tidak menghina agama Islam tapi tuduhan itu tiap hari dilakukan berulang-ulang. Seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus-menerus diulang akan menjadi kebenaran.

Kita dengernya di masjid-masjid, medsos, percakapan sehari-hari, sangkaan itu sudah bukan menjadi sangkaan tapi menjadi kepastian.

Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, Undang-undang penistaan agama yang diproduksi rezim orde baru sebuah Undang-undang yang batas pelanggarannya enggak jelas. Enggak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinistakan itu.

Alhasil, Ahok dilakukan tidak adil dalam tiga hal. Satu difitnah, dua dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, dan diadili dengan hukum meragukan.

Adanya ketidakadilan dalam kasus ini, tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok.

Majelis Hakim yang saya muliakan, ketika saya memilih untuk mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh untuk mensejahterakan rakyat–otak, perut dan dompet penuh.

Untuk itu, ketika saya memberikan kenangan di Pulau Pramuka, saya mermulai dengan kalimat saya mau cerita ini, biar Bapak lbu semangat.

Dan saya sampaikan, betul sekali saya hanya punya satu niat saja agar warga tebal kantongnya, mau ambil program yang sangat untungkan ini.

“Bapak mau kasih tau melalui pelajaran ikan ini, kalian bisa lihat ngga tadi? Papanya tidak ijinkan Nemo masuk ke jaring ya, jadi jaring tadi, Nemo bisa keluar masuk kan.. Kalau Nemo ngga mau masuk boleh ngga? Boleh juga, buat apa dia membahayakan nyawanya. Dia masuk … coba papanya khawatir, kalau masuk, ikan gitu banyak, bisa kejepit, bisa keangkat. Nah kita hidup di zaman orang-orang itu kadang-kadang berenangnya salah arah .. jadi persis seperti ikan. Yang benar harus berenang ke bawah, tapi semua ikan ikut jaring ke atas. Kalau dibiarkan ikut ke atas ikan-ikan ini ketangkap mati ngga? Jawaban anak-anak mati. Nah bagaimana mereka bisa tau apa yang bener? Nemo yang tahu! Waktu Nemo minta berenang berlawanan arah, kira-kira orang nurut ngga? Ngga nurut.

Jadi sama, kita hidup di dunia ini, kadang kita melawan arus, melawan orang yang ke arah berbeda sama kita, tapi kita tetap lakukan demi menyelamatkan dia. Dia bilang kalau ngga si Dori bisa mati nih, ikan yang biru. Jadi papanya mengikhlaskan, merelakan anaknya untuk masuk. Lalu ketika dia mulai teriak minta tolong Nemo papanya tahu ngga resikonya? Tahu, bisa kejepit mati ikan kecil, lalu begitu terlepas ada ngga ikan yang berterima kasih oleh Nemo yang terkapar pingsan? Tidak ada. Jadi inilah yang harus kita lakukan.

Sekalipun kita melawan arus semua, melawan semua orang berbeda arah kita harus tetap teguh, semua tidak jujur ngga apa-apa, asal kita sendiri jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan lah yang menghitung untuk kita, bukan orang.

Nah, ini pelajaran dari film ikan Nemo. Jadi bukan soal ketangkap ikannya itu tadi. Jadi orang tanya sama saya kamu siapa saya bilang saya hanya seorang ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, seperti itu. Ini pelajaran untuk kita, lalu disambut  tepuk tangan anak-anak.

Majelis hakim yang saya muliakan, sambutan tepuk tangan anak-anak kecil di akhir cerita saya tersebut memberi saya penghiburan dan kekuatan baru untuk terus berani melawan arus menyatakan kebenaran dan melakukan kebaikan sekalipun seperti ikan kecil Nemo dilupakan, karena saya percaya di dalam Tuhan segala jerih payah kita tidak ada yang sia-sia.

Tuhan yang melihat hati mengetahui isi hati saya, saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan, walaupun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya, saya akan tetap melayani dengan kasih.

Majelis hakim yang saya muliakan, saya bersyukur karena dalam persidangan ini saya bisa menyampaikan kebenaran yang hakiki, dan saya percaya majelis hakim yang memeriksa perkara ini, tentu akan mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang muncul dalam persidangan ini dimana penuntut umum mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan terhadap agama, seperti yang dituduhkan pada saya selama ini, dan karenanya saya tidak terbukti sebagai penista penoda agama.

Berdasarkan hal tersebut di atas haruskah masih dipaksakan bahwa saya menghina satu golongan padahal tidak ada niat untuk memusuhi atau menghina siapapun, dan tidak ada bukti bahwa saya telah mengeluarkan perasaan atau mengeluarkan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan atau penghinaan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap agama, atau penghinaan terhadap satu golongan.

Saya berkeyakinan bahwa majelis hakim akan memberikan keputusan yang menjungjung tinggi kebenaran dan keadilan, karena mengambil keputusan demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Majelis hakim yang saya muliakan, demikian nota pembelaan ini saya buat untuk mematahkan semua tuduhan dan fitnah atas sambutan saya selaku Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 dengan maksud mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program budidaya ikan kerapu berdasarkan Pasal 31 Undang-undang Pemerintah Daerah.

Jakarta, 25 April 2017. Hormat saya, Ir Basuki Tjahaja Purnama MM.

 

Opa Jappy | Jakarta News

202,720 kali dilihat, 20 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa